Pasca Putaran I Pilgub DKI

Muhammad Rhesa


sumber: encrypted-tbn2.gstatic.com


DKI Jakarta sebagai provinsi tempat Ibu Kota Negara berada adalah milik semua warga Indonesia, wajar jika kemudian warga luar DKI merasa memiliki kepentingan untuk memperhatikan kondisi DKI. Hal ini yang secara praktis membuat DKI menjadi barometer kedua politik Indonesia.

Untuk daerah sekelas DKI, persyaratan untuk memenangkan Pilgub sama dengan standar memenangkan Pilpres, yakni minimal 50%+1 dari jumlah perolehan suara. Jika pada pemilihan tidak ada pasangan calon yang mampu mencapai 50%+1, maka harus dilaksanakan putaran kedua dengan memilih dua pasangan calon yang memiliki suara terbanyak.

Berdasarkan hasil quick count dari berbagai lembaga survei, hampir bisa dipastikan yang maju di putaran kedua Pilgub DKI adalah pasangan Ahok-Djarot melawan pasangan Anis-Sandi. Ahok dan Sandi hanya selisih rata-rata tiga persen menurut beberapa lembaga survei, di kisaran 42% untuk Ahok-Djarot dan 39% untuk Anis-Sandi. Sementara Agus-Sylvi hanya meraup suara 17%. Praktis pada putaran kedua, pemilih Agus-Sylvi akan menjadi rebutan kedua pasang calon selama dua bulan ke depan.

Pemilih pada setiap ajang pemilu terbagi menjadi tiga karakter. Pertama adalah pemilih psikologis, adalah mereka yang mendasarkan pilihannya karena faktor kesukaan terhadap faktor-faktor tangible seperti kegagahan secara fisik, ketampanan, kecantikan, serta kemampuan orasi. Kedua adalah pemilih sosiologis, adalah pemilih yang mendasarkan pilihannya karena kesamaan suku, ras, agama, serta kesamaan asal daerah dengan calon. Ketiga adalah pemilih rasional, pemilih yang mendasarkan pilihannya pada kemampuan calon menguraikan visi, kinerja, serta track record yang dimiliki.

Pemilih Agus-Sylvi yang kebanyakan adalah pemilih psikologis karena kegagahan, good looking, serta wibawa pasangan ini akan menjadi rebutan oleh Ahok dan Anis di putaran kedua. Tapi pertanyaannya, Kemana dukungan pemilih Agus-Sylvi akan tertuju di putaran kedua? ke Ahok ataukah Anis?

Sepakat dengan beberapa analis politik lain, bahwa alih dukungan dari Agus sangat berpotensi mengarah ke Anis. Alasannya, dari segi pemilih, variabel psikologis sebagai kekuatan masih lebih banyak dimiliki Anis dibanding Ahok. Sementara dari segi dukungan partai, partai Demokrat hampir bisa dipastikan akan mengarahkan dukungannya ke Anis.

Bagi Partai Demokrat layaknya PDI-P, sebagai partai yang cenderung oligarkis, sikap ketua umum adalah sikap partai, termasuk jika perihalnya hanya sekedar faktor emosinal masing-masing ketua umum. Megawati ingat betul, bagaimana SBY pernah menikungnya jelang Pilpres 2004. SBY mengundurkan diri sebagai Menkopolhukam lalu memenangkan Pilpres melawan Megawati. Pengalaman emosional tersebut sepertinya belum tuntas dan membuat “Banteng” tidak bisa sehabitat dengan “Bintang Mercy”.

Preseden menurunnya dukungan untuk skala DKI juga tampaknya sangat dinamis dan situasional. Kita bisa mundur ke belakang sebelum polemik surah Al-Maidah, Ahok begitu kuat berada di puncak elektabilitas. Namun kemudian trennya menurun setelah gerakan bela Islam berulangkali dilakukan. Varibel situasional terakhir adalah tuduhan Antasari Azhar bahwa dirinya ditersangkakan sebagai dalang pembunuhan karena peran SBY. Alih-alih berperan sebagai endorser bagi anaknya, SBY tiba-tiba diserang oleh AA pada H-1 pencoblosan Pilgub DKI. Bukan tidak mungkin SBY akan melakukan manuver tandingan misalnya dengan melakukan pembuktian terbalik.

Jika polemik ini terus bergulir, menurut hemat saya, pemilih AHY yang diperebutkan akan berpotensi kuat mengarah ke Anis. Alasannya yang pertama adalah publik akan memerhatikan personal space yang terbangun antara AA dengan Jokowi lalu diasosiasikan dengan partai yang mengusung Jokowi juga Ahok. Kedua, pemilih AHY karena karakter pemilih psikologis, akan memposisikan diri sebagai lawan terhadap kubu yang menyerang SBY. Ketiga, berkaca pada eksperimen psikologi yang dilakukan banyak ahli, dalam kondisi yang tidak konsisten, pemilih cenderung memilih pilihan yang ajeg, pilihan yang dianggap stabil dan jauh dari kondisi inkonsistensi. Situsi ini relevan dengan polemik AA (disertai asosiasi terhadap kubu yang ada di belakangnya) dengan SBY.

Sementara, jika kubu Ahok ingin mencuri suara dari pemilih AHY, Ahok bisa masuk melalui pintu lain non-SBY. Ahok bisa melakukan pendekatan ke partai koalisi yang mengusung AHY di putaran pertama. Basis struktural partai bisa digunakan sebagai pundi-pundi suara.

Sekadar diketahui, pada Pilgub DKI tahun 2012, gubernur petahana juga lolos ke putaran ke dua tapi tidak berhasil memenangkan Pilkada. Apakah sejarah akan berulang? Kita lihat nanti.



Penulis, Penggiat Forum Psikologi Progresif dan Peminat Psikologi Politik
muh.rhesa@gmail.com

Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar