Mahasiswa Sulsel di Yogyakarta Mendirikan Gammara' Institute.



Sabtu malam sekitar pukul 18.00 hingga 23.00 WIB, tanggal 5 Agustus 2017 bertempat  di salah satu warung kopi di Yogyakarta, sekelompok mahasiswa asal sulawesi selatan, berkumpul dan membentuk lembaga/organisasi/komunitas bernama GAMMARA' Institute. Mereka berasal dari berbagai disiplin ilmu, seperti Hukum Tata Negara, Hukum Litigasi, Kenotariatan, Psikologi Sosial, dan Psikologi Pendidikan.

Gammara' merupakan singkatan dari Gabungan Pemuda Pemerhati Rakyat. Menurut Reza Siregar, Mahasiswa Hukum UGM yang merupakan pencetus nama Gammara', bahwa Gammara' merupakan suatu harapan, ekspektasi, dan arah ideal yang harus dituju oleh bangsa ini di masa yang akan datang. Secara etimologis Gammara' (Makassar) dalam bahasa  bahasa Indonesia sepadan dengan kata Menarik, Anggun, atau Cakap.

Menurut Pemuda yang biasa disapa Echa ini, pengambilan nama Gammara' memang sengaja untuk menyimbolkan bahwa keseluruhan dari pendiri lembaga ini berasal dari sulawesi selatan atau berdarah sulawesi selatan. Maka dari itu, untuk sementara ini Gammara' Institute akan berkonsentrasi pada pengawalan pembangunan di sulawesi selatan, sembari tetap mengamati peristiwa Nasional.

Sementara Koordinator Gammara' Institute yang baru saja terpilih, Muhammad Rhesa menuturkan, terbentuknya Gammara' Institute ini berangkat dari kegelisahan beberapa mahasiswa dari lintas keilmuan di Yogyakarta melihat kondisi yang terjadi di Indonesia, terkhusus di tanah kelahiran mereka Provinsi sulawesi selatan. Banyaknya masalah yang perlu dicarikan solusi, sebut saja misalnya penambangan pasir di Takalar yang memicu amarah warga pesisir, kasus imigran asal Thailand yang lama terlantar, belum lagi dengan banyaknya kasus korupsi yang mangkrak di kejaksaan tinggi, serta berbagai masalah lainnya.

Rhesa melanjutkan bahwa Gammara' institute adalah lembaga independen, bukan organisasi daerah dan bukan organisasi profit. Harapan terbentuknya institut ini agar menjadi wadah kajian ilmiah bagi mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dan tidak hanya berdiskusi secara utopis akan tetapi ke depan akan menghasilkan riset yang kemudian akan diteruskan di ruang-ruang advokasi. Bukan hanya itu, wadah ini juga akan menampik stigma bahwa pemuda sulsel yang merantau hanya bisa diam terhadap kondisi yang ada di sulsel. 
Kami akui bahwa untuk sementara, hal yang dapat kami lakukan mungkin tidak sebesar partisipasi yang dilakukan oleh kawan-kawan pemuda yang berdomisi di sulsel. Tapi setidaknya dengan terbentuknya Institute ini telah menjadi bukti pertama keseriusan kami. Keanggotaan Gammara' Institute juga masih terbuka lebar bagi mahasiswa Sulsel yang ada di Yogyakarta”, pungkas Rhesa saat dimintai keterangan oleh wartawan Kampus Nusantara.




Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar