Mencipta Clear Boundaries dalam Keluarga


Sumber pict: quotesgram.com

Seorang suami mengajak istrinya datang ke seorang terapis untuk mencari penyelesaian atas permasalahan yang mereka hadapi. Pasalnya, sang suami sudah merasa tidak tahan dengan “ketidakwarasan” yang diidap istrinya. Sang istri sering kali berhalusinasi ada sesosok makhluk halus yang mengikutinya. Ia sering marah-marah dan mengeluarkan kata-kata kasar yang seakan-akan ditujukan kepada sang suami. Lantaran itulah hubungan di antara keduanya kian lama kian memburuk.

Menghadapi permasalahan tersebut, sang terapis hanya menyarankan sang suami bersedia dan tahan mendengarkan segala perkataan istrinya. Beberapa sesi awal terapi pun hanya diisi demikian, sang istri meluapkan semua kemarahannya dan sang suami harus bertahan mendengarkan sang istri. Pada terapi yang berikutnya, objek halusinasi sang istri perlahan-lahan hilang, luapan kemarahannya semakin reda. Pada kondisi seperti itu sang terapis memfasilitasi keduanya untuk saling bicara dan saling mendengarkan. Berkat proses tersebut, sepasang suami-istri itu menyadari bahwa masing-masing mereka ternyata menyimpan rasa sakit yang tidak pernah terungkapkan dan terpahami dalam hubungan mereka. Proses terapi tersebut membuat mereka belajar saling mendengarkan dan memahami, serta berkomitmen terus memperbaiki hubungan mereka.
Ilustrasi kasus di atas mungkin juga dijumpai pada kasus keluarga lain. Suasana harmonis dalam keluarga sering terganggu akibat kurang sehatnya interaksi antaranggotanya. Akibatnya, tidak jarang memicu munculnya permasalahan kesehatan mental pada anggotanya. Hal ini tidak terlepas karena keluarga merupakan lingkungan sosial terdekat yang berpengaruh kuat terhadap perkembangan individu.

Keluarga memiliki peran sentral dalam memberikan kenyamanan emosional kepada para anggotanya. Peran tersebut menempatkan keluarga sebagai penyedia fungsi afektif dan coping.[1] Untuk menjalankan fungsi tersebut, salah satu prinsip yang perlu ditegakkan adalah terjalinnya interaksi yang sehat antaranggotanya. Apabila prinsip tersebut dapat ditegakkan, maka dapat menjadi faktor pencegah munculnya permasalahan kesehatan mental pada anggotanya.[2]

Terjalinnya interaksi yang sehat bukan sekadar adanya komunikasi intensif antaranggotanya. Interaksi melibatkan aktivitas yang bersifat resiprokal atau saling memengaruhi dengan berdasarkan kebutuhan bersama, motivasi, dan aktivitas pengungkapan perasaan, yang semuanya terwujud dalam bentuk tingkah laku.[3] Untuk menjalin interaksi yang sehat diperlukan adanya simpati dan empati antarindividu yang terlibat. Dalam sistem keluarga, interaksi antaranggotanya bersifat circular causality atau sebab-akibat yang saling terikat.[4] Oleh sebab itu, apabila dalam berinteraksi terdapat ketidakseimbangan, jelas dapat memengaruhi keharmonisan dalam keluarga dan perkembangan individu di dalamnya.

Tidak terjalinnya interaksi yang sehat –mengacu prinsip terapi hypnofamily– dapat disebabakan karena adanya mata rantai rasa sakit yang muncul dalam interaksi di antara anggotanya. Dalam sebuah keluarga, tidak jarang rasa sakit tersebut merupakan rasa sakit yang terwarisi, yang meresap dan menimbulkan gangguan ke dalam pikiran bawah sadar sehingga kemampuan mendengarkan menurun. Karenanya, untuk menciptakan interaksi yang sehat harus dimunculkan compassion, yaitu pemahaman bahwa setiap orang membawa rasa sakit dan getaran dari rasa sakit tersebutlah yang sering memunculkan rasa sakit yang lain. Adanya compassion diperlukan untuk memutus mata rantai sakit itu.[5]

Selanjutnya, compassion sebagai landasan interaksi dalam keluarga akan mewujudkan pola interaksi yang bersifat clear boundaries. Terciptanya clear boundaries dalam interaksi keluarga berdampak pada bagaimana keluarga berfungsi.[6] Clear boundaries membuka hubungan emosional yang dekat dan memberi peluang anggotanya untuk mengembangkan identitas dirinya.

Berdasarkan sekilas paparan di atas, dapat digarisbawahi bahwa interaksi yang sehat adalah modal dasar mewujudkan keluarga harmonis. Dalam keluarga, kesakitan yang dialami oleh salah satu anggotanya akan berdampak kepada anggota yang lain. Pemahaman demikian akan melahirkan compassion yang selanjutnya menumbuhkan kemampuan berempati, bersimpati, dan kesediaan untuk mendengarkan ketika berinteraksi. Proses tersebut menjadi fondasi dasar untuk membangun clear boundaries yang membawa keluarga menuju fungsinya yang optimal.





Penulis: Maryama Nihayah
Mahasiswi Magister Psikologi UGM ‘14

[1] Friedman, 1998 dalam Sri Lestari. (2013). Psikologi Keluarga: Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga.
[2] Studi WHO tahun 2012.
[3] Boakes, 1978 dalam Saripudin. (2010). Hambatan Interaksi dan Komunikasi.
[4] Bornstein dan Sawyer. (2007). Family System.
[5] Disarikan dari Seminar “Hypnofamily” bersama YF La Kahija di Aula Balaikota Semarang, 25 September 2016.
[6] Diane R. Gehart. (2012). Theory and Treatment Planning in Counseling and Psychotheraphy.

Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar