Menemukan Kembali Sejarah Psikologi: Wawancara dengan Kurt Danziger



Gambar: https://ahp.apps01.yorku.ca/tag/kurt-danziger/




Adrian C. Brock
University College Dublin

Kurt Danziger adalah seorang sarjana senior yang memiliki kontribusi inovatif dalam sejarah psikologi dan mendapat pengakuan internasional secara luas. Wawancara ini memiliki cakupan luas, meliputi setiap aspek pekerjaan Danziger sejak tahun 1970-an, sejarah awal karyanya tentang Wundt, karyanya tentang metode psikologi yang mencapai puncaknya dalam buku Constructing the Subject (1990), dan karya terbarunya tentang objek psikologis dalam Naming the Mind (1997). Tulisan ini juga mencakup pemikirannya tentang sejarah psikologi secara umum dan subjek terkait psikologi sejarah. Pewawancara adalah mantan murid Danziger dan co-editor dari buku terbaru tentang karya Danziger.

Kurt Danziger adalah seorang sarjana senior yang memiliki kontribusi inovatif dalam sejarah psikologi dan mendapatkan pengakuan internasional secara luas. Denziger lahir di Jerman pada tahun 1926. Pada usia 11 tahun ia bermigrasi ke Afrika Selatan. Setelah menerima gelar sarjana dari jurusan Kimia dan Psikologi di Universitas Cape Town, ia melanjutkan studinya ke Institut Psikologi Eksperimental di Universitas Oxford, Inggris. Ia menggunakan standar psikologi eksperimen pada tahun 1940, yaitu tikus laboratorium (Danziger, 1953). Setelah menyelesaikan program doktornya, ia bergabung dengan Universitas Melbourne di Australia. Di sana ia memperdalam psikologi perkembangan dan mempelajari bagaimana pemahaman anak-anak tentang hubungan sosial (Danziger, 1957).

Pada tahun 1954, Danziger pindah kembali ke Afrika Selatan dan memilih psikologi sosial sebagai bidang penelitian utamanya. Setelah dua tahun menjadi profesor tamu di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia, Danziger kembali ke Afrika Selatan sebagai kepala bidang Psikologi di Universitas Cape Town. Di sana ia melakukan beberapa penelitian inovatif yang terinspirasi dari sosiologi pengetahuan (Danziger, 1963). Sampai artikel ini dituliskan, penelitian-penelitian tersebut masih menjadi rujukan dan terus dilanjutkan oleh peneliti-peneliti setelahnya (misalnya Du Preez, Bhana, Broekmann, Louw, & Nel, 1981; DuPreez & Collins, 1985; Finchilescu & Dawes, 1999; Nelson, 1992). 

Waktu Danziger di Cape Town dan keberangkatan terakhirnya dari Afrika Selatan ditandai oleh penentangannya terhadap kebijakan apartheid yang sedang ditegakkan dengan meningkatnya kekerasan dan kebrutalan. Kubu oposisi yang aktif tersebut, baik di dalam maupun di luar lingkungan akademik, bahkan menjadi ancaman dan ajang pembalasan (dendam) terhadap kebijakan negara yang represif. Danziger meninggalkan Afrika Selatan menuju Kanada pada tahun 1965 dan dilarang kembali sampai runtuhnya sistem lama, setelah tahun 1990.

Danziger mengambil sumpah sebagai profesor Psikologi di Universitas York, Toronto, Kanada, dan terus mendalami psikologi sosial. Karyanya pada masa itu adalah buku Socialization (Danziger, 1971) dan monograf Interpersonal Communication (Danziger, 1976), keduanya diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Danziger memiliki ketertarikan yang konsisten terhadap sejarah psikologi dan mulai melakukan studi intensif terhadap sumber-sumber primer pada awal tahun 1970-an. Dia menjadi sangat tertarik dengan karya Wundt.

Pada masa psikologi “Centennial”, yang ditandai pembentukan laboratorium Wundt pada tahun 1879, Danziger menerbitkan sejumlah bab dan artikel yang berkaitan dengan topik tersebut (Danziger, 1979a). Namun, selama tahun 1980-an, ia menjadi semakin tertarik dengan sejarah metode penelitian psikologi (Danziger, 1985). Ketertarikan ini memuncak pada karya Denziger yang terkenal, yaitu Constructing the Subject: Historical Origins of Psychological Research (Danziger, 1990). Danziger juga tertarik pada sejarah konsep dan kategori psikologis, dan dalam bukunya yang terbaru, Naming the Mind: How Psychology Found Its Language (Danziger, 1997), ia menelusuri asal-usul historis konsep psikologi modern, seperti perilaku, kecerdasan, sikap, kepribadian, dan motivasi.  Ia telah melanjutkan pekerjaan tersebut dan saat –artikel ini ditulis- ini sedang menulis sebuah buku sejarah mengenai konsep ingatan pada era klasik. Beberapa karyanya terkait topik tersebut sudah diterbitkan (Danziger, 2001; 2002).

Pada tahun 2004, edisi revisi Rediscovering the History of Psychology: Essays Inspired by the Work of Kurt Danziger diterbitkan (Brock, Louw, & van Hoorn, 2004). Buku tersebut berisi tulisan-tulisan oleh sejarawan psikologi terkemuka dari Amerika Utara, Eropa, dan Afrika Selatan, yang diberi catatan kritis pada setiap bab oleh Kurt Danziger. Buku ini direkomendasikan bagi mereka yang tidak akrab dengan karya Kurt Danziger (Brock, 2004). Buku tersebut juga mencatat secara komprehensif bibiliografi publikasi Danziger dari tahun 1951 hingga 2003.

Wawancara ini dilakukan di rumah Kurt Danziger di Toronto, Kanada, pada 12 dan 14 Agustus 2003. Atas permintaan Kurt Danziger, wawancara difokuskan pada karyanya daripada hidupnya atau perkembangan pemikirannya. Tulisan wawancara ini akan tercakup lebih rinci dalam kumpulan artikel buku berjudul An Alternative History of Psychology in Autobiography yang saat ini sedang dipersiapkan. Proses wawancara berlangsung sekitar 90 menit dan direkam dalam dua kaset berdurasi 60 menit. Rekaman tersebut kemudian ditranskripsi oleh Ciara'n McMahon, seorang mahasiswa pascasarjana di Universitas College, Dublin. Selanjutnya, Adrian C. Brock memeriksa transkripsi dan mengonfirmasi ketepatan transkripsi tersebut kepada Kurt Danziger untuk mendapatkan persetujuan akhir. 

Saya ingin memulai dengan menanyakan apakah karya Anda tentang sejarah psikologi berkaitan dengan pengalaman Anda sebelumnya di Afrika Selatan.

Sejarah adalah subjek penting di Afrika Selatan, dan ia adalah subjek yang kaya. Secara sosiologis, masyarakat Afrika Selatan adalah masyarakat yang sangat terpecah. Mereka adalah masyarakat yang berada di bawah ancaman dan, dengan sendirinya, merasa dirinya berada di bawah ancaman. Akhirnya ancaman menjadi realitas yang sangat serius dan berimbas pada perubahan sosial. Sepanjang abad ke-20, sejarah di Afrika Selatan telah dimobilisasi untuk melegitimasi, pertama-tama penindasan rasial, dan selanjutnya upaya untuk mengadvokasi reformasi. Jadi pada saat saya menjadi mahasiswa, ada dua jenis sejarah, dan saya sangat sadar akan hal itu. Pertama, yang lebih tua, sejarah konservatif berasumsi bahwa antagonisme rasial adalah bagian dari tatanan alam dan bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan atau dijelaskan. Namun, sejarah tersebut telah diganti sejak tahun 1930-an oleh sejarawan yang lebih liberal. Dengan demikian, masalah berbalik dan terarah pada pertanyaan bahwa prasangka ras merupakan masalah yang asal-usulnya harus dijelaskan secara historis, bukan sekadar bagian dari tatanan alam.

Pernahkan Anda melihat bahwa sejarah adalah sebuah laporan faktual yang sederhana?

Pengalaman sejarah saya yang paling awal bukanlah semacam cerita Rankean tentang fakta sejarah yang definitif. Sejarah merupakan wilayah yang selalu diperebutkan. Wajar jika terbuka akan penjelasan alternatif di mana penjelasan tersebut sangat erat berhubungan dengan agenda saat ini. Ketika psikologi sosial berada di awal permulaannya di Afrika Selatan, karya klasik tentang prasangka ras muncul di sana pada tahun 1930-an. Itu merupakan studi psikologi sosial yang berdasarkan pada administrasi skala sikap. Namun, itu juga didahului oleh cerita sejarah yang panjang. Data psikologis tersebut dijelaskan secara historis, dalam kerangka kerja yang baru-baru ini diperkenalkan oleh gelombang pertama sejarawan liberal Afrika Selatan.

Buku mana yang Anda maksud di sini?

Penulis buku tersebut adalah J. D. MacCrone, seorang profesor Psikologi di Universitas Witwatersrand di Johannesburg. Buku tersebut adalah salah satu dari sedikit karya indigenous psychology di Afrika Selatan dan semua orang yang pernah belajar atau mengajar psikologi pasti sudah mengenalnya. Demikian, mengaitkan penyelidikan empiris terhadap sikap ras dengan pandangan psikologi sosial dengan interpretasi sejarah yang liberal bukanlah sepenuhnya hal yang aneh di Afrika Selatan. MacCrone menghabiskan beberapa waktu di Amerika Serikat dan memeroleh sebagian tujuan penelitiannya di sana, yaitu mencari adanya interaksi antara kondisi lokal tertentu dan pengaruh asing.

Mungkin itu adalah penyebab konflik sosial yang membawa banyak orang menempatkan sejarah pada tempat yang pertama.

Saya melihat ini terkait dengan salah satu perbedaan antara sejarah dan antiquarianisme. Banyak yang menyebut “sejarah” benar-benar antiquarianisme, padahal antara keduanya cukup berbeda. Ada banyak orang yang memiliki ketertarikan antiquarianisme dalam sejarah, dan itu tidak menjadi masalah. Namun, jika tak ada ketertarikan[P12]  pada konflik sosial, dalam menentang kekuatan dan interpretasi, biasanya mengarahkan ke pemahaman dangkal di mana pertanyaan yang benar-benar historis tentang bagaimana dan mengapa hal-hal menjadi seperti itu tidak pernah muncul.

Salah satu hal yang selalu menarik saya ke dalam sejarah adalah daya jangkaunya, sehingga dapat berhubungan dengan generasi sebelumnya yang sudah mati dan pergi, yang meninggalkan jejak kehidupan lampau mereka.

Saya pikir dalam hal membenarkan penelitian sejarah, itu harus menjadi pertimbangan yang utama. Telah diakui bahwa secara potensial manfaat utama dari penelitian atau karya sejarah adalah berkenalan dengan, dan [semoga] dapat memahami tentang peristiwa atau generasi lain. Bagi saya, ciri khas dari sejarah yang buruk adalah sejarah yang memberitahu kita bahwa masa lalu sama seperti saat ini, bahwa tidak ada nilai di dalamnya. Nilai sejarah terletak pada kembali ke masa lalu untuk menemukan hal-hal yang berbeda dari sekarang, untuk menemukan cara-cara berbeda dalam melakukan berbagai hal dan berbagai cara memahami dunia. Itu adalah cara membenarkan sosok seperti Wundt dalam sejarah psikologi. Memang ada beberapa ketersambungan antara apa yang Wundt lakukan dengan apa yang dilakukan para peneliti kemudian, tetapi inti utama dari karya Wundt, baik teoretis maupun praktis, adalah hal lain dari apa yang sebaiknya kemudian dikembangkan dalam psikologi pada abad ke-20. Inilah yang membuat Wundt menarik, bukan sekadar meneruskan benang kecil antara laboratoriumnya dengan laboratorium kemudian, melainkan mencermati gap yang menganga antara ide-idenya tentang psikologi dan apa yang terjadi kemudian.

Sejarah dapat menunjukkan kepada kita alternatif untuk status quo, tetapi dari sudut pandang kontekstualis, apakah realistis untuk mengharapkan bahwa alternatif tersebut dapat berlaku juga dari satu ruang dan waktu ke ruang dan waktu yang lain?

Apabila sejarah benar-benar cara untuk mengenal yang lain, sejarah akan menjadi cara untuk membuka alternatif. Tetapi kita harus ingat bahwa ini adalah alternatif yang kontrafaktual. Kita harus mengajukan pertanyaan: “Mengapa cara ini dan bukan dengan cara lain?” Cara melakukan penelitian ini adalah dengan menentukan alternatif nyata pada satu waktu, sebelum disiplin (yang dipelajari) mengarah ke arah yang berbeda. Pertanyaan semacam itu dapat dijawab sejauh mungkin melalui penyelidikan historis. Saya tidak mengatakan bahwa kita akan mendapatkan jawaban yang terakhir. Namun, jika kita mendapatkan beberapa poin dari mempelajari hal tersebut, kita dapat memiliki pemahaman yang lebih baik tentang mengapa kita berakhir di sini dan kemungkinan perubahan apa yang mungkin atau tidak mungkin ada.

Saya telah mendengar beberapa orang mengklaim bahwa ada kontradiksi di dalam karya Anda, bahwa Anda mencoba untuk mengidentifikasi determinan sosial dari psikologi dan belum percaya bahwa kita dapat memiliki jenis psikologi yang berbeda, bahkan jika masyarakat tidak mengalami perubahan. Tanggapan saya merujuk kepada artikel Anda, “Apakah sejarah psikologi memiliki masa depan?” di mana Anda menunjukkan bahwa psikolog jangan berbicara dalam satu kesatuan. Marjinalisasi atas kelompok tertentu menyediakan konteks sosial untuk kritik mereka terhadap psikologi mainstream.

Saya membuat catatan di artikel itu bahwa ada perbedaan ukuran moral di antara ilmuwan eksperimen dengan sejarawan. Saya mengatakan bahwa sejarawan yang baik tidak bisa mengambil kepastian moral dalam suatu komunitas ilmiah begitu saja, melainkan harus mempertanyakan dasar historis mereka. Demikian mengarah pada pertanyaan, “Bagaimanakah masa depan dari sejarah psikologi?” dan mungkin itu bukanlah hal populer bagi beberapa psikolog. Di bagian akhir makalah itu, saya beralih ke pertanyaan tentang kondisi sosial seperti apa yang mungkin mendukung kelanjutan sejarah psikologi yang lebih kritis. Saya menunjukkan bahwa psikologi bukanlah bidang yang homogen dan statis. Saya melihat bahwa di dalam tiap-tiap disiplin keilmuan ada kelompok-kelompok dan kecenderungan yang terpinggirkan oleh arus utama. Sebagai contoh, saya menyebutkan para psikolog feminis. Saya menyebutkan pertumbuhan psikologi di luar negara-negara maju. Ada psikologi yang terpinggirkan dan juga memiliki minat yang berbeda dari psikologi arus utama. Psikologi komunitas hanyalah salah satu contohnya. Mengambil disiplin yang lebih luas, saya menyarankan bahwa memang sebaiknya ada basis sosial yang khas dalam disiplin keilmuan untuk memperolah sejarah yang lebih kritis.

Dapatkah kaum minoritas yang terpinggirkan ikut memberikan sumbangan terhadap kebutuhan sejarah-kritis psikologi? 

Sejarah psikologi yang lebih kritis sedang didalami oleh individu-individu yang tidak memiliki afiliasi profesional tentang psikologi, melainkan mereka yang berafiliasi dengan sejarah atau sejarah ilmu. Seseorang mungkin bertanya: “Mengapa seseorang yang memiliki afiliasi profesional dengan psikologi mesti berkutat dengan sejarah? Mengapa tidak diserahkan saja pada sejarawan keilmuan profesional, sebagaimana dengan ilmu-ilmu fisik?” Pertama-tama, ada argumen praktis bahwa jumlah sejarawan sains yang juga mendalami psikologi sangat kecil, dan saya yakin akan menjadi prioritas utama dalam disiplin itu. Poin lainnya adalah bahwa ada pembagian kerja tertentu. Saya tidak yakin bahwa sejarawan-psikolog dapat atau harus bersaing dengan sejarawan profesional dalam hal bagaimana menangani kompleksitas kondisi sejarah. Kita harus selalu merujuk pada para sejarawan sebagai orang yang mampu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan kompleksitas sejarah. Di sisi lain, saya pikir orang-orang yang memiliki dasar psikologi dan kemudian masuk ke dalam sejarah memiliki keuntungan lebih dari sejarawan profesional, di mana mereka biasanya memiliki pengalaman langsung, seperti tentang melakukan penelitian psikologis atau terlibat dalam praktik profesional. Mereka akan tahu seperti apa dari dalam, seiring pengalaman mereka selama bertahun-tahun. Mereka berada dalam posisi, setidaknya berpotensi untuk berkomunikasi dengan sesama psikolog di mana para sejarawan professional tidak dapat melakukannya. Para sejarawan profesional akan selalu menghadapi hambatan tertentu, didasari pengalaman teknis, yang akan membuatnya sulit untuk berbicara dengan psikolog dengan bahasa yang tepat.

Psikologi dibagi ke dalam area atau spesialisasi, dengan sejarah psikologi adalah juga bagian dari itu. Ini tentu saja menjadi masalah dalam menafsir sehingga sejarawan psikologi sebaiknya mencoba berkomunikasi dengan ahli psikologi. 

Sudah sering ditunjukkan bahwa cara yang baik untuk membuat ide-ide yang berpotensi subversif tidak berbahaya adalah dengan memisahkan mereka ke dalam semacam ghetto. Namun, itu adalah sesuatu yang harus ditentang. Pengelompokan psikologi adalah fakta yang harus dikenali, dan itu adalah sesuatu yang harus dipertimbangkan oleh sejarawan psikologi dengan mengkhususkan diri dalam bidang mereka sendiri. Ada karya yang sangat baik tentang sejarah psikologi perkembangan dan sejarah psikologi sosial, yang beberapa di antaranya muncul baru-baru ini, yang telah berkontribusi pada bidang-bidang sejarah. Karya sejarawan psikologi harus fokus pada bidang mereka masing-masing. Saya pikir itu bukan hal yang buruk. Salah satu mitos historis yang harus digali oleh sejarawan, dan harus mengeksplorasi legenda historisnya, adalah bahwa psikologi dikenal sebagai satu kesatuan disiplin keilmuan. Itu akan menjadi topik sejarah yang sangat menarik: “Darimana mana legenda tersebut berasal secara khusus dan apa yang menyebabkannya berubah?” Salah satu persyaratan dasar untuk mempelajari sejarah psikologi yang memadai adalah bahwa seharusnya hal itu tidak dipelajari sebagai kecenderungan satu kesatuan sejarah, sebagai “psikologi”. Mempelajari psikologi pada dasarnya mempelajari sejarah tentang bagaimana objek psikologis dibentuk. Studi historis tentang psikologi menduplikasi pengelompokan psikologi yang kita temukan dalam realitas kontemporer.

Akankah Anda mengatakan bahwa dalam buku Anda, Naming the Mind, Anda sedang memeriksa sejarah subdisiplin psikologi tertentu, seperti tentang belajar, motivasi, kepribadian, kecerdasan?

Istilah-istilah tersebut merujuk pada apa yang saya sebut sebagai objek psikologis. Ketika mereka menggunakan kategori identifikasi tertentu untuk menggambarkan fenomena psikologis, psikolog secara diskursif membangun fenomena tersebut sebagai jenis objek tertentu yang ada di dunia nyata. Jadi fenomena, di mana orang-orang dari latar belakang berbeda mungkin mengklasifikasikan dan mengidentifikasi dengan cara yang sama sekali berbeda, misalnya pembelajaran, perilaku termotivasi, sikap, dan sebagainya, adalah contoh untuk orang yang ingin mengenali fenomena tersebut, seturut dengan kategori psikologis terdahulu.

Anda telah menulis bahwa kemungkinan penerjemahan objek-objek psikologis ke dalam realitas adalah sebuah pertanyaan empiris. Anda dengan jelas melihat peran penting tersebut dan menjadikannya bukti dalam karya Anda sendiri.

Pertama-tama, dalam pengertian yang sangat umum, sejarah adalah sesuatu di mana semua manusia memiliki kesamaan di dalamnya. Apa pun yang digunakan manusia secara praktis atau intelektual, yang telah terwujud, memiliki sejarah dan juga masa depan. Apa yang kita lihat adalah peristiwa yang sementara, irisan waktu dalam sejarah atau sesuatu lainnya. Jadi dalam mengeksplorasi, menjelaskan, dan menginterpretasikan rangkaian waktu sebuah fenomena, kita membicarakan sesuatu yang sangat mendasar tentang fenomena tersebut. Kedua, pencarian bukti, eksplorasi bukti, interpretasi dan pemahaman bukti, seperti hal lain, merupakan lintasan sementara. Kita tidak dapat mengharapkan bahwa apa pun yang dikatakan sekarang merupakan jawaban final, tetapi kita dapat mengharapkan suatu jawaban lebih baik daripada yang lain, pada titik di mana kita memiliki pengetahuan akan segala sesuatu tersebut. Dan itulah yang terbaik yang bisa kita lakukan, yang jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

Saya berharap bahwa ini berdampak kepada apa yang disebut sebagai “revisionism” dalam sejarah.

Ada beberapa diskusi yang sangat menarik tentang implikasi dari menafsirkan ulang sejarah akhir-akhir ini, dan salah satu penyumbang diskusi itu menunjukkan bahwa, untuk kegiatan manusia yang terorganisasi sepanjang waktu, penilaian atas apa yang terjadi pasti akan berubah seiring waktu. Ini mengacu pada analogi sebuah permainan, katakanlah permainan sepak bola. Ketika permainan sedang berlangsung, Anda dapat melihat bahwa sebuah gol sedang dicetak, tetapi apa yang kemudian tidak bisa Anda lihat, atau tidak bisa katakan, adalah bahwa itu bisa jadi adalah sebuah gol kemenangan. Permainan harus berjalan sebelum penilaian itu bisa ditentukan. Serupa itu, sekarang kami sedang membuat penilaian tentang game yang sedang berlangsung. Permainan belum berakhir, dan kami mencoba membuat penilaian terbaik yang dapat kami lakukan di tengah-tengah pertandingan.

Beberapa orang terkejut ketika saya memberi tahu mereka bahwa Anda mengidentifikasi dengan realisme filosofis. Bisakah Anda menjelaskan bagaimana hal itu sesuai dengan sudut pandang sosiologis atau konstruksi sosial Anda?

Untuk terus menggunakan analogi permainan, fakta bahwa interpretasi atas apa yang terjadi selama kurun tertentu dalam sebuah permainan selalu berubah, sedang berlangsung seiring berjalannya waktu, dan munculnya bukti berikutnya, tidak akan membuat orang menyimpulkan bahwa tidak ada permainan! Tentu saja ada permainan, dan itu adalah fakta bahwa memang ada permainan yang mengarah pada penafsiran ulang dengan adanya bukti baru yang semakin terang. Psikolog membangun objek mereka, hal-hal yang mereka ambil sendiri untuk diselidiki. Namun, mereka juga merekonstruksinya. Artinya, mereka mengubah definisi mereka tentang obejk-objek itu. Mereka bahkan tak jarang mengabaikan objek-objek tertentu dan menciptakan objek-objek baru. Itu tidak berarti bahwa tidak ada objek. Pertanyaan yang menarik adalah terkait ketepatan objek-objek yang diwujudkan ke objek nyata, yang saya tidak menyangkal tentu memang ada. Ini kemudian menjadi pertanyaan terkait strategi. Pendekatan empiris normal berguna untuk mengasumsikan bahwa cara kita membangun objek tertentu memang sesuai dengan objek yang sebenarnya. Dengan kata lain, peneliti ​​harus “terpaksa” mengeliminasi keraguan. Pandangan empiris-naif memaksa peneliti menghilangkan keraguan karena mereka tidak melihat adanya keraguan. Kami tidak bisa menyalahkan mereka. Namun, sejarawan seharusnya tahu bahwa ada beberapa keraguan. Satu-satunya cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih baik adalah dengan tidak memaksa peneliti menghilangkan keraguan kecuali dengan mengatakan, “Ini memanglah sebuah objek yang sudah tersusun dan saya akan mempelajari bagaimana ini disusun.” Selanjutnya, kita dapat mengajukan pertanyaan “Apa yang masih bisa dilakukan dari kemungkinan menghubungkan antara objek yang telah tersusun dengan sesuatu yang di luar itu di dunia nyata?” Saya tidak mengadopsi pandangan Kantian bahwa dunia objek nyata adalah dunia “noumena” yang tidak pernah bisa diketahui. Saya cukup siap untuk menyetujui bahwa sesuatu tentang dunia itu dapat diketahui. Ini adalah proses yang sangat lambat, sebuah proses yang terbukti memiliki lorong-lorong gelap tak terhitung banyaknya dan kemungkinan jalan yang menyesatkan, tetapi saya optimis untuk melakoni itu dalam jangka panjang.

Salah satu perhatian utama Anda adalah untuk menunjukkan pandangan yang populer dan ilmiah tentang "fitrah manusia" –atau apa pun kita ingin menyebutnya –yang telah  "dibuat" untuk melayani tujuan sosial tertentu. Menurut Anda mengapa penting untuk menunjukkan ini?

Biarkan saya kembali ke contoh Afrika Selatan yang telah saya jelaskan sebelumnya. Di sana ada klaim bahwa antagonisme rasial–yang hampir tidak diakui sebagai “prasangka rasial”–adalah bagian dari tatanan alam. Bahwa itu adalah hal yang memang seharusnya seperti itu. Doktrin itu, bagaimanapun, merupakan bagian dari tatanan sosial yang didasarkan pada penindasan dan eksploitasi oleh masyarakat mayoritas. Jika masyarakat benar-benar percaya pada doktrin tersebut, kecenderungannya adalah menerima doktrin tersebut sebagai sesuatu yang tak terhindarkan, sesuatu yang akan selalu demikian. Maka akan dikira bahwa antagonisme rasial ini adalah sesuatu yang "dibuat" dalam arti tertentu. Dan itu adalah citra "kejam", kekejaman yang memang seharusnya ada. Padahal itu adalah sesuatu yang tidak begitu banyak dalam tatanan alam, tetapi dalam tatanan sosial. Oleh karenanya itu adalah konstruksi sosial. Demikian, pandangan tersebut akan membebaskan semua pihak yang memang peduli, akan membebaskan kelompok dominan terhadap prasangka mereka sendiri, dan tentu saja, membebaskan kelompok yang tertindas. Bagaimanapun juga, bahwa pengkastaan yang digunakan dalam konteks sosial tertentu, bukanlah pengkastaan alami, melainkan kasta yang dibuat-buat–secara sosial–membebaskan orang dari potensi tirani yang dapat dikerjakan oleh kategori-kategori tersebut. Dalam sains, kasta yang mendapatkan pengakuan dapat melakukan semacam tirani yang mencegah peneliti untuk merumuskan ulang permasalahan dan melakukan pendekatan dari perspektif yang berbeda.

Seberapa besar perbedaan yang dapat diharapkan oleh sejarawan psikologi?

Saya pikir gagasan bahwa pengaruh sosial selalu memiliki efek yang langsung terlihat adalah ilusi. Biarkan saya kembali ke pengalaman Afrika Selatan lainnya. Selama hampir tiga dekade, saya tidak dapat kembali ke Afrika Selatan. Ketika saya kembali untuk pertama kalinya, sama seperti semua perubahan besar yang terjadi, saya menemukan sesuatu yang sangat mencolok, dan itu mengejutkan saya. Saya selalu berpikir bahwa motor bagi perubahan sosial yang radikal adalah politik, ekonomi, atau bahkan militer. Namun, apa yang saya amati ketika kembali adalah bahwa, selama bertahun-tahun, jelas ada akumulasi perubahan pada tiap menit. Dan itu adalah aksi perlawanan kecil yang tak terhitung jumlahnya setiap hari. Itu bisa dilihat dari bagaimana cara orang berinteraksi dengan cara yang berbeda di luar kelompok rasial mereka, bagaimana interaksi di jalan-jalan dan sangat pasti di toko-toko. Misalnya, bagaimana cara pembeli dari kelompok ras yang termarginalkan diperlakukan di sebuah department store, di bengkel, dan sebagainya. Ada semacam gelombang perubahan. Itu adalah perubahan yang sebenarnya terjadi sebagai tindakan perlawanan kecil yang tak terlihat dari hari ke hari oleh orang-orang biasa, yang tidak menganggap diri mereka sebagai “politisi.” Itu mengajari saya bahwa seseorang tidak boleh meremehkan pentingnya perubahan kecil dan seringkali tak terlihat. Dalam jangka panjang, mereka mungkin lebih berarti daripada konflik spektakuler yang mengisi halaman-halaman surat kabar.

Anda mengatakan bahwa latar belakang Afrika Selatan Anda mengarahkan pada kesadaran awal tentang sejarah sebagai bidang yang kontroversial dan sangat ideologis. Adakah hal lain terkait bagaimana latar belakang itu memberi Anda perspektif terkait psikologi, yang mungkin tidak dimiliki oleh rekan-rekan Anda dari Amerika Utara?

Menemukan diri saya tiba-tiba teralihkan dari masyarakat Afrika Selatan ke masyarakat Amerika Utara merupakan hal yang mencolok bagi saya. Salah satu hal yang mengejutkan saya sejak awal adalah signifikansi luar biasa yang tampaknya dimiliki oleh sebagian besar psikolog Amerika Utara dalam profesionalisme mereka. Dari mana saya berasal, ada banyak orang, termasuk saya sendiri, dalam identifikasi profesional memiliki peranan yang sangat rendah. Sumber identitas sosial seseorang dilihat dari aspek lain, misalnya identifikasi politik dan yang lebih umum adalah “profesionalitas” akademik. Penindasan bukan hanya penindasan rasial. Ada buku-buku, termasuk buku-buku akademis, yang dilarang. Polisi keamanan politik juga beroperasi di kampus. Seseorang sangat sadar akan hal itu, terutama dalam ilmu sosial. Mendiskusikan ide atau kekuatan yang dianggap menyimpang dapat menyebabkan reaksi serius. Jadi, sumber untuk identitas seseorang tidak terlalu berkaitan dengan menjadi seorang psikolog.

Siapakah intelektual atau bidang intelektual apakah yang paling memengaruhi Anda?

Di Universitas Cape Town, tempat saya menempuh pendidikan sarjana, penekanannya adalah pada filsafat moral dan sosial. Maka kesana pulalah minat saya mengarah. Pada tingkat awal, saya tertarik kepada idealisme Jerman klasik, terutama aliran Kant dan Hegel. Pada tahap selanjutnya, saya menemukan tulisan-tulisan dari Sekolah Frankfurt—Adorno, Horkheimer, dan kemudian Habermas—dan menyadari bahwa mereka sangat menyenangkan. Pada tingkat selanjutnya, saya tertarik dengan sosiologi Jerman, khususnya karya Karl Mannheim tentang sosiologi pengetahuan.

Apakah setelah kepindahan Anda ke Amerika Utara Anda juga mendapatkan lebih banyak pengaruh intelektual?

Setelah datang ke Amerika Utara, saya terkena pengaruh lain. Karena ketertarikan saya pada lembaga-lembaga profesional, saya mulai membaca lebih luas tentang sejarah, sosiologi, dan filsafat ilmu. Saya baru tiba di Amerika Utara pada tahun 1965, ketika buku Thomas Kuhn tentang revolusi ilmiah muncul tiga tahun sebelumnya. Banyak hal yang saya pelajari dari buku itu. Misalnya tentang bagaimana upaya para sosiolog sains pada tahun 1970-an untuk masuk ke laboratorium guna mempelajari asal-usul pengetahuan ilmiah, dan bagaimana mereka benar-benar mendalaminya, membuat saya terpesona.

Saya dapat melihat bagaimana itu pada akhirnya sesuai dengan minat Anda sebelumnya pada sosiologi pengetahuan.

Itu adalah semacam sosiologi pengetahuan atau lebih tepatnya, ilmu pengetahuan mikro. Waktu itu adalah, pada akhir tahun 1970-an, ketika saya melihat literatur Wundtian. Sebagian karena latar belakang saya sebagai seorang psikolog sosial dan sebagian karena saya mulai terbuka terhadap sosiologi ilmu, saya tidak sekadar mempelajari teks-teks teoretis Wundt, seperti Grundzüge dan Logik, tetapi juga mempelajari laporan eksperimentalnya dalam Philosophische Studien. 

Itu menuntun kita dengan baik ke dalam gagasan tentang "praktik" dan apa pentingnya sebagaimana dalam karya Anda. Mungkin cara terbaik untuk memahami topik tersebut adalah dengan menanyakan apa yang sebenarnya Anda maksud dengan istilah tersebut?

Tidak seperti kebanyakan profesional yang lain, para psikolog penelitian tidak berbicara tentang "praktik" melainkan "metodologi". Permasalahan yang kerap muncul adalah bahwa metodologi lebih bersifat abstrak dibandingkan karakteristik rasional lain dalam konteks aktivitas ilmiah. Apa yang dibahas di sini adalah masalah yang sangat mendasar, menyangkut apakah aktivitas ilmiah adalah aktivitas manusia, mirip aktivitas dengan orang lain, atau apakah itu berbeda dari aktivitas lain dalam beberapa cara yang sangat mendalam. Upaya sebelumnya dalam membidani sosiologi ilmu, atau dalam hal ini sosiologi pengetahuan, cenderung menempatkan substansi ilmu sebagai landasan. Sebagaimana telah ditunjukkan oleh David Bloor, ilmu memiliki sesuatu sebagaimana status sosial sebuah agama, dengan simpulan bahwa sosiologi ilmu itu bukan sosiologi atas substansi ilmu, melainkan sosiologi atas seorang ilmuwan. Demikian adalah dua hal yang sangat berbeda. Sosiologi ilmu psikologi harus menargetkan substansi pokok dari ilmu itu, dan sosiologi individual seorang psikolog tidak pernah bisa menggantikan itu. Di salah satu tulisan awal saya dalam bidang ini, saya mengkritik sebuah contoh yang diterapkan pada kasus Wundt, yang terlihat seperti menganggap motivasi individu–Wundt dan koleganya, penerjemah–sebagai penggerak perubahan sejarah. Pada akhirnya, itu seolah-olah tampak bahwa munculnya laboratorium psikologis pertama adalah sebagai pilihan karier beberapa pendirinya. Saya harus menambahkan, ngomong-ngomong, bahwa Karl Mannheim sendiri menderita karena pengagungan yang sama akan ilmu, karena dia tidak percaya bahwa sosiologi pengetahuan dapat diperluas hingga ke substansi ilmu.

Dia percaya bahwa itu bisa diterapkan pada substansi ilmu-ilmu sosial, tetapi tidak pada substansi ilmu alam.

Ya, tetapi pada saat saya turun ke lapangan, ada arus pemikiran yang bertentangan dengan itu. Karya Thomas Kuhn menunjukkan itu. Salah satu aspek terpentingnya adalah hubungan antara organisasi sosial komunitas ilmiah dan produk kognitif komunitas tersebut. Subyek sejarah tidak lagi dipahami sebagai individu, atau bahkan sebagai kelompok individu otonom dengan motif pribadi mereka sendiri, tetapi lebih sebagai komunitas ilmiah. Kemudian ada karakterisasi aktivitas ilmuwan. Konsep metodologi mencakup beberapa aturan perilaku ilmiah yang rasional. Kecenderungannya adalah untuk mengekstrapolasi aturan-aturan tersebut sebagai perilaku aktual para ilmuwan. Itu berarti membagi suatu contoh perilaku manusia tertentu, yaitu perilaku dalam konteks ilmiah, menjadi dua: yang benar-benar logis dan rasional dan, yang lain, yang secara sosial dan budaya ditentukan seturut cara biasanya ia berperilaku dalam konteks yang berbeda. Menurut saya itu adalah dikotomi yang tidak konstan, yang tidak sesuai dengan apa yang saya lihat tentang sains.

Apakah benar jika Anda mengasosiasikan istilah "praktik" dengan yang biasanya disebut psikolog sebagai "metodologi"?

Dalam konteks bahwa konsep tersebut telah digunakan dalam literatur, istilah "praktik" atau "praktik sosial" tampaknya menjadi salah satu yang cocok untuk menggambarkan kegiatan yang mencakup aspek rasional dan sosial dalam kelompok tanpa memisahkan mereka menjadi dua divisi yang berbeda. Jadi saya lebih suka menggunakan istilah "praktik investigasi", karena menggabungkan kedua aturan kuasi-rasional yang diadopsi dalam aktivitas ilmiah ke tingkat yang lebih besar atau lebih kecil, dan juga kelompok sosial dalam aktivitas ilmiah. Ini adalah konsep integratif.

Karya Anda yang terbaru tentang sejarah konsep dan kategori psikologis bukanlah sejarah praktis dalam arti tertentu. Apakah ini sejarah yang berbeda?

Ada aspek lain dari arti praktik. Ide dan konsep yang muncul dalam konteks praktik manusia, dan praktik manusia dapat mengambil berbagai bentuk. Mereka dapat mengambil bentuk memanipulasi objek material atau orang, tetapi mereka juga dapat mengambil bentuk yang diskursif. Seseorang tidak perlu menerima berbagai macam konsep Foucault untuk menghargai nilai analitik dari gagasan praktik yang diskursif.

Jadi, bahkan ketika sejarah konsep psikologis Anda pada akhirnya turun ke praktik?

Saya selalu prihatin apabila menunjukkan bagaimana munculnya konsep dan kategori psikologis, juga perubahan di dalamnya, terikat dengan praktik dan perubahan dalam praktik di dunia nyata. Seseorang dapat menyebutkan kaitan antara munculnya kategori "motivasi" dan praktik-praktik manajerial yang muncul di perusahaan-perusahaan besar pada awal abad ke-20. Contoh lain adalah munculnya konsep "sikap" dalam bentuk modernnya. Itu berubah secara mendasar dalam arti sebagai hasil dari praktik pemasaran, dan keduanya, riset opini konsumen maupun riset publik.

Ada perbedaan penekanan selama karier Anda sebagai sejarawan psikologi. Anda menerbitkan sebagian besar karya Anda tentang Wundt pada tahun 1970-an. Pada tahun 1980-an, sebagian besar karya Anda adalah tentang metode psikologis, dan karya Anda sedari terbitnya Constructing the Subject pada tahun 1990 telah fokus pada objek-objek psikologis. Di mana kesinambungan dalam karya itu?

Saya menetapkan apa yang saya lakukan dalam hal penelitian untuk peraturan historis atas objek psikologis sejak awal dalam karya saya tentang sejarah psikologi. Meskipun saya telah memberikan topik yang lebih eksplisit dalam beberapa tahun terakhir, sebenarnya itu telah ada sepanjang waktu. Agar lebih eksplisit, saya telah menggunakan tiga konsep dasar untuk mengatur informasi historis. Ketiga konsep itu adalah subjek, objek, dan praktik. Isi konseptual psikologi terdiri dari objek psikologis yang dihasilkan oleh praktik psikologis tertentu. Namun, praktik-praktik itu tidak hanya dibiarkan begitu saja. Mereka selalu merupakan praktik dari para subyek sejarah yang sebenarnya. Jadi ada tiga sejarah yang harus dikejar, sejarah objek psikologis, sejarah praktik psikologis, dan sejarah subjek yang terlibat dengan objek dan praktik tersebut. Saya fokus pada dua yang pertama tersebut, tetapi mencoba untuk tidak melupakan yang ketiga.

Penggunaan istilah "subjek" Anda berbeda dengan cara yang biasanya digunakan dalam psikologi, yaitu untuk menunjukkan peserta penelitian tetapi bukan psikolog itu sendiri. Anda juga tampaknya menggunakannya untuk merujuk ke kelompok psikolog, bukan individu.

Istilah "subjek" digunakan dalam berbagai cara berbeda, dalam konteks yang berbeda; itupun juga sudah mengalami perubahan makna yang mendalam selama berabad-abad. Lebih khusus lagi, perbedaan yang Anda maksudkan adalah ilustrasi tentang apa yang dapat disebut sebagai kutukan kedisiplinan. Peserta dalam eksperimen psikologis tidak selalu disebut "subyek". Sebelumnya, mereka sering disebut "pengamat." Penggunaan kuasi-ilmiah "subjek" berasal dari penggunaan medis. Pada abad ke-19, seseorang sudah bisa menjadi subjek untuk operasi, misalnya. Kemudian orang menjadi "subjek hipnosis" dan akhirnya "subjek psikologis". Dalam penggunaan ini, subjek adalah individu yang mendapatkan perlakuan, meskipun tidak juga sepenuhnya menafikkan peran serta mereka. Namun, ada konteks filosofis yang jauh lebih tua dan lebih luas dalam penggunaan istilah "subjek" dan di sini artinya hampir berkebalikan dengan makna medis-psikologis: subjek adalah sumber tindakan dan ide, prinsip aktif, bukan seseorang yang melakukan sesuatu. Ketika individu bertindak serempak, mereka dapat dikatakan merupakan subjek sosial atau historis, dalam arti luas. Begitulah cara saya menggunakan istilah dalam konteks sejarah.

Bagaimana ini berlaku dalam karya Anda tentang Wundt?

Karena banyak karya awal tentang Wundt, pada dasarnya berkaitan dengan dekonstruksi mitos dan legenda tertentu, ada banyak penekanan pada isi karyanya. Saya akan menganggap itu sebagai bagian dari sejarah objek-objek psikologis. Misalnya, konsep seperti "apersepsi" adalah objek psikologis yang memiliki sejarah tertentu. Demikian pula, konsep "drive", "naluri" Wundt, dan seterusnya. Kedua, saya menjelajahi praktik investigasi Wundt, menganalisis laporan-laporan dalam Philosophische Studien dan akhirnya menempatkan praktiknya dalam sejarah praktik-praktik psikologis yang berlangsung lama setelah masa hidup Wundt. Namun, di latar belakang juga ada fakta bahwa Wundt adalah contoh menonjol dari apa yang Fritz Ringer sebut sebagai "mandarin Jerman," sekelompok elit akademis di Wilhelmian, Jerman, yang anggotanya memiliki nilai-nilai dan keyakinan umum tertentu yang sama sekali berbeda dari orang-orang komunitas psikologis Amerika.

Anda mengatakan sebelumnya bahwa Anda mengkritik upaya awal untuk menjelaskan sejarah pendirian laboratorium Wundt dalam model biografi. Apa pendapat Anda tentang karya sejarah psikologi Amerika yang umumnya fokus pada biografi individu?

Pandangan saya adalah bahwa riwayat biografi seorang tokoh adalah sebuah bidang yang sah dan menarik dalam konteks tersendiri, yang saya pikir itu berbeda dari sejarah. Sebuah biografi seseorang kerap tidak mencukupi sebagai penjelasan di bidang sejarah. Biografi bahkan dapat merusak jika itu membawa implikasi bahwa sejarah adalah, dan hanya bisa menjadi, digambarkan dalam sejarah individu. Biografi sejarah bekerja dengan kategori-kategori tertentu untuk menjelaskan tindakan manusia secara individual dan, dengan tepat, dapat mengambil kategori-kategori tersebut dari teori-teori kontemporer tentang tindakan manusia, motivasi, dan sebagainya. Sejarah, di sisi lain, bekerja pada tingkat trans-individu. Ia bekerja dengan tren, fenomena, kekuatan yang tidak disamakan dengan tindakan individu sama sekali. Ia bekerja dengan mengubah pola budaya, institusi sosial, formasi ideologis, aturan sosial, adat istiadat, dan hubungan kekuasaan. Tak satu pun dari ini dapat direduksi menjadi biografi individual.

Apakah yang sedang anda kerjakan saat ini?

Buku terakhir saya, Naming the Mind, membahas kemunculan dan perkembangan sejarah objek psikologi modern, yang diabadikan dalam term seperti "perilaku," "motivasi," "sikap," "kecerdasan," dan seterusnya. Ini adalah kategori yang muncul seiring dengan munculnya psikologi modern atau bisa juga merujuk pada istilah-istilah tersebut untuk menunjukkan keberadaan psikologi modern. Untuk membuat buku itu lebih tertata, saya sengaja tidak memasukkan topik tertentu. Misalnya tentang sebagian besar kategori kognitif, selain kecerdasan. Saya berniat, setelah proyek tersebut selesai saya beralih ke kategori kognitif, yang sepertinya akan membutuhkan banyak pekerjaan tambahan. Masalah lain yang saya kecualikan dalam Naming the Mind adalah kategori psikologis zaman kuno, dan juga terkait objek psikologis. Saya setuju dengan Roger Smith dan Graham Richards yang mengatakan bahwa sejarah psikologi terbatas pada periode ketika psikologi dipahami sebagai subjek disiplin ilmu, yang sebelum itu menjadi masalah ketika membicarkan tentang sejarah psikologi. Ini sangat problematis karena, untuk satu hal, gagasan tentang "psikologis" secara historis adalah gagasan yang sangat baru. Istilah ini tidak digunakan dalam pengertian modern, sesuai pemahaman “psikologi” sekarang, sampai abad ke-18. Di beberapa negara, istilah itu tidak digunakan sampai abad ke-19. Jadi untuk membahasnya, mari kita katakan bahwa psikologi Plato atau Aristoteles bermasalah. Namun demikian, masih ada pertanyaan apakah ada pengertian di mana psikologi modern memiliki semacam prasejarah. Tidak ada sejarah yang muncul dari ketiadaan. Itu meninggalkan pertanyaan terbuka: “Apa dasar dari gagasan modern ini muncul?” Jika kita mengajukan pertanyaan itu, kita tidak bisa hanya peduli dengan penyebab historisnya secara langsung. Kita mungkin akan menemukan diri kita mundur lebih jauh. Ada tiga aspek masalah. Pertama, ada aspek sosiologis. Seperti penjelasan saya sebelumnya, yang menyangkut subjek historis. Bagaimana komunitas psikolog atau komunitas wacana psikologis itu muncul? Sejarah terkait subjek pelaku memunculkan pertanyaan tentang organisasi pengetahuan, misalnya organisasi universitas dan organisasi disiplin di dalamnya. Aspek kedua melibatkan sejarah praktik psikologis. Orang bisa, misalnya, masuk ke dalam sejarah praktik introspeksi. Penggunaan agama dalam gagasan introspeksi lebih dulu ketimbang sekulerisasi dalam waktu yang cukup lama. Jadi di sinilah, sesuai yang dikatakan Foucault dan Nietzsche, sebagai “silsilah” untuk dirunut. Dan kemudian, ketiga, ada sejarah objek psikologis, yang memiliki silsilah sendiri. Seseorang bahkan bisa berbicara tentang "biografi" dari objek psikologis. Itu tidak dapat dilihat sekadar sebagai sejarah istilah tertentu karena konsep dapat dengan mudah berubah, bahkan kadang-kadang cukup mendalam, tetapi masih disebut dengan nama yang sama. Misalnya tafsir modern atas kecerdasan. Tidak ada apa pun, atau sangat sedikit, yang dilakukan kecuali hanya mengulang istilah itu sesuai penggunaan lampau, meskipun kata itu sama. Namun sebenarnya, apa itu "Kecerdasan Ilahi" yang disebutkan pada zaman dulu? Tentu, saya menduga, bukanlah sesuatu yang sekadar diukur oleh kertas dan pensil.

Adakah kasus di mana istilah telah berubah tanpa ada perubahan signifikan dalam konsep yang mendasarinya?

Kadang-kadang istilah dapat berubah dan hanya ada sedikit perubahan dalam konsep dasarnya. Itu sangat bisa. Namun demikian, korelasi yang ada antara istilah dan konsep dapat digunakan sebagai panduan awal untuk menelusuri tentang prasejarah objek-objek psikologis. Dalam banyak kasus, orang menemukan ketidaksinambungan yang besar. Misalnya, jika Anda menelusuri anteseden dari kategori "jiwa", kategori yang mungkin penting bagi psikologi, Anda akan menemukan ketidaksinambungan besar-besaran karena tidak dimulai dari, dengan menjadi, kategori psikologis. Menurut Aristoteles itu adalah kategori kuasi-biologis.Tetapi ada pula sejumlah kategori istilah tertentu yang menunjukkan tingkat kontinuitas yang relatif tinggi. Misalnya saja, contoh terbaiknya adalah memori. Benar, ada ketidaksinambungan yang buruk dalam hal bagaimana memori diturunkan dalam prakstis, cara memori dipahami, dan cara memori itu dihargai. Namun demikian, ada unsur-unsur kontinuitas yang memungkinkan untuk merunut silsilah memori. Mencoba kembali ke Foucault, saya melihat sebuah analogi dengan sejarah seksualitasnya di mana dia sangat peduli dengan segala macam diskontinuitas dalam seksualitas manusia, tetapi bagaimanapun, ada unsur kontinuitas yang memungkinkan untuk membicarakan hal-hal ini dalam silsilah yang umum.

Seberapa berbeda dua hal sebelum mereka berhenti menjadi hal yang sama?

Cara memutuskannya adalah dalam konteks diskursif dan praktis di mana beragam istilah dapat digunakan. Konsep ingatan yang muncul dalam beberapa dialog Platonik cukup dipahami oleh pembaca modern. Namun, meskipun jelas bukan "memori" seperti yang kita pahami saat ini, kemiripan tersebut jelas kentara dari konteks di mana ia digunakan. Harus ada keseimbangan antara kontinuitas dan diskontinuitas. Sampai batas tertentu, tentu saja, ada unsur yang berubah-ubah, dan itu menyisakan ruang perdebatan. Bagi beberapa peneliti, dalam contoh khusus, mungkin tampak bahwa unsur-unsur diskontinuitas begitu masif sehingga kita tidak boleh membicarakan sejarah objek ini lebih jauh lagi. Mereka adalah objek yang berbeda. Mungkin ada ketidaksetujuan yang mufakat tentang itu, dan saya pikir kita bahkan tidak perlu mencapai konsensus total. Pengetahuan lebih lanjut akan datang dari diskusi semacam ini. Jadi saya pikir yang terbaik yang bisa kita harapkan adalah bahwa akan ada beberapa istilah, ingatan adalah salah satu contohnya, di mana unsur-unsur kontinuitas begitu kaya sehingga hanya akan ada sedikit perdebatan ketika kita bermaksud mendalami ini dari segi sejarah, mendalami arti mendasar objek yang sama. 

Psikologi historis adalah salah satu minat utama Anda. Apa yang Anda pahami dengan istilah "psikologi historis" dan bagaimana Anda membedakannya dari "sejarah psikologi"?

Bagi saya, sejarah psikologi sangat terikat dengan eksistensi profesional para psikolog, keberadaan kelompok spesialis psikologi yang menggunakan praktik psikologis khusus dan konsep psikologis untuk terlibat dalam peristiwa dunia. Karena itu saya tidak merasa nyaman untuk menggali sejarah psikologi sekitar 200 tahun atau 250 tahun lalu. Saya tidak berpikir bahwa seseorang dapat berbicara tentang riwayat psikologi di luar itu. Namun, ada juga sesuatu yang dicirikan Irmingard Staeuble sebagai sejarah subjektivitas manusia. Istilahnya agak kabur, tapi saya pikir untuk tujuan ini cukup tepat. Sepenuhnya tidak ada perdebatan bahwa dalam perjalanan sejarah manusia, segala macam hal telah berubah. Teknologi telah berubah, gaya artistik telah berubah, nilai-nilai manusia telah berubah, pola-pola budaya telah berubah, pemahaman telah diubah, filosofi yang digunakan untuk memahami dunia telah berubah, dan seterusnya. Kecuali Anda memikirkan budaya manusia yang ada di luar individu, dan karena itu dapat berubah ketika Anda meninggalkan individu yang tidak berubah, fakta yang tidak kontroversial tentang perubahan budaya dalam sejarah mensyaratkan perubahan pada sisi subjektif pada individu, individu yang tidak masuk ke dalam budaya dan perubahan budaya tersebut. Sejarah dari perubahan subyektif yang berkaitan erat dengan perubahan budaya, saya pikir, akan membentuk subjek soal apa yang orang harus sebut psikologi historis.

Ada banyak perspektif berbeda tentang psikologi historis. Bahkan sejumlah kecil penulis yang karyanya tersedia di English—Barbu, van den Berg, Gergen, misalnya—memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang hal itu, dan saya akan menganggap pandangan Anda berbeda lagi.

Karena bidang tersebut secara inheren sulit dibedakan dari bidang-bidang penyelidikan lain, ia telah mengarah pada bidang yang hampir menyerupai rimba raya, tidak ada yang dapat berjalan sangat jauh. Ini serupa ladang ranjau, dan ada peringatan khusus yang muncul dari situasi ini. Misalnya, gagasan bahwa psikologi historis, jika ada, bisa menjadi satu kesatuan disiplin yang tidak masuk akal. Yang terbaik yang bisa diharapkan adalah sejarah objek psikologis tertentu atau praktik psikologis tertentu. Karena seseorang berurusan dengan materi pelajaran yang tersebar di mana-mana, ia tidak memiliki kesatuan yang hanya muncul seiring munculnya disiplin dan institusi yang sesuai dengan disiplin ilmu itu. Karena itu, Anda tidak akan memiliki lebih dari satu rangkaian sejarah khusus, kecuali lainnya adalah spekulasi.

(Diterjemahkan oleh Maryama Nihayah dari Rediscovering the History of Psychology: Interview with Kurt Danziger)




Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar