Neuropsikologi: Seberapa Penting dan Bagaimana Perkembangannya di Indonesia?

Oleh: Gloria Excelcise Muhammad 

www.neurobehavioralsciences.com

 
Psikologi hingga saat ini masih menjadi perdebatan perihal keabsahan pembuktiannya. Kurang empirisnya bukti yang diberikan adalah penyebabnya. Neuropsikologi datang memberi jawaban. Sebagai ilmu yang membahas tentang kaitan antara perilaku dan otak, neuropsikologi memberi keabsahan empiris dari psikologi.



Dulu, pada masa awal perkembangannya, psikologi tidak pernah membahas pada level syaraf. Namun, seiring berkembangnya neurosains, ternyata diketahui bahwa yang terjadi pada syaraf termanifestasikan menjadi perilaku. Perilaku sendiri bukanlah objek kajian dalam neurosains. Oleh karena itu, untuk mempelajari lebih dalam kaitan antara syaraf dan perilaku, neurosains perlu berkolaborasi dengan psikologi sehingga lahirlah cabang ilmu baru, yaitu neuropsikologi.
Supra Wimbarti, ahli neuropsikologi dan psikologi pendidikan di Universitas Gadjah Mada, menyatakan bahwa perkembangan neuropsikologi banyak membantu menjawab masalah-masalah yang sebelumnya tidak bisa terpecahkan hanya dengan menggunakan teori-teori psikologi. Masalah-masalah itu seperti latar belakang pengidap disleksia ber-IQ tinggi tapi tidak dapat membaca, hingga permasalahan latar belakang adanya siswa yang kemampuan matematikanya buruk. Menurutnya, ada yang salah dengan perbaikan pendidikan di Indonesia. Perbaikan pendidikan di Indonesia hanya menekankan metode pembelajaran dan melupakan aspek yang penting, yaitu biologis (otak, red.). Sebaliknya, negara-negara maju sudah terbuka dengan educational neuropsychology. Contohnya, Harvard Graduate School of Education yang sudah mengarah ke sana. “Mereka sudah berpikiran untuk ngurusi pendidikan dari mulai TK sampai SMU itu harus pakai otak. Siswa kan semua pakai otak. Kok kita tidak pernah ngurusin otaknya?” tegas Supra.
Di Indonesia sendiri, perkembangan neuropsikologi tergolong lambat. Banyak hal yang menyebabkan hal tersebut, di antaranya jumlah ahli neuropsikologi yang masih sedikit serta kurang tersedianya alat penelitian karena mahalnya harga. Supra Wimbarti yang sekaligus dekan Fakultas Psikologi UGM mengatakan bahwa Indonesia tidak boleh terus tertinggal. Sayangnya, masih ada guru besar psikologi yang skeptis terhadap pengembangan neuropsikologi dengan alasan yang sama, yaitu peralatan yang terlalu mahal. Menanggapi hal ini, Supra menerangkan bahwa sudah banyak alat yang relatif terjangkau harganya, misalnya EEG. Fakultas Psikologi UGM sekarang mempunyai dua unit EEG sederhana, yakni yang hanya empat belas channel. Meski masih sederhana, yang terpenting sekarang meningkatkan minat penelitian ke sana dahulu. “Jangan takut!” pesan Supra.
Hingga saat ini, Fakultas Psikologi UGM masih mengusahakan untuk mendapatkan alat yang lebih canggih. Pasalnya, ada mahasiswa S2 yang hipotesis penelitiannya tidak terbukti, dan diperkirakan penyebabnya adalah kurang canggihnya alat. Setiap milimeter otak bisa jadi memiliki fungsinya tersendiri yang tidak terdeteksi oleh EEG dengan empat belas channel itu. Idealnya, dibutuhkan EEG dengan tujuh puluh hingga delapan puluh channel. Tetapi untuk alat seperti fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging) yang harganya sekitar delapan miliar, itu terlalu mahal untuk dibeli fakultas. “Kalaupun punya, satu saja kepunyaan universitas,” terang Supra. Ia juga menambahkan bahwa bila ingin serius sekarang ada dana Dikti dan LPDP yang bisa memberikan fMRI untuk universitas. Syaratnya, harus fungsional.
Di Indonesia, yang sudah sangat serius mendalami neurosains adalah Indonesia Brain Research Centre, sebuah pusat studi yang didirikan oleh Yohanes Surya. Tujuan dari lembaga ini adalah untuk mengaplikasikan penelitian neurosains dari meja penelitian ke pasien (from the bench to bedside). Anggota dalam institusi ini terdiri atas dokter-ilmuwan, dokter dan peneliti yang memiliki keahlian dalam ilmu syaraf dan atau penyakit syaraf. Dilihat dari tujuannya, lembaga ini lebih menekankan pada clinical neuropsychology. Lembaga ini didirikan dalam rangka menyambut Dasawarsa Otak Indonesia (DOI) yang mulai berjalan sejak 2012 hingga 2021.
Tren psikologi sekarang memang mengarah ke neuropsikologi, dan itu tak dapat terhindarkan. Hal ini untuk mencegah ketidakpercayaan masyarakat terhadap keakuratan pengukuran psikologi. Misalnya, pengukuran IQ. Ketika ilmuwan psikologi menyatakan besaran IQ seseorang, ia hanya menunjukkan hasil tes berdasarkan hitam di atas putih alias tes tulis. Padahal yang dibutuhkan bukan hanya bukti itu. Perlu bukti yang lebih empiris agar keakuratan hasilnya dipercaya. Contohnya, di kedokteran. Seorang dokter yang menyatakan baik atau tidaknya kondisi jantung seseorang harus menunjukkan bukti yang empiris seperti potret kondisi jantung dan penjelasan ilmiah dari kondisi itu. Psikolog atau ilmuwan psikologi idealnya juga harus seperti itu, yakni menunjukkan kondisi otak dan penjelasan ilmiah dari kondisi itu.
Vinny Marviani, mahasiswi S1 psikologi mengatakan tertarik dengan neuropsikologi. Menurutnya, untuk mempelajari perilaku manusia, salah satu level analisis yang penting adalah level biologis. Dibandingkan dengan masalah budaya, untuk masalah biologis, antar manusia akan lebih mutlak sama. “Jadi untuk masalah biologis akan pasti-pasti aja,” tambahnya. Senada dengan Vinny, Zulfikri juga merasa tertarik untuk mendalami. Menurutnya, psikologi masih di tengah kebingungan untuk kepastian ilmunya sehingga ada banyak perspektif dan pendekatan yang berbeda-beda. Dengan adanya neurosains yang metodenya jelas, alat-alatnya pun jelas, maka perilaku dapat diterangkan secara mekanistis dan sistematis. “Penjelasannya aku lebih puas di neurosains,” imbuhnya. Berbeda dengan Vinny dan Zulkifri, Samudera mengatakan kurang tertarik dengan neuropsikologi. Alasannya, ia lebih tertarik pada psikologi yang arahnya ke sosial. Meski begitu, ia tetap merasa neuropsikologi itu sangat penting untuk masa depan psikologi karena kemampuannya dalam menjelaskan proses munculnya perilaku secara empiris dan ilmiah.
Ada banyak sekali “pekerjaan rumah” yang harus diselesaikan oleh para ilmuwan psikologi Indonesia demi mengejar ketertinggalan di bidang neuropsikologi. Supra berharap semakin banyak mahasiswa yang tertarik dengan neuropsikologi dan semakin banyak dosen-dosen tersadar betapa pentingnya neuropsikologi sehingga tidak berhenti hanya sampai di tataran psikologi saja. “Masih banyak hutan belukar yang mesti dibuka untuk betul-betul mengetahui psikologi sebenarnya,” tutup Supra.

Penulis, Mahasiswa Psikologi UGM

*) Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Siklus edisi Mei 2016 yang diterbitkan oleh BPPM Psikomedia UGM





Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar