GPS Go!

Oleh: Pungki AS

Sumber pict: https://harmanza.files.wordpress.com


Siang itu, ketika hujan deras menyapa kami dalam sebuah perjalanan dari terminal Jombor menuju rumah Ki Prasetyo, koordinator komunitas Pelajar Kawruh Jiwa di wilayah Yogyakarta, saya bilang ke Pak Hans: “Saya masih ingat ucapan bapak, yang mengutip Jiddu Krisnamurthi, bukankah panas dan hujan itu sama saja?” “Iya, betul. Panas dan hujan sama saja,” jawabnya singkat. Kemudian, kami segera menepi, mengenakan jas hujan dan tertawa secara beriringan.

Itulah sepenggal pertemuan awal dengan dosen yang menjadi pembimbing skripsi saya. Untuk memasuki lembah pencarian di ranah Yang Belum Ditemukan—di mana Pak Hans untuk kali ini hadir sebagai GPS (Global Positioning System, atau dengan akronim konotatif, Guru Pembimbing Spiritual)-nya, barangkali kita perlu mengenal sedikit tentang Hans La Kahija, sosok yang telah mengajak saya untuk menjelajahi suatu kemungkinan berfilsafat yang lain, yakni filsafat Timur.

***
Pergulatan batin Hans La Kahija—sebagai seorang praktisi hipnoterapi, pengkaji psikologi transpersonal dan dosen psikologi di UNDIP—telah mengantar dirinya pada berbagai perjumpaan dengan pelaku spiritual dan dunia spiritualitas Timur. Di antara yang terpenting adalah perjumpaannya dengan guru sufi dan dunia tashawwuf (dimensi esoteris dalam Islam) ketika studi lanjut di Universitas Northampton, Inggris. Perjumpaan-perjumpaan itu, pada gilirannya, memberikan sumbangan penting bagi pulihnya wacana psikologi di UNDIP dari luka sejarah (pasca tercerabut dari akar filsafat). Dengan mengkaji dan mendalami spiritualitas Timur, beliau menyingkap sebuah isu penting mengenai diri-terdalam yang jarang tersentuh, khususnya oleh akademisi psikologi di UNDIP, dan oleh akademisi psikologi pada umumnya. Sebagai ilmuwan dan praktisi yang menganggap psikologi belum tuntas sebagai sebuah displin ilmu tentang perilaku dan mentalitas manusia, beliau menaruh harapan pada kajian-kajian spiritualitas yang tersisih dan peran filsafat Timur sebagai jalan untuk mengenali diri-terdalam. Pendek kata, apa yang diupayakan oleh Pak Hans adalah semacam penafsiran-ulang atas psikologi.

***
Sembari melanjutkan perjalanan ke rumah Ki Pras dengan hujan yang perlahan reda, saya disuguhi riwayat Terapi Eling lan Awas (ELA): Pengembangan Konstruk, judul bakal buku Pak Hans yang salah satu bab-nya mengulas tentang Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram—dalam rangka inilah beliau menemui Ki Pras untuk tindak verifikasi. Sebelumnya, beliau sudah menemui Kyai Luqman Hakim, Ki Grangsang (putra ke-3 Ki Ageng Suryomentaram), Anand Krishna dan Romo Magnis Suseno. Rencananya, beliau juga mau menemui Cak Nun, Gus Mus, dan beberapa bikhu.

Seluruh isi buku, yang terdiri dari bab “Sufisme”, “Buddhisme”, “Yoga”, dan “Kawruh Jiwa” itu sendiri, berbicara tentang proses pengenalan diri dan teknik-teknik terapinya sekaligus. “Di sinilah tugas kita, sebagai ilmuwan psikologi, untuk mempraktiskan dan mem-psikologi-kan konsep-konsep filsafat tersebut,” katanya selepas kami melewati perempatan jalan di sekitar Taman Pintar.

Saya baru sadar bahwa sejak tadi kendaraan yang kami tunggangi ternyata melaju kurang dari 50 km/jam. Padahal jarak rumah Ki Pras yang terletak di belakang ISI (Institut Seni Indonesia) masih cukup jauh dari sini. Tanpa memedulikannya, saya kembali membuka perbincangan, “Bagaimana dengan impian Pak Darmanto Jatman agar Psikologi Jawa bisa bersanding dengan psikologi arus-utama?” Terkait itu, beliau menuturkan agak panjang: “Sungguh disayangkan belum ada yang mau meneruskan. Padahal beliau telah membukakan jalan bagi kita, melalui Psikologi Jawa, untuk selangkah menuju center (pusat) jiwa manusia. Sementara kajian teoretis atas psikologi yang ada sampai hari ini kebanyakan dibangun lewat model psikologi Barat (arus-utama). Akibatnya, kita menjadi berkutat di pinggiran saja. Kita ini mau mengkaji soal kebenaran, jadi harus bergerak ke wilayah pusat. Bukan bermaksud meninggalkan atau membuang psikologi dan filsafat Barat. Kita tetap perlu menguasainya. Tapi kita tak boleh lepas dari pusatnya karena, bagiku, segala yang berada di pinggir akan goyah dan tersingkir. Nah, terapi ELA ini sebenarnya perpanjangan tangan baik dari Psikologi Jawa maupun pemikiran-pemikiran Timur lainnya untuk mengajak kembali ke pusat, kembali ke diri-terdalam. Bedanya dengan Pak Dar, yang berangkat dari tataran konseptual, top-down, aku berangkat dari tataran praktis, mencoba menyentuh langsung kehidupan masyarakat sehari-hari, bottom-up. Kenapa? Di era kontemporer ini, banyak orang yang cara berpikirnya demikian pragmatis. Makanya, kita perlu mengambil langkah strategis, menyesuaikan diri dengan zeitgeist (semangat zaman) yang ada.”

“Sebagai peneliti kualitatif, bukankah ada suatu keharusan untuk mempelajari dan bahkan melakoni apa yang sedang kita teliti, Pak? Karena kalau tidak, kita cuma bisa menangkap sisi permukaan dari ucapan subjek,” saya menyela tiba-tiba. “Iya, betul. Tapi justru di situlah pentingnya menuliskan bagian ‘refleksi peneliti’ dalam penelitian. Peneliti harus mengerti posisi dan jujur pada diri sendiri sejauh mana ia memahami tema penelitiannya. Seperti aku, misalnya. Kemarin waktu berkunjung ke Kyai Luqman Hakim di Jakarta, aku sebut beliau ‘sufi akademik’, aku berkata jujur tentang hal-hal yang di luar jangkauanku. Jadi, apa yang nanti aku tuliskan sebatas pengalaman dan daya tafsiranku, tentunya setelah mendialogkannya dengan subjek yang bersangkutan. Dengan pengakuan ini, peneliti menjadi tidak bisa disalahkan atas keterbatasannya,” papar Pak Hans meyakinkan.

***
Akhirnya, usai melewati rute-rute panjang selama hampir satu jam, kami masuk ke daerah Sewon lewat bibir gang di sebelah kampus ISI. Saya masih hafal daerah sini. Hanya selang beberapa menit, kami pun sampai di rumah Ki Pras.

Pada ketukan ketiga, pintu baru terbuka. Sang empunya rumah lantas mempersilahkan kami masuk sambil menjabat hangat layaknya bertemu kawan lama. Tak lama kemudian, Ki Pras dan Pak Hans terlibat dalam perbincangan seputar Kawruh Jiwa dan naskah terapi ELA. Menyimak dialog mereka, menarik mencatat apa yang pokok pada pertemuan itu. Saya merangkumnya sebagai berikut:

Kawruh jiwa semacam jalan alternatif untuk memahami jiwa manusia. Jalan ini diretas oleh Ki Ageng Suryomentaram. Apa yang pokok dari gagasan ini adalah tentang mawas diri, sebuah upaya memergoki kramadangsa. Kramadangsa itu sendiri berisi ingatan dan angan-angan liar. Akibat nyata dari tak terkendalinya kramadangsa adalah kita masih menyesal atas apa yang sudah terjadi dan cemas terhadap apa yang belum terjadi. Bukankah aneh ketika peristiwanya sudah terjadi kita masih menyesal, dan sebaliknya, ketika peristiwanya belum terjadi kita sudah cemas? Coba bertanya ke dalam diri: peristiwa sudah pergi, tapi kok rasa sesal masih muncul? Sementara peristiwa belum datang, tapi kok rasa cemas sudah muncul? Di sinilah perlunya mawas diri agar kita menyadari bahwa rasa sesal dan cemas yang bergelayut itu adalah karena ulah kramadangsa. Dengan mawas diri, kita menjadi terlepas dari jerat ingatan hari kemarin dan angan-angan hari esok. Kita akan merasa damai dengan segala konsekuensi yang hadir ‘hari ini, begini, dan di sini’.

***
Sepulang dari rumah Ki Pras, kami bergegas mencari tempat makan yang sesuai permintaan Pak Hans, “Saya ngikut saja. Pokoknya tempat makan khas Jogja, yang kalau orang berkunjung ke Jogja wajib mampir ke sana.” Mulanya saya agak bingung mencerna frase khas Jogja. Namun setelah berpikir keras, saya memutuskan untuk pergi ke Raminten, tempat yang konon terkenal di kalangan anak muda Jogja.

Setibanya di sana, kami langsung memesan makanan dan melanjutkan diskusi cukup khusyuk hingga Ganjar Sudibyo (Ganz), setelah meng-MC sebuah acara, ikut menimbrung. Berikut ini petikan dialog kami yang saya padatkan dan eksplorasi lebih lanjut.

***
Sebagaimana kita ketahui bahwa 137 tahun telah berlalu, terhitung pasca Wilhem Wundt mengukuhkannya sebagai sebuah disiplin akademis-formal, namun psikologi belum menunjukkan perubahan mendasar bagi perilaku manusia. Teori dan konsep-konsep behaviorisme, yang pertama kali diinisiasi oleh John B. Watson, semestinya tidak usah dipakai lagi. Sejarah telah membuktikan kelemahannya. Kalau ada orang masih memakai konsep tabularasa, misalnya, itu berarti ia ketinggalan zaman alias kadaluarsa pemikirannya. Seperti kata Karl Popper, untuk menumbangkan klaim bahwa semua angsa berwarna putih, cukup tunjukkan satu angsa warna hitam. Itulah yang dinamakan falsifikasi.

Tapi Pak, bagaimana dengan bantahan Imre Lakatos, murid Popper sendiri, yang menyatakan bahwa tidak mudah memfalsifikasi teori-teori besar karena para pengikutnya akan terus menutupi kelemahan-kelemahan teori tersebut? Lagi pula, bukankah reward and punishment masih relevan diterapkan pada level anak-anak?

Iya. Para teoretikus itu, misalnya untuk behaviorisme, berupaya mempertahankan diri dengan cara menggandeng teori lain. Sebagai contoh, mereka mengemas teori mereka dengan tampilan psikologi humanistik. Kalau kita jeli, aplikasinya kelihatan kok pada sebagian pelatihan dan seminar motivasi.

Sebenarnya, kapan sebuah teori dikatakan tumbang?

Begini, ketika daya uji dan daya terapnya mulai lumpuh. Lihat saja berapa banyak teori psikologi yang tersisa? Atau teori-teori di disiplin ilmu lain. Coba bandingkan dengan Buddhisme. Sejak pertama kali dibawa oleh Siddharta Gautama ribuan tahun lalu, ajaran itu masih eksis dan terus berkembang sampai sekarang. Malah suatu ketika, Dalai Lama, pemimpin tertinggi buddhisme di Tibet, pernah berkata di hadapan para ilmuwan, termasuk para neurosaintis: “Jika ada yang bisa membuktikan satu kesalahan saja dalam ajaran ini, maka saya akan memerintahkan para pengikut untuk meninggalkan ajaran ini.” Begitulah. Yang namanya ‘kebenaran’ itu selalu relevan di setiap zaman.

Saya masih ada ganjalan soal psikologi indigenous. Uichol Kim mendefinisikan indigenous psychology sebagai kajian ilmiah tentang perilaku atau pikiran manusia yang native (asli), yang tidak diadopsi dari wilayah lain, dan dirancang untuk masyarakatnya sendiri. Beberapa riset yang saya periksa melalui tinjauan literatur menunjukkan data-data yang malah meragukan sifat indigenous itu sendiri. Salah satunya, join riset dosen tentang ketidakpercayaan mahasiswa muslim terhadap politisi. Riset itu mengambil 430 mahasiswa S1 di Jogja. Walaupun menuliskan “pendekatan indigenous psychology”, tapi riset itu saya lihat tidak memperhitungkan latar kebudayaan dari ratusan partsipisan.

Dalam kajian filsafat, ada tiga pokok utama: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi adalah kajian tentang ada. Epistemologi adalah kajian tentang sumber pengetahuan. Sementara aksiologi adalah kajian tentang nilai.

Yang pertama kali perlu ditanyakan, “Apakah psikologi indigenous itu ada?” Mari kita ambil sebuah contoh. Terhadap kawruh jiwa Suryomentaram, aku berasumsi bahwa pemikiran itu mendapat pengaruh buddhisme dan sufisme. Beberapa konsep dalam kawruh jiwa sama dengan konsep dalam buddhisme. Bukan cuma tentang kesamaan konsep, melainkan juga tentang persentuhan Ki Ageng dengan sejumlah tokoh yang mana aku tidak bisa memberitahukannya ke kamu. Aku mendengar informasi itu langsung dari lisan Ki Grangsang. Hanya saja perlu diakui bahwa Ki Ageng memang piawai mengemas dalam konteks kebudayaan Jawa. Semua istilah yang dipakai menjadi ‘rasa Jawi’. Di sinilah letak kegeniusan beliau. Dalam arti ini, sulit kiranya mengatakan kawruh jiwa sebagai indigenous. Kesimpulannya, kita perlu melakukan perbandingan satu konsep/pemikiran/ajaran dengan yang lain. Kalau tidak ada kesamaan, barulah bisa dikatakan indigenous.

Contoh lain yang sederhana: menu yang tertera di Raminten ini. Apakah rawon itu makanan khas Jogja? Yang khas Jogja di sini hanya suasananya, hanya bungkusnya. Jadi jangan tertipu oleh pengatasnamaan. Periksalah kontennya terlebih dulu. Kalau konten bertentangan dengan bungkus, itu namanya inkonsistensi internal.

Tentang problem ontologis pada psikologi indigenous, jika demikian, konsekuensi logisnya adalah kita harus mengitari seluruh dunia untuk memastikan tidak adanya kesamaan dong? Kenapa kita juga tidak bertanya sebaliknya, “Apakah buddhisme itu indigenous?”

Nah iya, memang harus meneliti seluruh dunia. Aku pikir psikologi indigenous itu euforia semata. Begitu pula yang terjadi pada psikologi positif. Psikologi positif, seperti halnya psikologi indigenous, tidak akan bertahan lama.

Dalam gagasan-gagasannya tentang ‘happiness’, Martin Seligman mengasumsikan bahwa psikologi positif mampu mengurangi kadar penderitaan dan menambah kadar kebahagiaan seseorang. Apakah itu mungkin?

Hari ini aku mau bikin konsep yang sebaliknya, yaitu psikologi negatif! Ah, aku jadi kepikiran untuk menuliskannya di bagian pendahuluan. Karena semua filsafat Timur bicara tentang negatif, maka terapi ELA pun merupakan psikologi negatif. Jelas sekali. Buddha mengatakan bahwa hidup adalah penderitaan. Ki Ageng Suryomentaram menyebut kramadangsa. Lebih mengerikan lagi, Al-Ghazali berucap: “Apakah kamu sudah siap memenggal kepalamu dan menginjaknya? Jika sudah, datanglah kemari. Cinta sedang menunggumu!” Beberapa tokoh Barat berkata hal yang sama. Jung mengatakan makhluk yang paling berbahaya adalah manusia. Bahkan orang lain adalah neraka, kata Sartre. Apa itu kurang negatif?

Psikologi positif, kata Seligman di acara TED, lebih dari sekadar soal kebahagiaan, tapi juga soal kehidupan bermakna.

Psikologi positif itu melupakan adanya, kata Jung, sisi gelap manusia. Bagaimana mungkin makna hidup diperoleh seseorang tanpa terlebih dulu menyembuhkan lukanya sendiri? Biarkan saja ketika ada orang sedang mengalami penderitaan atau kesakitan. Jangan disuruh positive thinking! Itu ngawur namanya. Biarkan ia menyadari lukanya sendiri.

Di tengah perbincangan yang semakin asyik, jam dinding yang menunjuk pada angka 20.30 mengingatkan saya dan Ganz untuk lekas mengantar dosen kami ini ke terminal.

***
Di Jombor, saya dan Ganz masih menunggu sopir travel mengumumkan keberangkatan. Menyambung perbincangan tadi, kami duduk berdekatan di emperan jalan dengan posisi seperti melingkar. Tiba-tiba imaji saya membawa ke dalam semacam halakah sufi, di mana sang guru sedang mewejang kepada para salik (pejalan spiritual) dengan setengah berbisik.

“Bunga teratai itu simbol terindah dari pertumbuhan jiwa manusia. Kalian lihat, ia hanya bisa hidup di air berlumpur. Tapi, justru darinya bunga yang cantik jelita lahir. Demikianlah psikologi negatif. Terkait misiku, terapi ELA sama sekali tak bermaksud menggantikan peran guru dalam membimbing diri-terdalam seseorang. Terapi ini justru mempersiapkan para peserta dengan cara memantik eling dan awas yang sedang tertidur di dalam diri mereka. Setelah terjaga, peserta kupersilahkan mencari guru masing-masing. Kelak, mereka akan bertemu dengan guru yang cocok dengan watak pencarian mereka sendiri. Dan tugasku berhenti di sini,” pungkas Pak Hans.

Pukul 22.30 kami berpisah. Kepulangan Pak Hans ke Semarang malam itu meninggalkan sebuah penanda yang harus segera kami temukan petandanya.

Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar