SECUPLIK NARASI CINTA DI JUMADIL AWAL


Oleh: Ganjar Sudibyo


Sumber: https://id.pinterest.com/pin/572872015073098644


“Mau kuambilkan gelas?”
“Tak usah, aku bisa minum sendiri.”

Ovan melihat ikan-ikan berkerumun di suatu sudut di akuariumnya. Ikan-ikan itu baru saja dibelinya sepulang kerja. Akuarium telah lama kosong sejak bulan lalu, semua ikan di dalam akuarium itu mati karena suatu hal yang tidak bisa dijelaskan oleh Ovan, padahal Ovan selalu rajin dalam memberi makan ikan-ikan saban pagi dan sore.

“Istirahatlah dulu, cuci kaki, terus isi perut sebentar. Aku sudah gorengkan pisang tadi siang.”
“Iya, nanti.”

Ovan masih bertahan duduk di samping akuarium berbentuk persegi enam itu, sembari melihat ikan-ikan baru berjumlah delapan. Sore makin digagahi oleh mendung. Sepanjang tahun ini, cuaca benar-benar berbeda. Kemarau jadi jarang dijumpai. Hujan deras disertai angin kencang luruh hampir setiap malam terutama di akhir bulan.

“Sebentar lagi pasti hujan turun.”
“Iya, seharusnya memang begitu.”
 “Aku mengambil jemuran dulu yang dari kemarin belum kering-kering. Ambil pisang goreng sendiri ya.”
“He em.”

Tak lama kemudian ritmis hujan membuat asbes rumah mulai menurunkan bunyi seperti dilempari batu-batu kecil. Ovan beranjak dari pandangannya dan hendak meminta Mona untuk segera masuk ke dalam. Tak disangka, Mona tak ada di tempat jemuran. Pakaian-pakaian masih utuh di belakang rumahnya. Namun sandal jepit Mona sudah tidak ada. Ovan mulai dihinggap kebingungan. Tapi Ovan agak takut dengan hujan yang makin deras di luar, sebab ia kerapkali alergi bilamana butir-butir hujan mengenai kulit tubuhnya. Biasanya kulitnya akan jadi gatal-gatal dan memerah selang beberapa menit setelah mengeringkan diri.

Ovan berpikir sebaiknya ia menunggu saja di dalam rumah, toh Mona sudah bisa menjaga diri. Ia kembali ke dalam, lalu mulai melirik pisang goreng, lalu melahapnya.

***

Ini bulan Jumadil Awal, semenjak orang tua mereka memutuskan untuk berpisah, selamanya. Ovan dan Mona  tinggal bersama ibu mereka yang kondisinya sekarang kerap sakit-sakitan. Tiap hari, selepas kerja sebagai buruh tekstil di perusahaan yang jaraknya sekitar 9 km dari rumahnya, ia selalu menyempatkan diri untuk bertanya kepada ibunya. “Bentar lagi aku pulang, Bu. Ibu mau dibawakan apa? Apakah di rumah ada buah-buahan?” Atau, “Ovan pulang agak terlambat, Bu. Ibu sudah makan belum? Mona tidak usah masak lagi, nanti kubelikan lauk-pauk.” Begitulah Ovan, ia anak pertama yang merasa tidak ingin berjarak jauh dari ibunya.

Bulan ini Mona lulus sekolah kejuruan. Ovan berpikir keras bagaimana ia bisa membantu adiknya untuk lanjut kuliah. Ia punya firasat kalau Mona tidak akan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Mona menyibukkan dirinya dengan gawai dan barang-barang kosmetik yang dijual online. Ovan sadar, adiknya tak pandai-pandai amat dalam hal akademis di sekolah. “Teori itu pangkalnya dari praktek, kak, praktek. Itu sudah terbukti jelas kok,” katanya suatu ketika kepada Ovan, saat Mona ditanyai soal belajar.  Ovan menyerah tak bisa menimpali kalau sudah demikian, kepala batu tak akan bisa dilawan dengan kepala batu juga. Pendirian Mona lama-kelamaan terbentuk juga, selain berkepala batu, ia juga terkesan cuek, namun penyayang, Mona bergolongan darah A yang konon kepribadiannya bertolak belakang dengan Ovan; demikian Ovan hanya berharap ia bisa menemukan celah untuk sekadar memberi penjelasan kepada Mona bahawsanya dalam berkehidupan juga harus memberi porsi pada yang bernama keilmuan. Sementara alasan yang lebih riil adalah supaya Mona tidak mengikuti riwayatnya –hanya lulus di bangku sekolah kejuruan.

Setiap hari kedua orang itu tekun mengurus ibu mereka, selain mengurus karier masing-masing. Sebenarnya Ovan tak punya cita-cita tinggi-tinggi amat. Ia cuma ingin hidup di rumah sendiri tanpa siapa-siapa kecuali bersama pernik akuarium dengan berbagai jenis ikan. Ovan adalah lelaki yang predikat asmaranya tak pernah lepas dari bujang. Sekali lagi, ia cuma ingin hidup sendiri. Mengurus urusannya sendiri. tak pernah sekali pun tebersit bahwa ia hendak menikah, lalu hidup beranak cucu bahagia sampai akhir hayat. Pikiran macam ini muncul dan kemudian meledak pasca-perpisahan ibu-bapaknya. Ia pernah menampik pikiran orang-orang sekantornya bahwa seseorang akan dilancarkan rezekinya setelah menikah. Ovan menganggap itu hanyalah mitos. Jalan percintaan bukanlah melulu harus diartikan dalam hal perkawinan. Perkawinan hanyalah salah satu jalan menuju kebahagiaan di dunia. Perasaan manusia yang ditanami oleh cinta sejak lahir tidaklah sekaku itu. cinta bisa diwujudkan dalam hal atau bentuk apa saja. Ia mengamini yang pernah ditulis oleh seorang penulis tajuk rencana di sebuah koran lokal langganannya: manusia bukanlah ternak dan Cinta lebih dari soal kebahagiaan.

Keyakinan Ovan yang demikian membuatnya sering kali berpikir tentang Mona. Sebab ia sangat menyayangi Mona, ia tidak ingin adiknya itu memperoleh pasangan hidup yang tidak sesuai dengan harapannya. Dan sebaiknya, Mona tidak pacaran dulu, belum saatnya ia memikirkan cinta yang begituan. Apalagi, miris ia membaca berita-berita terkait percintaan anak muda yang makin hari makin karut-marut kisahnya. Sebaiknya, Mona fokus lanjut untuk sekolah dan mengurus Ibu. Beberapa kali Ovan menjumpai Mona sedang bercengkerama dengan kekasihnya yang adalah seorang pekerja kantoran. Ovan tak banyak bicara setiap berjumpa kekasih Mona.

“Kak, ajaklah pacarku yang sedang di ruang tamu ngobrol-ngobrol dulu bentar, aku mau beli tabung gas.”
“Aku capek, Mona. Apakah ikan-ikanku sudah kau beri makan?”

Begitulah. Saban kekasih Mona datang, Ovan selalu mengalihkan perhatian. Tak mau mengajak bicara. Bicara hanya seperlunya –memberi  salam perpisahan, misalnya.

***

Ini Jumadil Awal. Suara langkah kaki dari kejauhan terdengar. Mona berlari-larian mendekat pintu rumah. Mona balik basah-kuyup. Mona hendak mengabarkan sesuatu kepada Ovan tentang lelaki yang baru empat bulan lalu dipacarinya. Ovan tak menoleh sedikit pun ke hadapan Mona. Ia hanya memandangi kembali akuarium, menahan sedikit air mata yang hampir menetes sembari mengangkat jasad seekor ikan koki yang baru saja mengapung. Alih-alih mau mengambil ikan yang mati itu, jam tangan hadiah dari Mona untuk Ovan minggu lalu lepas, lantas tenggelam. Perasaannya retak sudah bersama pikiran-pikiran yang kembali deras oleh pertanyaan lama: kenapa yang amat ia sayangi senantiasa tak bisa ia miliki.

“Pisang goreng, sudah kau habiskan to?
Aku membuat itu bukan hanya untukmu, tapi juga buat Roni.
Dia mau ngobrol serius sama Ibuk.”


2017


Ganjar Sudibyo,
editor dan penulis paruh waktu.
Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar