Nasihat Nietzsche bagi Calon Pemimpin (Bag-2)

                                        Nasihat Nietzsche bagi Calon Pemimpin[1]
(Peran Argumentum ad Hominem dalam Genealogi Moral) 
Yogie Pranowo[2]


Sumber pict: https://www.pinterest.com/pin/299489443941453939/



Peran Tubuh bagi Pemikiran
Nietzsche sering mengklaim dirinya sebagai seorang psikolog (Solomon, 1996: 180), yang seringkali tidak ditanggapi secara serius oleh para filsuf. Apabila filsuf menyatakan dengan tegas tentang kebenaran dari suatu hal yang dipercayai, maka para psikolog lebih tertarik kenapa seseorang memercayai sesuatu. Seorang psikolog lebih cenderung memeriksa mengapa seseorang berpegang atau percaya pada “kebenaran-khusus” sedangkan seorang filsuf memeriksa apa “kebenaran” itu. Nietzsche sendiri mengatakan bahwa psikologi-lah jalan menuju problem yang fundamental. Namun psikologi yang dimaksudkan Nietzsche bukanlah seperti pemahaman psikologi modern (yang pada umumnya). Psikologi bagi Nietzsche bukan berhubungan dengan kisah atau cerita tentang pikiran. Psikologi bagi Nietzsche berhubungan dengan tubuh, tentang pembentukan diri melalui praktik (dinamika) sosial beserta pengarahnya.
Apabila doktrin filosofis menyajikan keuniversalan dan keniscayaan, maka analisis psikologis pastilah tetap akan terikat pada kontingensi partikular dari kerpibadian atau diri seseorang. Hal tersebut bisa terlihat pada serangan Nietzsche terhadap Sokrates di mana ia malah mengejek Sokrates sebagai si miskin yang buruk rupa atau menyebut Kant sebagai dekadensi Jerman. Nietzsche memandang dirinya sendiri sebagai pakar diagnostik, dan filsafatnya sendiri terdiri dari begitu banyak diagnosis spekulatif, mengenai kebijaksanaan mau pun sifat buruk dari mereka yang bukunya dia baca. Argumentum ad hominem yang digunakan oleh Nietzsche tidaklah sebegitu telak membuktikan kesalahan dengan terkadang bertitik tolak dari emosi pathetic. Nietzsche melakukan refleksi dan spekulasi tentang motif dan emosi tersembunyi yang menggerakkan orang-orang tentang “moral” dan secara dogmatis membela berbagai kepercayaan. Dia ingin memahami apa yang disebutnya sebagai “kehendak akan kebenaran” dan dia ingin merambah ke sifat asli dari sentimen prasangka tersebut sebagai belas kasih, kesalehan, dan terutama sekali apa yang terjadi dengan “cinta”. Di atas itu semua, dia ingin melacak perubahan dari serangkaian kemunafikan yang khas serta tersembunyi namun membahayakan dari emosi-emosi yang memungkinkan munculnya sesuatu yang kemudian kita sebut sebagai “moralitas”, khususnya “ressentiment” beserta prinsip dan prasangka moralnya yang berjangkauan jauh.
Nietzsche juga merupakan seorang pemikir yang berusaha membawa kembali peran penting tubuh bagi pemikiran. Ia tidak setuju dengan pandangan bahwa pemikiran adalah sesuatu yang dapat lepas sama sekali dari tubuh. Pemikiran tidak hanya keluar dari roh atau jiwa manusia, melainkan dari seluruh kebertubuhan manusia itu sendiri, dari darah dan dagingnya. Nietzsche melawan setiap pemikiran dualistik tentang manusia yang memperlawankan tubuh dan jiwa. Baginya, tubuh adalah pemikiran dan tidak ada pemikiran yang tidak bertubuh (Setyo Wibowo, 2004: 43-44). Doktrin bahwa ada pemikiran yang terlepas dari kebertubuhan hanyalah merupakan pelarian seorang pemikir dari realita kebertubuhan yang penuh dengan impuls-impuls, keresahan-keresahan, hasrat, dan instabilitas yang sulit dikendalikan. Hal ini hanya akan menunjukkan keloyoan kehendak sang pemikir yang tidak berani berhadapan dengan realitas yang kaotik. Dengan buah pemikiran yang mereka anggap terlepas dari tubuh: esensi, sifat tetap, keluhuran, dan sebagainya. Mereka dapat merasa lebih nyaman, sebab realita mereka percayai sebagai suatu keteraturan. Apa yang ditunjukkan dari hal itu adalah bahwa pemikiran yang mencari esensi tetap hanyalah ilusi akibat kesalahpahaman mereka atas tubuh; “jangan-jangan semua filsafat sampai saat itu hanyalah sebuah eksegesis terhadap tubuh dan kesalahpahaman terhadap tubuh.” Menurut Nietzsche seluruh filsafat, etika, sains, atau pandangan apa pun yang berpretensi menemukan kebenaran akhir.

“[…] apakah bukan penyakit yang mengilhami si filsuf. Kebutuhan fisik yang disamarkan dengan topeng objektivitas, ide, intelek murni, bisa mengambil bentuk yang mengerikan—dan setelah saya menghitung ini semua, saya sendiri sering bertanya pada diri saya sendiri, jangan-jangan semua filsafat sampai saat itu hanyalah sebuah eksegesis terhadap tubuh dan kesalahpahaman terhadap tubuh.” (Nietzsche, 2003)

Perkataan ini berada dalam konteks membahas hubungan sakit dengan pemikiran bahwa penyakit yang tidak dihadapi secara waspada dapat membuat orang untuk mengambil reaksi yang naif, yaitu lari kepada pemikiran-pemikiran final. Dengan ini genealogi menolak analisis pemikiran yang melulu hanya berkutat pada soal bagaimana satu pemikiran kontras dengan pemikiran lain atau bagaimana rasionalitas dari suatu sistem nilai. Genealogi akan mengungkap relasi pemikiran seseorang dengan tubuhnya; pemikiran adalah hasil dari bagaimana orang menanggapi keadaan tubuhnya yang penuh instabilitas dan keterserakan. Teori tradisional beranggapan bahwa sebuah idea dapat ditegakkan oleh suatu oknum karena memang sejak awal oknum tersebut hendak memperjuangkan sebuah tujuan. Penjara, misalnya, dibuat agar mendatangkan efek jera. Genealogi akan curiga dengan pemahaman seperti ini. Genealogi akan menyingkapkan bahwa yang mendorong munculnya idea-idea bukanlah suatu tujuan rasional melainkan permainan dominasi/ kekuasaan.
Apa yang genalogi tunjukkan malah bahwa perjanjian damai itu sendiri adalah wujud dari dominasi yang sedang menang. Dominasi lain tidak akan berhenti dan terus membayangi dan mengulangi adegan yang sama di balik layar. Perjanjian damai selalu saja terancam oleh kekuatan baru yang ingin meruntuhkannya. Nietzsche, masih mengandaikan adanya pemberian style atau gaya pada realitas yang mengandaikan secara niscaya sebuah diri-seniman atau subjek yang utuh (Setyo Wibowo, 2004: 253). Di dalam pemikiran Nietzsche kita tidak hanya mengenal manusia dekaden, yang terjerat di dalam permainan kekuasaan otoritas di luar dirinya. Kita juga mengenal manusia menaik, yang dengan kreativitas mengolah kaos di dalam dirinya menjadi kosmos tanpa terjebak di dalam ide fix. Hal ini mengandaikan adanya subjek “hidup”—yang lahir dari kompleksitas penguasaan dorongan kaotik—yang tidak tunduk atau bergantung kepada kekuatan di luar dirinya, sebaliknya mampu memerintah dan mengukuhkan dirinya sendiri.
Nietzsche tidak memaksudkan kata dan konsep “kehendak” dapat mengakomodir keseluruhan kedalaman realita. “Kehendak Kuasa” hanyalah peng-kata-an terlambat dari realita yang tidak bisa begitu saja disingkap sepenuhnya. Di dalam Nietzsche dibedakan realitas sebagai ke-dalam-an dan realitas pada permukaan.Peg-kata-an atau konsep-konsep kita mengenai realita hanyalah menyentuh permukaan realita, tetapi tidak pernah merengkuh ke-dalam-annya. Maka, pada pemikiran Nietzsche selalu masih diberikan ruang bagi ke-dalam-an realita yang tidak dapat disingkap begitu saja. Realitas adalah kedua-duanya: ke-dalam-an dan permukaan.


Moralitas dalam Perspektif Nietzschean
            Lewat penggunaan argumen ad hominem, Nietzsche ingin kita melihat melampaui permukaan moralitas tradisional untuk masuk ke dalam perkembangan historis dan manusia aktual di balik moralitas tersebut (Solomon, 1996: 187). Apa yang dianggap benar secara moral tergantung pada konteks seperti bagaimana pandangan seseorang, budaya, dan pengalaman baik dalam keluarga, teman, kelas dalam masyarakat serta posisi finansial seseorang (Solomon, 1996: 195). Pandangan moralitas Nietzsche yang seperti ini sangat terkait dengan pandangan perspektivisme yakni, bahwa seseorang selalu mengetahui atau berpikir tentang sesuatu dari perspektif tertentu saja (Solomon, 1996: 195). Dari sinilah kita bisa melihat bagaimana bangunan moralitas Nietzsche juga terkait dengan perspektivisme. Lantas pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bagaimana menjelaskan posisi kebenaran seturut kerangka perspektivisme dalam pandangan moralitas Nietzsche?
          Pandangan moralitas Nietzsche yang lekat dengan perspektivisme melahirkan pertanyaan mengenai apakah ada kebenaran dalam dirinya sendiri? Perspektivisme jika tidak dibawa hati-hati dapat melahirkan kesalahan interpretasi sehingga jatuh pada relativisme. Ada dua kesalahan yang mungkin muncul yakni; pertama, anggapan bahwa interpretasi tidak memiliki dasar dan perspektif yang satu dengan lainnya tidak bisa dibandingkan. Kedua, perspektivisme tidak memiliki dasar darimana suatu perspektif tidak bisa di evaluasi kebenarannya (Solomon, 1996: 196). Dengan kata lain, setiap pemikiran tidak bisa dievaluasi kebenarannya karena tidak memiliki dasar dan tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Anggapan ini tentulah tidak tepat karena suatu perspektif selalu merupakan perspektif akan sesuatu. Sangat mustahil jika kita berbicara mengenai perspektif dari sesuatu tanpa melibatkan perbandingan perspektif dalam kaitannya dengan “sesuatu” tersebut. (Solomon, 1996: 196). Lalu bagaimana dengan kebenaran atau fakta itu sendiri? Jawabannya bisa ditemukan dalam karyanya “Beyond Good and Evil” di mana ia mengklaim bahwa tidak ada fakta-fakta, yang ada adalah interpretasi. (Solomon, 1996: 196).
          Kebenaran terkait perspektivisme dalam filsafat Nietzsche ini harus dilihat dalam konteks moralitas yang dibangunnya. Nietzsche membedakan dua jenis moralitas yakni; moralitas tuan dan moralitas budak yang diperkenalkannya lewat genealogi moral yang tak lain adalah penyingkapan kedok nafsu-nafsu, berbagai kebutuhan, ketakutan, dan harapan yang terungkap dalam sebuah pandangan moralitas (Hardiman, 2011: 232). Baik kebenaran maupun moralitas yang berkembang dalam masyarakat adalah hasil bentukan dari kepribadian sang pemikir dan konteks kehidupannya.
          Dalam moralitas tuan, moral merupakan ungkapan hormat dan penghargaan terhadap diri mereka sendiri. Mereka sangat yakin bahwa apa yang dikerjakan adalah baik dalam arti “ningrat” namun tidak mengatakan bahwa moralitasnya berlaku universal (Hardiman, 2011: 232). Bagi para tuan, yang menjadi persoalan bukanlah baik atau jahat melainkan apakah tindakan tersebut merupakan tindakan “ningrat” atau rendah. Berbeda dengan moralitas kaum tuan, kaum budak sangat terobsesi dengan persoalan yang melibatkan kategori jahat dan keutamaannya (Solomon, 1996: 206). Dengan kata lain, suatu tindakan dilihat mereka dalam kerangka baik atau jahat. Salah satu contoh menarik yang diberikan Nietzsche terhadap jenis moralitas ini adalah perumpamaannya mengenai domba dan elang. Dalam perumpamaan tersebut, para domba merasa sangat marah kepada elang yang selalu menukik dan berusaha untuk mengambil salah satu domba. Kemarahan para domba tidak bisa dilampiaskan kepada elang karena mereka tidak mempunyai kemampuan untuk melawan elang. Para domba yang membenci elang kemudian membentuk suatu pemikiran yakni elang merupakan makhluk yang jahat dan domba sebagai korban adalah yang baik. Berbeda dengan domba, sang elang justru sangat menyukai domba. Elang mencintai daging domba sehingga tidak ada alasan untuk membenci domba-domba itu.[3] Cerita tersebut menggambarkan bagaimana Nietszche melihat moralitas di zamannya seperti layaknya para domba. Domba-domba tersebut tidak bisa menguasai elang dan dalam kemarahannya yang tak disertai kemampuan untuk membalas, para domba kemudian berusaha menguasai elang dalam dunia nilai di mana elang dikategorikan sebagai “yang jahat”. Moralitas domba inilah yang disebut Nietszche sebagai moralitas kaum budak. Moralitas ini menuntut adanya suatu universalitas moral yang menguntungkan para kaum tertindas.
            Dengan membentuk dalam pikirannya bahwa kaum tuan adalah “jahat” maka setiap kualitas dan tindakan dari kaum tuan pun dijungkirbalikan. Segala kualitas baik yang dimiliki kaum tuan yakni, kedaulatan diri, kekuasaan, dan keningratan dibenci dan diganti oleh kualitas seperti, simpati, kelemahlembutan, kerendahan hati. (Hardiman, 2011: 233). Moralitas budak inilah yang dipertahankan oleh kebudayaan barat. Dengan demikian, moralitas budak dibentuk bukan oleh kumpulan persoalan sosial melainkan oleh kondisi pathetic dari pikiran, yang merupakan kumpulan emosi-emosi reaktif. (Solomon, 2006: 207). Emosi reaktif menunjukkan bahwa kaum budak tidaklah bertindak dari diri sendiri melainkan menunggu atau tergantung pada aksi dari luar. Apa yang mendorong moralitas kaum budak ini? Bagi Nietzsche, dorongan kuat terciptanya moralitas kaum muda adalah rasa benci yang tidak bisa disalurkan lewat tindakan (ressentiment).
          Menurut Nietzsche, rasa benci ini merupakan emosi yang buruk di mana bagi kaum tuan, emosi seperti ini tidak ada dan tidak dapat dirasakan oleh mereka (Solomon, 2006: 210). Emosi kebencian yang dipendam oleh kaum budak ini suatu saat meledak menjadi kekuatan yang besar untuk mengalahkan kaum tuan. Namun usaha mengalahkan ini bukanlah terjadi di dalam dunia nyata seperti politik ataupun hukum melainkan terjadi pada dunia imajiner di mana tatanan nilai dijungkirbalikkan. Dengan kata lain, ressentiment menjadi daya kreatif untuk menciptakan nilai-nilai (Hardiman, 2011: 233). Nilai-nilai dari manusia unggul atau kaum muda diturunkan derajatnya sebagai “nilai yang jahat” sementara nilai kaum budak dinaikkan menjadi “nilai yang baik”. Moralitas kaum budak inilah yang dikenal sebagai moralitas kristiani di mana segala apa yang rendah, lemah, celaka, jelek, dan menderita malah disebut “baik” ( Hardiman, 2011: 234).
          Dari penjabaran mengenai moralitas tersebut, kita bisa melihat bagaimana Nietzsche menggunakan argumen ad hominem untuk menjelaskan apa sebenarnya yang ada di balik moralitas masyarakat. Ia mempertanyakan moralitas kristiani yang berkembang pada masanya dan mencoba menganalisa bukan pada seberapa benar argumen atau pemikiran terkait suatu moral melainkan mencoba menggali intensi-intensi yang ada di balik moral tersebut. Tujuan dari analisa Nietzsche ini bukanlah pertama-tama untuk mengagungkan moralitas kaum tuan di atas kaum budak, melainkan semata-mata sebagai tanggapan kita kepada realitas yang kaos. Ia menunjukkan bahwa kita patut merasa curiga akan berbagai hal di balik setiap klaim kebenaran dan moralitas. Jika kita kembali melihat pandangannya mengenai moralitas maka bisa kita katakan bahwa moralitas merupakan hasil bentukkan dari manusia bersangkutan dan konteks kehidupan di mana manusia itu berdiam. Namun, ia tidak hanya bermaksud menunjukkan bahwa moralitas merupakan hasil bentukkan dari manusia bersangkutan dan konteks kehidupan melainkan lebih dalam dari itu yakni, memeriksa manusia atau subjek bersangkutan apakah masuk dalam tipe manusia lemah/dekaden atau tipe kuat/ascenden (Setyo Wibowo, 2004: 171).
          Kedua tipe manusia di atas memiliki perbedaan dalam menerima realitas. Bagi tipe manusia lemah diperlukan kebutuhan untuk percaya. Dalam masyarakat Eropa saat itu, kepercayaan pada moralitas dan ajaran kristiani masih sangat diperlukan sehingga dapat dikatakan bahwa masyarakat Eropa menurut Nietzsche adalah masyarakat yang dekaden atau kelompok manusia lemah. Sementara manusia yang bertipe kuat adalah manusia yang mampu mengambil jarak dari kebutuhan untuk percaya ini (Setyo Wibowo, 2004: 172). Dengan demikian, moralitas kristiani tidak hanya menjungkirbalikan nilai tetapi juga menunjukkan bahwa masyarakat Eropa saat itu masihlah merupakan kumpulan manusia-manusia lemah. Manusia yang lemah tergambar jelas pada perumpamaan mengenai domba dan elang di mana domba adalah gambaran manusia lemah. Dalam kelemahannya, para domba menciptakan konsep “elang sebagai yang jahat” dan mempertahankan hal tersebut sebagai suatu kepercayaan. Terkait dengan kebutuhan akan percaya yang melanda Eropa Nietszche menulis:

“Menurutku Di Eropa saat ini kristianisme masih dibutuhkan oleh kebanyakan orang. nya mengapa kristianisme masih dipercaya. Karena manusia memang terbentuk seperti itu. Jika ia membutuhkan sebuah ajaran iman, pun jika ajaran itu dibantah dengan seribu satu macam cara, dia tidak akan berhenti untuk memegangnya sebagai ‘benar’- sesuai dengan apa yang sangat terkenal dalam kitab suci: ‘bukti yang tak terbantahkan’......” (Setyo Wibowo, 2004: 175-176)

Melalui kutipan di atas kita bisa mengetahui bagaimana pandangan Nietzsche terhadap situasi masyarakat Eropa zaman itu. Dari pandangannya mengenai kebutuhan akan percaya dan persoalan moralitas yang melanda Eropa ini, kita bisa melihat bagaimana Nietzsche berusaha sekaligus untuk mengambil jarak terhadap realitas di mana ia hidup. Dengan mengambil jarak ini, ia mampu menelaah secara lebih mendalam apa yang ada di balik moralitas masyarakat zaman itu dengan menggunakan argumen ad hominem. Argumen ad hominem oleh Nietzsche justru dipergunakan bukan untuk menyerang setiap pemikiran yang berkembang melainkan untuk menunjukkan bahwa setiap pemikiran termasuk di dalamnya moralitas perlu dikaji lebih mendalam sehingga kita menemukan pemahaman yang lebih menyeluruh.
            Filsafat Nietzsche tidak bisa hanya dinilai sebagai suatu pengakuan, dengan kata lain, isi dari filsafat Nietzsche bukan hanya terdiri dari persoalan psikologis semata. Namun tidak berarti bahwa argumen ad hominem tidak perlu diterapkan. Argumen ad hominem sendiri bukanlah semata-mata “penyerangan” atas seorang pemikir tapi lebih daripada itu, mencoba melihat latar belakang dan berbagai unsur yang mendorong terciptanya suatu pemikiran. Hal di atas sesuai dengan pandangan Nietzsche mengenai suatu pemikiran atau filsafat. Filsafat bagi Nietzsche pertama-tama bukan hanya merupakan argumen atau penolakan sebuah argumen, tetapi filsafat adalah sebuah keterikatan (Solomon, 2006: 217). Filsafat memperlihatkan pandangan dari seorang filsuf dan mengartikan keterikatannya dengan dunia serta relasinya dengan manusia lain (Solomon, 2006: 216). Dengan demikian, kita tidak hanya perlu bertolak dari isi pandangan seorang filsuf tetapi juga harus jeli memperhatikan apa yang ada di balik pemikiran tersebut.
Sebagai contoh, seseorang yang kelihatannya baik, belum tentu secara hakiki ia baik. Ada motif/dorongan tertentu yang harus diselidiki secara mendalam. Apakah seseorang yang berkelimpahan harta yang menyumbangkan sebagian hartanya untuk pembangunan sebuah rumah ibadah, pada dasarnya adalah seorang yang sungguh-sungguh baik? Atau itu hanya klise, agar ia dianggap baik? Sama halnya dengan apakah para kandidat calon presiden beserta jajarannya yang (misalkan saja) membagikan uang, sembako, dan sebagainya sungguh orang baik yang tulus membagikannya demi alasan kemanusiaan? Atau hal itu dilakukan semata-mata hanya untuk menarik simpati masyarakat agar memilihnya pada PEMILU mendatang? Bagi Nietzsche, konsep baik dapat ditinjau dari dualitas makna antinominya, yaitu buruk dan jahat. Sepanjang sejarah bagi Nietzsche, telah terjadi penjungkir-balikan nilai oleh kaum budak.[4] Budak mengatakan tidak pada segala sesuatu yang ada di luar dirinya, sementara tuan mengatakan ya. Bagi tuan, kekeliruan yang melahirkan tragedi bagi manusia adalah sebuah keberadaan di ranah yang keliru saja tetapi tidak jahat. Budak digambarkan sebagai orang yang terpecah dalam personalitasnya. Dalam “Genealogy of Morals” bagian satu paragraph 15 (Nietzsche, 1956: 182-185) dikatakan bahwa menurut Nietzsche, apa yang memperbudak manusia tak lain adalah adanya determinasi Allah yang ironisnya diciptakan dalam konsep manusia yang serba terbatas. Outlet-nya adalah kecemburuan hebat atau ressentiment terhadap yang berbau moralitas tuan. Ia mengekang diri demi pembalasan yang tidak mampu diusahakan kepada sang pemberani. Inilah yang harus dikerjakan: Nietzsche’s ja-saagen, a re-evaluation of all values, a new determination, a new comportment toward existence. Evaluasi nilai baik dan buruk harus dilakukan agar manusia menjadi tuan atas dirinya sendiri. Re-evaluasi nilai berarti melampaui apa yang bagi moralitas popular merupakan baik dan buruk.


Penggunaan ad hominem
Pada bulan April tempo lalu, bangsa Indonesia merayakan tahun politiknya, dengan agenda pencoblosan untuk memilih wakil rakyat untuk periode lima tahun. Namun, menjelang pesta politik tersebut, rakyat kebingungan untuk menentukan pilihannya. Rakyat bingung untuk memilih serta bingung untuk percaya kepada siapa, sebab seperti tak ada perbedaan antara sikap parpol yang satu dan lainnya. Apalagi mendekati waktu pencoblosan, begitu banyak iklan-iklan yang bukan hanya ada di layar kaca televisi, tetapi juga di jalan-jalan ibu kota yang kerap menyilaukan mata karena janji-janji mereka yang bernada sama, yakni demi kepentingan rakyat. Tidak jelas demi kepentingan rakyat yang mana dan seperti apa.
Hal ini menimbulkan persoalan. Kendati persoalan ini sebenarnya dapat diatasi jika pihak yang terlibat secara khusus, pihak yang ada dalam parpol mau merefleksikan hidupnya dengan lebih serius lagi, dengan lebih dalam lagi. Hal itu dapat ditempuh salah satu caranya dengan mendengarkan dan menjalankan laku-tapa dari pemikiran Nietzsche. Bagi Nietzsche kedalaman hanya bisa dialami sendirian lewat refleksi. Pengkataan akan kedalaman tak akan pernah mengatakan kedalaman itu sendiri. Alih-alih mengungkapkan secara persis apa yang mau dikatakan, kata ternyata hanya topeng atas apa yang mau dikatakan. Kesadaran tajam akan keterbatasan kata sebagai topeng itulah yang membuat Nietzsche memasukkan dirinya pada permainan topeng. Topeng adalah penyamaran, dan sejauh itu pula, bagi Nietzsche, topeng adalah strategi untuk menyampaikan kedalaman. Dalam “The Gay Science” paragraf 381, Nietzsche mengatakan bahwa kita tidak hanya ingin dimengerti saat kita menulis sesuatu, tetapi juga supaya tidak dimengerti oleh sembarang orang.[5] Dia tidak mau dipahami secara gampangan dan mengajak setiap pembacanya untuk menjadi dirinya sendiri. Pengalaman kedalaman mesti dimiliki justru supaya orang bisa menari di permukaan dengan topeng tanpa tergoda untuk mengeraminya. Topeng bagi Nietzsche, selain menyamarkan sesuatu di balik topeng juga berarti menyuarakan dan mengomunikasikan secara lebih keras kedalaman yang ingin disuarakan. Nietzsche bermain dengan topeng, bertahan di level permukaan, bukan karena dia tidak tahu soal kedalaman tetapi justru karena dia tahu diri di depan apa yang mendalam. Lagi pula sudah kodratnya kedalaman untuk selalu menyelubungi dirinya dengan penyamaran.


Penutup
Dengan gaya argumentasi filsafatnya, yakni dengan memakai analisis geneologi yang mengejawantahkan teori perspektivisme dan argumentasi ad hominem, Nietzsche menyerang ketetapan Logika sebagai metode berpikir yang tunggal dan universal. Dengan demikian, argumentasi ad hominem yang menyasar karakter personal dan motif pribadi seseorang sepatutnya tidak dibuang begitu saja sebagai sebuah kesesatan, melainkan dihargai berkat berbagai keutamaan yang telah ditunjukkan oleh diagnosis filosofis Nietzsche. Lewat pemikiran Nietzsche kita diingatkan bahwa tak selamanya seseorang yang terlihat mengumbar janji, atau yang terlihat baik pada dasarnya sungguh orang baik, kita harus mampu mendiagnosisnya melampaui apa yang terlihat, sebab seringkali apa yang tertangkap indera adalah tipuan. Lewat pemikirannya kita diajak untuk berefleksi untuk setidaknya mengetahui apa itu kedalaman dan apa pentingnya bagi kehidupan sehari-hari. Dengan mengikuti nasihat Nietzsche, harapan saya adalah semoga pada akhirnya kita mampu menilai dan memutuskan untuk memilih siapa orang yang cukup pantas menjadi pemimpin kita di masa yang akan datang.

                                                                                                                                                                     > >> Selesai

DAFTAR PUSTAKA

Arief Sidharta, Arief. (2010). Pengantar Logika. Bandung: PT Refika Aditama.
Copleston, Frederick. (1963). A History of Philosophy Vol VII. London: Search Press.
-------------------------. (1975). Friedrich Nietzsche: Philosopher of Culture. New York: Barnes and Nobles Books.
Foucault, Michel. (1998). “Nietzsche, Genealogy, History” dalam Essential Works of Foucault 1954-1984, hl. 369-391. New York: New Press.
---------------------. (1988). Philosophy, Politics, Culture. Interview and Other Writings 1977-1984. London: Routledge.
Hardiman, Budi F. (2011). Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern. Jakarta: Erlangga.
Hollingdale, R.J. (1985). Nietzsche: The Man and His Philosophy. London: Ark Paperbacks.
Magnis-Suseno, Franz. (1998). “F Nietzsche: Dekonstruksi Kemunafikan” dalam 13 Model Pendekatan Etika. Yogyakarta: Kanisius.
Nietzsche, Friedrich. (2003). The Gay Science. Cambridge: Cambridge University Press.
------------------------. (1956). The Birth of Tragedy and The Genealogy of Morals. NewYork: Doubleday and Company, Inc.
Sunardi, St. (1996). Nietzsche. Yogyakarta: LKiS.
Sedgwick, Peter R. (2009). Nietzsche: The Key Concepts. Oxon: Routledge.
Solomon, Robert C. (1996). “Nietzsche 'Ad Hominem': Perspectivism, Personality and
'Ressentiment'" dalam Bernd Magnus dan Kathleen M. Higgins (eds.), The Cambridge
Companion to Nietzsche. Cambridge: Cambridge University Press.
-----------------------. (2003). Friedrich Nietzsche. Dalam The Blackwell Guide to Continental
Philosophy, eds. Robert C. Solomon and David Sherman. Oxford: Blackwell Publishing Ltd.
Spinks, Lee. (2003). Friedrich Nietzsche. London: Routledge.
Wibowo, A. Setyo. (2004). Gaya Filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Galang Press.




[1] Saya berterima kasih kepada Dr. A. Setyo Wibowo, dosen pengajar mata kuliah Gaya Filsafat Nietzsche pada Program Pasca Sarjana STF Driyarkara, yang telah memberi banyak masukan (dalam seri kuliahnya) bagi pengembangan tulisan ini.
[2] Saat ini masih menyelesaikan studi master di bidang filsafat di STF Driyarkara Jakarta.
[3] Nietzsche mengilustrasikan cerita tersebut dalam teks ‘Genealogi Moral’ I, paragraf 13. Kutipan teks tersebut bisa dilihat juga dalam: Robert C. Solomon, 2006, hlm. 204-205.
[4][…] that the slaves revolt in morality begins with the Jews: a revolt which has two thousand years of history behind it and which has only been lost sight of because-it was victorious […]” Bdk. Friedrich Nietzsche, The Birth of Tragedy and The Genealogy of Morals. (New York: Doubleday & Company, inc, 1956) hlm. 173-176.
[5]One does not only wish to be understood when one writes; one wishes just as surely not to be understood […] he didn’t want to be understood by just anybody […]” Bdk. Friedrich Nietzsche, The Gay Science. (Cambridge: Cambridge University Press) hlm. 245.
Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar