Merelakan yang Telah Pergi

Oleh: Maryama Nihayah






“Apakah jiwa orang yang sudah mati dapat kembali lagi?” tanyanya tiba-tiba kepadaku mengawali percakapan kami.

Disulutnya rokok di genggaman kedua jarinya, dihisapnya dalam-dalam lewat mulut. Asap rokok yang mengepul tebal tepat di depan wajahnya, ditambah temaram lampu neon warung yang menerangi kami, menghalangiku untuk menyelidiki raut wajahnya saat melontarkan pertanyaan itu, apakah ia serius atau tidak.

“Kemana perginya jiwa orang-orang yang sudah mati itu?” tanpa menunggu tanggapanku ia sudah melontarkan pertanyaan yang lain.

Dia mengangkat kaki kirinya ke atas kursi dan menyeruput kopi hitam kentalnya. Aku masih saja tak bergeming menanggapi pertanyaannya. Ku nikmati secangkir jahe panas yang sengaja ku pesan untuk menghangatkan tubuh di malam yang dinginnya menerjang tulang ini.

Seusai acara selamatan leluhurku, ia mengajakku pergi ke warung depan rumahku. Menghadiri acara selamatan kirim doa kepada para leluhur adalah pengalaman pertamanya. Ia memang tidak pernah percaya bahwa doa yang dikirim untuk para leluhur itu akan sampai pada mereka.

“Tapi mungkin saja mereka akan kembali lagi,” Dia menggantung kalimatnya, melihat ke arahku untuk meminta perhatian. Sengaja aku tidak membalas tatapannya. Toh, dia tetap melanjutkan kalimatnya. “Mereka yang kembali lagi adalah mereka yang menemukan keganjilan pada kematian mereka.”

Semakin aku mengabaikannya. Aku lebih memilih untuk menyantap pisang goreng di depan kami daripada menanggapi pernyataannya.

***

Namanya Rohim. Ia adalah temanku sejak sekolah dasar. Rumah kami berdekatan, hanya jeda lima rumah. Sedari dulu kami selalu bermain bersama. Riwayat sekolah kami pun sama, hanya berbeda kelas beberapa kali. Demikian itu yang membuat hubungan kami jauh melebihi saudara.

Rohim tinggal hanya bersama neneknya. Ayahnya meninggal sejak ia masih di dalam kandungan sementara ibunya meninggal ketika melahirkannya. Semenjak itu ia resmi menyandang gelar sebagai anak yatim piatu. Neneknya menjadi satu-satunya anggota keluarga yang ia kenal.

Sering kali Rohim ingin bertemu kedua orang tuanya. Dulu sekali, ketika duduk di kelas tiga SD  ia pernah pergi ke dukun untuk meminta tolong memanggilkan roh kedua orang tuanya. Idenya itu diilhami oleh kesukaannya membaca cerita-cerita horor. Bukan kepalang, bukannya dapat bertemu kedua orang tuanya ia malah kerasukan. Rupa-rupanya yang ia datangi adalah dukun gadungan.

Waktu SMP, kami juga pernah bermain jaelangkung untuk memanggil roh kedua orang tuanya. Permainan memanggil roh dengan menggunakan jangka itu, sedang gencar-gencarnya kala itu. Kami banyak mendapat cerita dari kawan-kawan yang lebih tua dari kami bahwa mereka berhasil berkomunikasi dengan roh leluhur mereka. Mendengar itu, terang saja Rohim tergiur menirukannya. Sepulang sekolah, setelah memastikan teman-teman sudah pulang, kami melakukan permainan itu di sudut kelas. Sialnya, kami salah memanggil roh. Roh gentayangan yang kami panggil malah tidak mau kembali ke tempat asalnya. Alhasil, tempat itupun sekarang dikenal sebagai tempat yang angker.

Tidak hanya di dunia nyata, ia juga ingin bertemu orang tuanya meski sekadar di dunia mimpi. Sekalipun ia tak pernah bermimpi bertemu orang tuanya. Berbekal potret kedua orang tuanya yang ia dapatkan dari neneknya, ia terus memandanginya sebelum tidur. Ditatapnya wajah kedua orang tuanya lekat-lekat, dirapalnya nama kedua orang tuanya berulang-ulang, dirasukkannya ke alam bawah sadarnya. Ia mendapatkan cara ini dari hasil membaca sebuah artikel di tabloid remaja yang membahas tentang mimpi. Lagi-lagi, hasilnya nihil. Ia malah bermimpi kedua orang tuanya berubah menjadi monster yang mengejar-ngejarnya dan siap memakannya. Sedari itu, ia tidak pernah lagi percaya dengan hal-hal ghaib.

***

Seperti biasa, Rohim selalu datang terlambat ke kantor kelurahan. Padahal jarak rumahnya hanya serentang 75 meter. Paling pagi ia pernah datang adalah pukul 08.10 WIB, itupun karena dulu ada isu sidak dari kantor kabupaten. Selain itu, ia selalu datang paling awal pukul 08.30 WIB.

“Adakah tugas penting yang harus kita kejar hari ini, Man?” tanyanya kepadaku. Sekonyong-konyong ia sudah berdiri di belakangku. Selain tukang terlambat, ia juga pelupa. Perlu beratus kali diingatkan supaya ia sadar akan kewajibannya. Di meja kerjanya pun tak luput dari tempelan-tempelan memo tugas atau rapat apa saja yang harus ia ikuti hari itu. Meskipun kedisiplinan kinerjanya buruk, Bapak Kepala Desa tidak pernah berani memecat Rohim. Pasalnya, kakek dan neneknya adalah tuan tanah di desa kami. Maka wajar saja jika Rohim, seburuk apapun kinerjanya, tetap bekerja di kantor kelurahan.

“Ada sosialisai pelayanan pencatatan kartu penduduk online yang harus kita ikuti nanti siang,” timpalku mengingatkan.

“Masih saja, kantor kelurahan harus disibukkan dengan urusan yang begituan. Tidak ada lagikah hal yang lebih berguna yang bisa kita kerjakan, Man?”

“Mengurus pencatatan penduduk seperti itu sangat bermanfaat pikirku.”

“Bermanfaat untuk sekadar mengisi kolom-kolom tabel koran itu maksudmu?”

Sampai di sini, lebih baik aku tidak menimpalinya lagi. Berpura-pura mendengarkan dan terus membiarkannya berkata-kata selalu menjadi pertahananku yang paling ampuh. Tersebab percuma, perdebatan dengannya semacam ini tidak akan pernah mencapai kebulatan suara.

“Apakah kau akan hadir, Man?”

“Tentu saja. Kita dibayar untuk melakukan itu bukan?”

“Ku wakilkan tanda tanganku padamu,” Ia tertawa dan menepuk bahuku.

Tanpa menunggu persetujuanku, lantas ia melenggang kembali ke meja kerjanya yang terponggok tidak jauh dari meja kerjaku, mengerjakan segala sesuatu yang menurutnya layak dikerjakan oleh seorang Rohim. Seperti biasa menghadapinya, aku harus sering-sering mengambil helaan dan mengeluarkan embusan nafas yang besar.

***

Pagi-pagi sekali kantor kelurahan sudah ramai orang-orang. Rupa-rupanya mereka hendak mengurus kartu penduduk yang baru. Pemerintah memang menawarkan ganjaran yang tidak biasa apabila mereka tidak mendaftarkan diri dengan benar di proses pencatatan kependudukan yang baru ini. Wajar saja mereka memilih berlelah antri ketimbang kerepotan di kemudian hari.

Pada setengah jam pertama, aku bekerja sendiri melayani mereka. Tentu lantaran Rohim selalu datang terlambat. Di kantor kelurahan ini memang hanya aku dan Rohim yang terhitung melek teknologi. Tak ayal, proyek pencatatan kependudukan yang baru ini pun menjadi pekerjaan besar bagi kami.

Meskipun kedisiplinan kinerjanya buruk, Rohim begitu cakap melakoni pekerjaannya. Pembawaannya yang luwes memudahkan ia bergaul apik dengan orang-orang yang berhadapan dengannya. Lihat saja bagaiamana ia dapat mengatasi ketegangan-ketegangan mereka yang merasa tidak puas dengan pelayanan kantor kelurahan. Berkat kecakapannya melunakkan hati orang, segala permasalahan selesai tanpa membekaskan permasalahan yang lain lagi.

“Silakan tuliskan nama Bapak di sini,” Ku dengar ia melayani salah seorang warga.  Meski kemarin ia tidak mengikuti sosialisasi petunjuk pelaksanaan dan teknis, ia begitu cepat belajar dari pengamatannya kepadaku.

“Maaf, Nak. Bapak tidak bisa menulis,” jawab orang itu.

“Kalau begitu Bapak tidak pernah berkirim surat dengan anak-anak, Bapak?” kelakarnya ringan kepada orang itu. “Baiklah, Pak. Siapa nama, Bapak?”

“Bapak sudah lama berpisah dengan anak bapak, Nak,” Rohim tidak merespon jawaban orang itu. Tanpa memandang ke arah orang itu, Ia masih menunggu sembari menyiapkan blanko-blanko yang harus diisi berikutnya.

“Nama bapak Nanang, Nak. Nanang Suherman.”

“Maaf, Pak. Suara Bapak begitu pelan. Kalah dengan suara yang lain,” ujarnya meminta pengulangan.

“Nanang Suherman, Nak. Na-nang Su-her-man.”

Sontak, Rohim menghentikan pekerjaannya. Nama itu sudah lama tidak ia dengar, pun lama tidak menjadi riuh dalam pikirannya sendiri. Ia mendongakkan kepalanya, memastikan sosok yang berdiri di balik loket pelayanan.

Seorang bapak-bapak setengah tua, berambut hitam bercampur uban, sedang tersenyum ke arah Rohim. Rohim tergegau melihatnya, tidak sanggup membalas senyumnya. Senyum bapak tua itu begitu khas, ia mengenalinya seperti senyum neneknya. Juga, senyum khas yang ia lihat dalam potret ayahnya.

Cukup lama ia jeda dari pekerjaannya, terus terpancang kepada sosok bapak tua yang berdiri di balik loket pelayanan itu. Raut bapak tua itu juga mirip sekali dengan Rohim. Tatapan matanya yang tajam memperkuat keyakinanku akan itu.

Aku terus mengamatinya dari samping. Sesaat, akupun ikut menghentikan pekerjaanku. Aku hendak menegur Rohim, namun urung. Perlahan, kulihat tetes air keluar dari pucuk-pucuk kedua matanya.

Bapak tua itu tetap tersenyum dan Rohim semakin tercengang. Air yang keluar dari pucuk-pucuk kedua matanya perlahan-lahan terus mengalir. Ku rasa Rohim kehilangan kesadaran ruang dan waktunya.

“Iya, Nak. Nanang Suherman. Nama saya Nanang Suherman. Na-nang Su-her-man. Saya sudah lama tidak bertemu anak saya,” Bapak tua itu mengulang-ulang kembali namanya pelan-pelan, seperti merasukkannya ke dalam kesadaran Rohim.

Rohim masih saja tak bergeming. Serempak ia ingin bergegas dan menghampiri bapak tua itu. Namun bapak tua itu mencegahnya.

“Sebentar, Nak. Saya hanya ingin memberikan ini,” disodorkannya sebuah amplop ke meja loket Rohim. Dengan segera Rohim mengambilnya, membuka, dan tertunduk membacanya.

Air mata Rohim semakin deras mengalir. Orang yang sedang ku layani terheran melihatnya. Pun dengan orang lain yang sekarang berdiri di balik meja loketnya. Luput dari penglihatanku kapan perginya sosok bapak tua itu.
Untuk beberapa saat Rohim terus merenungi surat itu. Isaknya terdengar lebih keras. Ku lihat tubuhnya bergoncang pelan.

Rohim meninggalkan meja loketnya, memberikan surat itu kepadaku. Akupun segera ikut membacanya. Hanya dua kalimat yang tertulis di situ:

Siapa dapat menghidupkan tulang belulang yang telah membusuk? Yang memberinya hidup, Itulah Penciptanya yang pertama kali, Yang mengetahui segala kejadian![1].

Aku mengira inilah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Rohim tempo hari. “Apakah jiwa orang yang sudah mati dapat kembali lagi?” Aku melipat surat itu, memasukkannya kembali ke dalam amplop, dan menyimpannya ke laci di meja loketku.



Penulis tinggal di Jogja


[1] QS. (36: 78-79)

Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar