Nasihat Nietzsche bagi Calon Pemimpin (Bag-I)

Nasihat Nietzsche bagi Calon Pemimpin[1]
(Peran Argumentum ad Hominem dalam Genealogi Moral)
Yogie Pranowo[2]


Sumber pict: https://www.pinterest.com/pin/299489443941453939/


Pada tahun 1987 seorang pelukis-seniman, Paul Gauguin mempublikasikan lukisannya tentang asal-usul manusia yang mengajak kita untuk berpikir dan mencari jawaban atas eksistensi diri kita.[3] Karya ini menggambarkan siklus kelahiran, kehidupan, dan kematian—asal-usul, identitas, dan takdir tiap-tiap individu—dan persoalan personal.

Sama seperti Nietzsche yang menganjurkan kita untuk mengenal diri kita lebih dalam[4], Gauguin seakan juga ingin mengajak kita berefleksi untuk mengenal diri kita, dan meneguhkan “iman” kita, agar kita tahu apa tujuan hidup kita dan tahu ke mana kita akan melangkahkan kaki ini agar tidak terjerumus pada hidup yang dekaden dan terserak.

Das Kriterium der Wahrheit lieght in der
Steigerung des Machtgefuls”
(Nietzsche, Nietzsches Werke XXVI, 45)



Akhir-akhir ini marak dijumpai persoalan pluralisme di Indonesia, mulai dari perselisihan antar-agama hingga perang suku. Bhineka Tunggal Ika yang diyakini menjadi “kekuatan” nasional pun harus bungkam, ia telah menutup mulutnya. Ia tidak lagi mau bersaksi ataupun menjelaskan apa maksud dari ke-bhineka-an-nya itu. Dapat dikatakan bahwa Pancasila kita tinggal wacana kebangsaan yang abu-abu, tidak jelas juntrungannya. Alih-alih sebagai alat pemersatu bangsa, ideologi semacam itu malah menjadi doktrin untuk semakin menyengsarakan rakyat. Pemerintah seakan tak lagi peduli dengan nasib bangsanya. Hal itu dapat kita lihat dari minimnya usaha pemerintah dalam mengatasi persoalan kemanusiaan di negeri ini. Perlahan namun pasti, negeri ini terjangkit krisis moral akut: di sana-sini, orang sibuk dengan Blackberry, I-phone, I-pad, dan Apple-nya. Namun mereka juga semakin cuek dengan realita kehidupan, tidak peduli lagi dengan yang telah terjadi dengan keadaan sekitar. Setidaknya dalam lima tahun belakangan ini, peristiwa demi peristiwa “tidak bermoral” pun marak terjadi, mulai dari teror bom buku, “perampokan” uang nasabah Citybank, kasus korupsi Ratu Atut, hingga kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh Sitok Srengenge[5] terhadap mahasiswi jurusan Sastra Jerman Universitas Indonesia menjadi bukti kemerosotan moral bangsa ini.
Persoalan demi persoalan yang terjadi membuat rakyat gelisah. Rakyat merasa tak nyaman hidup di Indonesia. Perlahan namun pasti, banyak pihak baik individu maupun kelompok yang mulai mempertanyakan eksistensi bangsa ini dari berbagai tempat dan dengan kepentingan yang berbeda-beda pula. Sebenarnya ada apa dengan Indonesia? Siapa yang harus bertanggung jawab atas situasi kaotik ini? Apakah Presiden beserta jajarannya atau masyarakat yang harus bertanggung jawab? Kegelisahan dan ketidaknyamanan ini membuat rakyat bingung untuk percaya kepada siapa (lagi), rakyat menjadi bingung untuk memilih, sebab tak ada yang dapat menjamin secara pasti bahwa kehidupan rakyat Indonesia di masa mendatang akan jauh lebih baik dari sekarang. Apalagi kalau kita melihat sikap dan tindak-tanduk para calon presiden dan wakilnya (entah dari partai politik mana pun) seperti tak ada perbedaan. Parpol di Indonesia tampaknya tak punya sikap tegas dan cenderung kekanak-kanakan. Semua tampak sama saja, baik partai X, partai Y, maupun partai Z, seperti tidak ada bedanya. Mereka semua sepakat mengatasnamakan rakyat, membela rakyat, pro rakyat, dan intinya embel-embel rakyat adalah harga mati untuk sebuah propaganda parpol (yang sebenarnya hanya sebuah kamuflase belaka). Inilah yang tampak dalam peta perpolitikan bangsa kita dewasa ini. Tidak seperti di negara-negara maju, dengan dua atau tiga partai besar di mana posisi masing-masing partainya berbeda. Kebijakan dan sikap yang ditawarkan pun oleh partai tersebut juga jelas alias tidak hanya samar-samar berlindung di balik kata rakyat belaka. Dengan begitu, rakyat macam apa yang mereka perjuangkan pun menjadi jelas pula. Masyarakat tidak begitu dibingungkan. Mereka dapat melihat dengan jelas posisi partai mana yang lebih sesuai dengan aspirasi mereka, itulah partai yang mereka pilih. Berbeda jauh dengan di Indonesia, dengan banyaknya partai, bukan semakin jelas posisi dan sikap mereka, malah sebaliknya, semakin tidak dapat dibedakan, semakin tidak jelas.[6]
Ketika masa kampanye tiba, kita sudah dapat menemukan pelbagai atribut partai yang menghiasi jalan-jalan kota besar di Indonesia. Mata kita “dipaksa” untuk melihat gemerlapnya iklan-iklan para kandidat calon presiden tersebut. Mereka mengobral janji! Namun apakah janji mereka dapat dipertanggungjawabkan nantinya dan bernilai objektif? Atau itu semua hanya klise untuk mewujudkan ambisi mereka untuk merebut kekuasaan? Mengenai hal itu, saya ingin mencoba mengangkat kembali pemikiran seorang filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche lewat genealogi moralnya yang berlandaskan argumentum ad hominem. Sebab lewat pemikirannya, (seakan) ia ingin menasihati kita para calon penyoblos agar mampu menilai seseorang dengan tepat lewat metode yang ia usulkan. Jika istilah ad hominem biasanya kita dengar sebagai salah satu jenis dari kerancuan berpikir, Nietzsche akan berkata lain, bahwa argumentum ad hominem sesungguhnya memiliki peran sentral dalam genealogi moralnya, yakni sebagai metode untuk mendiagnosis pandangan kita terhadap realitas secara lebih mendalam.
Nietzsche menggunakan argumen ad hominem untuk menelanjangi apa yang diterima orang begitu saja sebagai kebenaran dan moralitas. Caranya menelanjangi berbagai konsep kebenaran dan moralitas suatu pemikir adalah dengan mencari relasi esensial antara pikiran atau ide dan pemikir bersangkutan. Cara menelanjangi berbagai konsep moralitas seperti inilah yang membenarkan argumen ad hominem (Robert C. Solomon, 1996: 193). Baginya, kualitas atau nilai dari suatu pemikiran, misalnya paham moralitas tergantung pada manusia bersangkutan dan konteks di mana nilai atau kualitas itu terbentuk. Kontekstualitas argumen ad hominem ini bisa kita temukan setidak-tidaknya pada dua ranah kehidupan praktis, yakni ranah profesional dan ranah kehidupan sehari-hari. Pada ranah profesional, kita biasanya mengakui dan menerima begitu saja kapasitas profesi yang dimiliki seseorang lewat gelar yang ia sandang, atau lewat sertifikat yang ia punya. Keahlian, sertifikasi, pengakuan internasional, merupakan beberapa contoh pengandaian yang berlaku di ranah profesional, dan yang pada akhirnya mendudukkan orang yang memegang keahlian tersebut pada suatu posisi atau profesi tertentu. Argumen ad hominem persis melakukan investigasi terhadap pengandaian tersebut, yakni dengan menilik objektivitas, atau semacam prinsip bebas nilai yang diterapkan dengan sumpah atau janji, serta diawasi oleh pranata kode etik posisi atau profesi itu. Argumen ad hominem menilik dasar pengandaian tersebut bukan pada sumber pengetahuannya, melainkan pada kaitan antara keahlian dan pegangan ideologinya.


Argumentum Ad hominem dan Genealogi
         Argumen ad hominem[7] merupakan metode yang sering digunakan dalam kehidupan bersama terlebih dalam berbagai dialog atau pun debat. Bukan hal yang baru ketika masyarakat melihat (setidaknya di televisi) bagaimana antara satu calon pemimpin/politisi dengan yang lainnya saling menyerang dengan menggunakan argumen ad hominem. Banyak hal yang bisa dikaitkan sebagai senjata, misalnya saja, membawa-bawa ras, agama, cara kerja masa lalu musuh-politik bersangkutan hingga kredibilitas partai di mana sang lawan tersebut bernaung.[8] Sementara berbagai ide atau visi yang dilemparkan terkait kesejahteraan rakyat tidaklah diperhitungkan bahkan tidak ditanggapi oleh pihak lawan. Adapun tujuan penggunaan argumen ad hominem yang dipakai tersebut adalah untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa sang lawan bukanlah pribadi yang benar-benar sempurna dan layak memangku jabatan pemimpin.
         Lalu, sebenarnya apakah layak argumen ad hominem ini digunakan dalam perdebatan? Kita bisa saja dengan cepat langsung mengatakan bahwa argumen ad hominem tidak tepat karena ketika seseorang menjadi seorang pemimpin, sudah seharusnyalah ia memiliki ide atau visi yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat dan tidak hanya berdasarkan latar belakang ras atau pun agamanya saja. Namun, argumen ad hominem tidak serta-merta secara universal dapat dikatakan keliru. Argumen ad hominem sah saja digunakan dalam kasus-kasus tertentu. Misalnya, pada kasus persidangan di mana saksi yang memberi kesaksian kemudian “diserang” dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada kaitannya dengan kasus melainkan lebih mengarah kepada kehidupan saksi tersebut. Hal itu bisa saja dilakukan mengingat bahwa saksi bisa jadi dibayar untuk tidak mengatakan yang sebenarnya sehingga objektivitas dari kesaksiannya dipertanyakan. Jadi penekanan argumen ad hominem adalah membongkar hingga ke kedalaman sehingga yang dianggap kebenaran benar-benar ditelanjangi dan dianalisis kemurnian atau objektivitasnya.
Dengan strategi ad hominem, sebenarnya Nietzsche menampilkan diri sebagai seorang pemikir yang menaruh curiga pada setiap pernyataan dogmatis, yaitu pernyataan yang menetapkan konsep dan teori tertentu untuk berlaku secara pasti dan universal. Selain itu, ia juga mengarahkan perhatiannya pada kecenderungan moral seseorang yang terwujud dalam kebajikan serta kecacatan moralnya. Kecurigaan Nietzsche tersebut dapat dipahami sebagai semacam diagnosis. Maksudnya, Nietzsche mendiagnosis berbagai bentuk acuan nilai dan mengungkapkan yang sesungguhnya menjadi pendorong orang untuk mematuhi atau melaksanakan nilai tersebut. Diagnosis Nietzsche ini bersifat spekulatif, dan cara kerjanya adalah melalui penerapan argumen ad hominem (Solomon, 2003: 99).
Argumen ad hominem itu sendiri merupakan dasar dari genealogi moral. Artinya dengan menggunakan metode ad hominem sebenarnya Nietzsche ingin membongkar apa yang di-fixed-kan begitu saja, baik oleh tradisi, maupun oleh ajaran agama. Dengan demikian ia ingin mencari sesuatu nilai yang lebih mendalam dari suatu realitas. Genealogi itu sendiri bagi Nietzsche adalah pertanyaan tentang apa yang kumaui sesungguhnya saat aku menghendaki sesuatu. Apa yang sesungguhnya dikehendaki oleh kehendak, itulah yang dilacak dan dicari. Isi pemikiran filosofis, isi doktrin, dan metode saintifik digunakan hanya sebagai symptom. Persoalan yang diajukan oleh genealogi bukanlah kebenaran atau kesalahan doktrin ideal, melainkan persoalan tersebut hanya diperlakukan sebagai symptom untuk diselidiki oleh sang fisio-psikolog (Setyo Wibowo, 2004: 171). Lebih lanjut lagi, Nietzsche mengatakan bahwa terhadap apa pun yang di-fixed-kan, hal tersebut akan didiagnosis ke kebertubuhan pemikir, ke soal bagaimana mekanisme penghendakan si pemikir bekerja. Metode ini mengarahkan bukan pada argumentasi rasional, tetapi mencari alasan pemikiran seperti itu dikehendaki, dimaui, dan dipercayai (Setyo Wibowo, 2004: 172).
Genealogi juga merupakan sebuah proyek untuk mencari asal-usul dari nilai-nilai. Hal ini diangkat oleh Nietzsche berdasarkan ketidaksetujuannya terhadap pandangan tradisional yang menganggap bahwa nilai-nilai memiliki kebenaran pada dirinya sendiri terlepas dari campur tangan manusia. Penelusuran historis terhadapnya mau menghalau asumsi-asumsi metafisis, sambil berpaling kepada situasi real terbentuknya nilai-nilai tersebut. Studi sejarah moralitas pada zaman Nietzsche sebenarnya sudah dimulai oleh Paul Ree. Akan tetapi, Nietzsche tidak setuju dengan pandangannya karena masih memuat asumsi-asumsi kebenaran final. Sejarah yang dimaksudkan Ree masih bercampur dengan teori evolusi Darwin yang mau menunjukkan alur maju sejarah perkembangan manusia. Hal ini ingin ditolak oleh Nietzsche.
Ree memang menyusun sebuah “sejarah moralitas” namun sejarah yang dimaksud masih berkutat dengan spekulasi metafisis bahwa ada perkembangan linear menuju suatu tujuan tertentu seperti dalam teori evolusi. Apa yang ditawarkan oleh genealogi adalah sejarah yang berwarna “abu-abu”—tanpa cerita-cerita romantik perkembangan manusia, yang berkutat dengan “teks hieroglif panjang, yang sulit dipecahkan, dari masa lalu moralitas manusia”—inilah yang tidak dimiliki oleh Ree. Artinya, jika kita mau jujur mempelajari sejarah—dokumen-dokumen masa lalu, kita akan menemukan kompleksitas dan keterpecahan situasi-situasi dan kejadian-kejadian yang membentuk moralitas, yang tidak akan bisa kita kerangkakan ke dalam sebuah alur yang rapi seperti teori evolusi. Inilah yang ingin ditunjukkan oleh genealogi: sejarah digunakan oleh genealog justru untuk mengungkap bahwa moralitas tidak punya “asal-muasal” (origin) yang utuh.[9]
Genealogi memang sebuah usaha untuk membongkar asumsi-asumsi mengenai nilai dalam pandangan tradisional serta memberi alternatif tafsiran yang baru. Namun, untuk mencapai hal itu orang tidak hanya berspekulasi, mengkritik sana-sini tanpa rujukan yang jelas. Sebaliknya, untuk mencapai kritik semacam itu seorang genealog harus terlebih dahulu mencemplungkan diri di antara tumpukan dokumen dan arsip-arsip sejarah; mengumpulkan berbagai macam sumber dari mana saja, mempelajarinya dengan teliti untuk kemudian menjadikannya alat membongkar asumsi-asumsi tradisional.
Genealogi, seperti yang dikatakan Nietzsche pada “Genealogy of Morals” pada bagian pengantar paragraf dua, adalah sebuah usaha untuk mencari asal-usul dari nilai-nilai (Nietzsche, 1956: 150). Namun, asal-usul seperti apa yang dimaksud? Berhadapan dengan dokumen-dokumen sejarah yang menunjukkan kompleksitas kejadian-kejadian, penyimpangan-penyimpangan, dan kesalahan-kesalahan, seorang genealog tidak akan berpretensi untuk memperbaiki susunan tidak beraturan ini dan menyusunnya dalam sebuah skema rapi. Sebaliknya dengan dokumen-dokumen tersebut, ia akan menunjukkan bahwa yang ada di balik nilai-nilai yang kita pegang selama ini ternyata lahir dari segala macam kompleksitas kejadian-kejadian seperti itu dan dengan begitu punya asal-usul timpang yang dengannya tidak dapat lagi orang berkata bahwa nilai itu punya keluhuran yang intrinsik di dalamnya. Di sinilah letak peran dari argumentum ad hominem yang digunakan Nietzsche. Argumentum ad hominem digunakan bukan dalam rangka menjelaskan kerancuan relevansi atau kesalahan berpikir, namun dalam rangka ingin menunjukkan sesuatu yang sungguh real, sesuatu yang melampaui, dan sesuatu yang bagi para genealog penting, yakni melihat/mendiagnosis gejala yang nampak dari tindakan agar akhirnya manusia atau kita dapat mengetahui realitas seada-adanya.
           Nietzsche menolak realitas yang seringkali ditujukan berada di balik dunia senyatanya, yang menurut Platon adalah idea, menurut Descartes adalah kesadaran, atau bagi Kant adalah das ding an sich. Bagi Nietzsche, realitas yang ada itu adalah realitas seada-adanya. Dalam hal ini, terlihat bahwa Nietzsche tidak ingin melihat terlalu jauh. Baginya, justru dengan melihat ke kejauhan ke dunia di sebrang sana, manusia seringkali lupa akan apa yang ada di sampingnya. Nietzsche ingin menunjukkan bahwa manusia seringkali ingin membuat fiksi tentang dunia yang lebih nyata dari kenyataan. Dan bagi Nietzsche, cogito, das ding an sich, dan roh absolut hanyalah khayalan belaka (Setyo Wibowo, 2004: 112).
           Realitas seada-adanya itu bagi Nietzsche memiliki sifat kontradiktif, ambigu, kaotik, juga benar dan salah[10]. Namun ia tidak berhenti di situ saja. Ia tentu saja berusaha untuk memahami realitas seada-adanya itu melalui kata. Dan pada saat bersamaan, ia sadar mengenai keterbatasan kata itu sendiri. Walaupun demikian, ia tetap menggunakan kata, namun tidak berujung pada fiksasi sebuah idea atau konsep. Baginya, lewat kata yang ada, pemikiran dapat membuat kita paham atas apa yang lebih luas lagi (Setyo Wibowo, 2004: 236).
Nietzsche beranggapan bahwa realitas bersifat kaotik dan konsep-konsep tentangnya selalu merupakan merupakan peng-kata-an terlambat dalam usaha meng-kosmos-kan kaos tersebut. Realita yang kaotik ini membuat orang terserak-serak: terlempar dari satu situasi ke situasi lain, merasakan denyut-denyut hasrat yang tidak beraturan di dalam dirinya dan sebagainya. Manusia tidak akan tahan hidup di dalam realita yang membuatnya terserak seperti ini. Maka, dari dalam dirinya selalu ada kompleksitas kehendak yang bekerja untuk mengomando dirinya sendiri, keluar dari situasi keterpecahan menuju keutuhan. Namun, kehendak selalu dapat dibedakan antara yang kuat dan yang loyo. Genealogi adalah suatu usaha untuk mengungkap kehendak di balik setiap moralitas; apa yang terungkap bukan masalah benar-salahnya moralitas tersebut, melainkan kualitas kehendak yang menghendakinya. Moralitas yang di-fixed-kan, diberi sifat ilahi, dan diluhurkan hanya menunjukkan sifat loyo dari kehendak seseorang. Genealogi akan memperlihatkan bahwa berhadapan dengan realitas yang kaotik, orang tersebut tidak mampu mengukuhkan dirinya sendiri sehingga memilih untuk mencari pegangan di luar dirinya yang dengannya ia merasa utuh. Hasilnya adalah moralitas-budak, yaitu moralitas yang di dalamnya orang memberikan diri tunduk kepada otoritas konsep-konsep atau nilai di luar dirinya. Apa yang akhirnya tampak melalui genealogi adalah bahwa di balik nilai-nilai yang dianggap luhur, punya esensi, tetap, dan sebagainya ternyata merupakan produk dari apa yang terpecah-pecah. Moralitas bermula dari respons orang terhadap realita yang kacau. Kalau ada asal-mula, asal-mula tersebut bersifat kaotik dan penuh kesalahan. Patut diperhatikan di sini bahwa konsep “realita sebagai yang kaotik” dalam pemikiran Nietzsche harus dimengerti sebagai peng-kata-an terlambat dari realita. Nietzsche tidak bermaksud mengungkap realita pada dirinya atau mengakomodasi keseluruhan realita di dalam kata “kaotik”. “Realita kaotik” hanyalah perkataan sementara yang tidak berpretensi menemukan sebuah kebenaran akhir. Perkataan ini tidak dimaksudkan untuk menangkap realita yang tidak terkatakan, yang sudah mendahului kata “realita kaotik” itu sendiri.

>>> Bersambung “Bagian II”...


[1] Saya berterima kasih kepada Dr. A. Setyo Wibowo, dosen pengajar mata kuliah Gaya Filsafat Nietzsche pada Program Pasca Sarjana STF Driyarkara, yang telah memberi banyak masukan (dalam seri kuliahnya) bagi pengembangan tulisan ini.
[2] Saat ini masih menyelesaikan studi master di bidang filsafat di STF Driyarkara, Jakarta.
[3] D’ou venons-nous? Qui sommes-nous? Ou allons-nous? Dari mana kita? Siapa kita? Dan akan kemana kita? Adalah pertanyaan yang menjadi cikal bakal lukisannya. Lihat berita selengkapnya di http://www.gauguin.org/where-do-we-come-from-what-are-we.jsp.
[4] “Kita bisa mengikuti langkah-langkah Nietzschean justru ketika kita menjadi diri kita sendiri. Personalitas pengalaman Nietzschean tidak bisa dipahami dari luar –seolah-olah menjadi pengamat yang membedah korpus Nietzschean. Ia justru bisa dipahami manakala kita sendiri memahami pengalaman personal kita.” Setidaknya dalam kata pengantar buku Gaya Filsafat Nietzsche yang diuraikan oleh Sindhunata digunakan istilah Gnosi se auton yang bermakna: kenali dirimu sendiri! Lihat. Setyo Wibowo, Gaya Filsafat Nietzsche. (Jakarta: Galang Press, 2004) hlm xi.
[5] Sitok Srengenge adalah seorang kurator seni di komunitas Salihara Jakarta.
[6] BDK dengan sebuah ulasan menarik mengenai sikap para parpol di Indonesia yang ditulis di salah satu blog alumnus STF Driyarkara, yang saat ini sedang mengenyam pendidikan di Roma, Italy. http://nikolaskristiyantosj.wordpress.com/2012/08/19/parpol-butuh-sikap.
[7] Istilah ad hominem setidaknya oleh sebagian besar orang dikenal pertama kali dalam kelas-kelas logika. Sebab memang benar, bahwa ad hominem masuk dalam ranah logika, terutama dalam “kelompok” kerancuan berpikir. Dalam buku “Pengantar Logika” yang ditulis oleh Arief Sidharta, dikemukakan bahwa argumentum ad hominem adalah bagian dari kerancuan relevansi. Lebih lanjut, Arief Sidharta yang mengutip Irving Copi, menjelaskan bahwa dalam kerancuan relevansi terdapat sepuluh jenis kerancuan, salah satunya adalah argumentum ad hominem. “Kerancuan ini (argumentum ad hominem) terjadi jika suatu argumen diarahkan untuk menyerang pribadi orangnya, khususnya dengan menunjukkan kelemahan atau kejelekan orang yang bersangkutan, dan tidak berusaha secara rasional membuktikan bahwa apa yang dikemukakan orang yang diserang itu salah”. Lihat. Arief Sidharta, Pengantar Logika. (Bandung: PT Refika Aditama, 2010) hlm. 60.
[8] Sebagai contoh, dalam majalah Indonesia 2014 no 6/volume 1 Tahun 2013 dituliskan di situ “Dua tahun lalu, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dengan enteng menghinanya sebagai walikota (ndeso) yang bodoh karena menolak pembangunan mal di Solo […] Politisi Partai Demokrat, Ruhut Sitompul pun menghinanya dengan sindiran ‘mana bisa tukang mebel jadi capres’”. Dari ungkapan tersebut, Jokowi terlihat diserang dengan menggunakan ad hominem, karena penyerangannya diarahkan kepada orang yang bersangkutan, bukan kepada argumentasi.
[9] Pandangan mengenai genealogi Nietzsche ini pada akhirnya dikritik dan dilampaui oleh Foucault. Apa yang dipahami Foucault sebagai genealogi dalam banyak hal masih sejalan dengan Nietzsche, yaitu dalam hal konsep dasar dari genealogi sebagai sebuah usaha, dengan memakai sejarah, mengungkap asal-usul nilai-nilai yang akan membongkar asumsi finalitas. Namun persis di sini juga terlihat perbedaan, bahwa Foucault menyerukan kematian subjek sementara Nietzsche tidak sampai se-ekstrem itu. Titik perbedaan lainnya adalah bahwa genealogi Foucault dipraktikkan di dalam sebuah disiplin studi yang ketat, bergumul dengan dokumen-dokumen sejarah dan menuliskan fakta-fakta yang detail, sementara pada Nietzsche tidak. Dapat terlihat bahwa Foucault mengekstrimkan Nietzsche.“Genealogy does not oppose itself to history as the lofty and profound gaze of the philosopher might compare to the molelike perspective of the scholar; on the contrary, it rejects the metahistorical deployment of ideal significations and indefinite teleologies. It opposes itself to the search for ‘origins’.” Bdk. Michel Foucault. “Nietzsche, Genealogy, History” dalam Essential Works of Foucault 1954-1984. (New York: New Press, 1998) hlm. 370.
[10] Bdk. Setyo Wibowo, Gaya Filsafat Nietzsche. (Jakarta: Galang Press, 2004) hlm 111 dan 114.

Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar