Mesin Penerjemah

gambar: https://id.pinterest.com/pin/323625923197133333/

“Lagi-lagi kamu salah melihat warna benda itu. Kau hanya melihat seperti apa yang sudah kau yakini sebelumnya di kepalamu.”
Kata-katamu itu kembali berputar di kepalaku. Dari dulu, kau sering kali mengingatkanku untuk melihat semuanya secara objektif. Bukan dari apa yang ku yakini sebelumnya.
“Kamu tahu, setiap kita memiliki mesin penerjemah sendiri, itu bercokol di otak kita. Ia bertugas menafsirkan segala informasi yang kita terima. Semua informasi yang masuk lewat panca indera akan diteruskan ke mesin penerjemah itu untuk selanjutnya diproses menjadi informasi yang mampu kita pahami.”
“Maksudnya?” Saat itu aku benar-benar belum mengerti apa yang kau maksudkan dari pernyataanmu itu.
“Coba rasakan saja. Dan mungkin, mesinmu itu memang butuh direparasi.”
Setelah mengatakan itu, kau pergi meninggalkanku sendiri.
***
Sore hari. Di luar, hujan membasahi jalanan yang selalu mengantarku menuju rindu. Aku curiga, apakah kau memang sengaja menjatuhkan bibit-bibit rindu di jalanan itu sehingga setiap kali hujan datang ia semakin tumbuh seperti tanaman yang tersiram air? Lagi-lagi aku mengingat kata-katamu, “Aku suka sekali bau tanah selepas hujan. Aromanya khas. Dan, bau tanah itu membawa ketenangan.”
“Ketenangan aroma petrikor, tentu saja. Nenek moyang kita pun menyukainya.” Aku mengiyakan perkataanmu.
“Karena mereka membutuhkan hujan untuk bertahan hidup tentu saja aroma petrikor menjadi pertanda awal kehidupan mereka.” Kau kembali menyeruput kopimu. Menghirup aromanya dalam-dalam, “Aroma seperti ini, benar-benar menenangkan.” Asap kopi yang mengepul itu mengenai kacamatamu, membentuk embun.
Aku hanya menatapmu dari samping. Matamu terpejam, senyummu mengembang. Dalam hati aku mengamini perkataanmu, “Iya, begitu menenangkan, seperti menatapmu sekarang.”
Saat itu, kita masih sering menghabiskan waktu berdua. Kau masih sering berkunjung ke kontrakanku. Menghabiskan waktu di tengah kesibukanmu sebagai wartawan freelance sebuah tabloid metropolitan. Mendiskusikan permasalahan-permasalahan sosial yang seringkali menyita waktu kita untuk berdebat. Dan selalu berakhir pada satu kesimpulan, “Ya, setidaknya kita harus konsisten dengan diri kita sendiri.”
Kekakuanmu untuk mempertahankan pendapat itulah yang semakin membuatku kagum padamu. Meski di satu sisi aku melihatnya sebagai kekakuan seorang idealis yang jauh dari realistis. Namun setiap kali ku peringatkan itu kepadamu, kau selalu berkilah, “The Eagles flies alone. Kau harus siap sendiri untuk berani menjadi seorang idealis.”
“Tapi kau lupa, kehidupan itu lebih nyata daripada pendapat siapa pun tentang kenyataan.” Sangkalku. Dan perdebatan kita selalu tak pernah berakhir mufakat, kecuali selanjutnya kita akan mengalihkan kepada perbincangan yang lain.
Aku yakin, kedua kursi di teras kontrakanku yang biasa menjadi tempat kita untuk berdiskusi –yang lebih seperti perdebatan dan mempertahankan ego masing-masing—bisa menjadi saksi kunci dari rasa jengah yang juga dirasakan oleh teman-temanku.
“Aku heran, kalian selalu berdebat dan bertengkar. Tak pernah ada kesepakatan pada akhir pembicaraan. Namun masih saja, selalu, kalian mengulanginya lagi.” Itu yang pernah Hanin –tetangga kamarku—sampaikan kepadaku.
Hujan semakin deras. Dendangnya semakin mengantarkanku pada rindu padamu. Ditambah playlist-ku sampai pada lagu kesukaanmu, Hujan di Bulan Desember.
Sial, rasanya ingin ku lempar semua ketepatan ini.
***
Siang itu kau tiba-tiba menghubungiku, setelah beberapa hari kita tak saling berkomunikasi.
“Nanti sore temenin olahraga di kampus, ya? Bisa kan? Butuh penyegaran. Ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan kepadamu.”
Membaca pesan whatsapp-mu saat itu terus terang langsung membuatku tersenyum. Selama ini aku selalu menahan diri untuk menghubungimu duluan. Sebagai perempuan, aku tak ingin terlihat mengemis untuk bisa mendapat perhatianmu. Selama di depanmu aku sibuk membangun citraku, aku bukanlah perempuan yang hidup berkalang padamu. Dan gengsi itu, jelas menyiksaku.
Sengaja ku ulur waktu selama 10 menit untuk tidak langsung membalas whatsapp-mu.
“Jam?”
“Empat. Ku jemput kau ke kontrakan.” Kau langsung membalasnya.
“Oke.” Selesai.
Pukul 16.07 WIB kau datang menjemputku. Untuk bertemu denganmu, aku tak pernah membuat persiapan khusus. Aku tidak ingin kau tahu bahwa kau terlihat istimewa bagiku.
***
Setelah berlari tiga putaran, kau mengajakku mencari tempat di tangga berundak menuju gedung atrium universitas.
“Jeng, selama ini kita sudah sering ngobrol dan diskusi bareng. Lebih tepat bertengkar sebenarnya. Tapi aku baru tersadar, kita tidak pernah membahas permasalahan pribadi. Ya, tentang perasaan.” Dengan intonasi pelan, kau tiba-tiba memulai percakapan kita. Tidak seperti biasanya ketika kau selalu sibuk nyinyir dengan intonasi tinggi tentang isu-isu sosial. Kau menoleh kepadaku, menunggu jawaban.
Deg! Jelas aku kaget mendengar perkataanmu itu. Apakah kau menyadari bahwa sebenarnya aku sudah tidak menganggapmu sekadar teman? Aku mengalihkan pandanganku, tidak berani menatap matamu.
“Hm, iya? Apa pentingnya?” Aku berusaha menyembunyikan kekikukkanku.
“Jelas penting, Jeng!” Intonasi bicaramu kembali seperti biasanya, meninggi. Kau memukul pundakku. “Karena ada yang ingin ku sampaikan padamu terkait itu.” Kau berbisik kepadaku.
Deg, Deg. Jelas, aku semakin salah tingkah mendengar itu. Semakin terlihat bodoh karena justru aku melakukan perbuatan ceroboh. Aku menjatuhkan botol minuman yang terletak di sebelah kananku, menggelinding jatuh ke bawah. Aku langsung mengejarnya dan bahkan sempat terkilir. Menjadi perhatian beberapa orang. Kau tertawa melihatku.
“Hati-hatilah. Selalu saja kau begitu. Sekali-kali, tolong, tinggalkan kecerobohanmu itu di kamar saja. Tak perlu kau ajak dia kemana-mana bersamamu.”
Tidak seperti biasanya, aku tidak bisa membalas omonganmu saat itu. Aku masih sibuk memastikan jantungku tidak terlalu lelah berdetak karena tiba-tiba mendapat kejutan. Diam-diam, aku membayangkan selanjutnya kau akan berkata romantis kepadaku. Aku tersenyum sendiri saat itu. Kemudian tersadar, aku harus mengambil botol minumku.
“Apa yang akan kau bicarakan?” tanyaku ketika kembali duduk di sampingmu. Aku tetap menggenggam botol minumku. Setidaknya bisa ku pakai sebagai pengalih kecemasanku.
Kau tidak segera menjawab, tersenyum sendiri sambil menatap ke depan. Kau malah berkomentar tentang anak-anak yang sedang bermain sepakbola di lapangan yang terbentang di depan tempat duduk kita.
“Kejarlah daku, kau ku tangkap.” Komentarmu tidak jelas, lalu tertawa.
Sekali lagi ku ulang pertanyaanku. Aku terdesak oleh kecemasanku.
“Iya, Jeng. Tapi ku minta kau jangan langsung menertawakanku.” Kau menatapku, mencari kepastian. Aku masih belum mampu berbalas menatapmu. “Ah, mana mungkin kau tidak menertawakanku. Silakanlah, aku hanya ingin mengatakannya padamu.” Nada suaramu kembali meninggi.
“Apa? Cepat katakan!”
“Ya, tak usahlah kau menjadi galak begitu. Sabar.” Kau membuka HP-mu, “Akan ku tunjukkan padamu.” Rasa cemas, penasaran, takut, senang, bercampur jadi satu. Suara galakku tadi untuk menutupi rasa nano-nano itu.
“Ini” kau menyodorkan HP mu. Menunjukkan foto seorang gadis dalam balutan jilbab merah. Wajahnya menunjukkan karakter gadis tegas. Gigi gingsulnya yang terlihat saat terseyum memberi efek manis yang paripurna.
Aku lupa bagaimana rasanya saat itu. Aku hanya ingat kau menegurku, mungkin karena aku terlalu lama diam mengamati foto itu. “Eh, malah melamun. Itu, bagaimana? Namanya Dea. Teman jurnalisku. Baru dua minggu ini dia masuk. Anak sini juga sih, jurusan Fisipol.”
Kau memperkenalkan sedikit profilnya. “Hm, Jadi?” tanyaku dengan nada menggoda, bersandiwara dengan sekuat tenaga. Kau kembali tertawa, merebut HP-mu, berdiri dan memukul kepalaku. “Ah, sudahlah. Kita lanjutkan saja besok. Sudah malam.” Kau berjalan turun, meninggalkanku.
Di depan, lampu-lampu temaram kuning yang menghiasi jalanan kampus sudah mulai menyala. Anak-anak yang bermain sepakbola membubarkan diri. Segerombol Burung Prenjak terbang pulang. Cahaya senja semakin terbenam. “Hoi, ayo pulang. Malah melamun.” Teriakmu dari bawah. Aku menghela nafas dalam, menyusulmu turun. Aku masih lupa bagaimana yang ku rasakan saat itu.
***
Sejak sore itu, semakin lama kau semakin sering menghubungiku. Bukan lagi mengajak diskusi atau berdebat. Kau meminta saran bagaimana cara merebut hatinya. Antusias menceritakan hari-hari bersamanya, terlebih ketika kalian mendapat tugas meliput acara yang sama. Tidak ada lagi kegalauan seorang idealis ku temukan dalam ceritamu. Semua berubah menjadi rentetan dongeng-dongeng picisan.
“Jeng, akhirnya aku mengatakannya. Seperti saranmu, tidak gentle kalau aku hanya diam saja, menjadi pecundang. Bukan balasan cintanya yang ku kejar, yang penting dia tahu. Ternyata, hasilnya, jawabannya, semua sungguh menyenangkan. Terima kasih, Ajeng.”
Kau berhasil mendapatkannya setelah PDKT selama dua bulan. Waktu yang sangat cepat dibandingkan PDKT ku kepadamu yang sudah sekitar tiga tahun.
Aku masih ingat kau begitu bersemangat menceritakannya. Matamu berbinar, tawamu lebar. Kau bahkan berkali-kali membetulkan letak kacamata yang bergeser karena getaran tawamu. Malam itu, kau tiba-tiba datang ke kontrakakanku, pukul 21.37 WIB, membawa martabak telur kesukaanku. “Ini, buat ucapan terima kasih dan perayaan syukuran jadian kami.” Kau menyodorkan martabak telur yang masih hangat itu ke pangkuanku.
Itu adalah malam terakhir kunjungan rutinmu ke kontrakanku. Tentu saja, kau lebih sibuk menghabiskan waktumu bersama Dea.
“Sekarang, kau hanya diam saja, Jeng?” tanya Hanin kepadaku. Hanya dia yang mengerti semua liku-laku kisahku denganmu.
“Lantas?” tanyaku putus asa.
“Lucu kau, Jeng. Menasihati orang untuk tidak jadi pecundang, tapi kau sendiri justru jadi pecundang. Mana Ajeng yang sok tegas itu, Ajeng yang asertif, bahkan pemberontak. Sekarang dia malah membisu karena asmara. TAK PERLU BALASAN, YANG PENTING DIA TAHU.” Hanin mengulang nasihatku padamu.
Perkataan Hanin terus berputar di kepalaku, bertalu-talu di gendang telingaku, sungguh mengganggu. Tidak hanya perkataannya tapi juga rasa gengsi dan munafikku. Sampai akhirnya ku putuskan untuk mengatakan semuanya kepadamu. Persahabatan kita menjadi taruhan termahal saat itu. Memang, apa bisa terjadi persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan? Entahlah, aku gagal membuktikannya.
Aku membenarkan perkataanmu saat itu, mesin penerjemah yang ada di otakku memang perlu diperbaiki. Mungkin dia rusak akibat benturan di kepalaku saat aku tersungkur di depanmu. Warna merah muda itu tak pernah ada.



Hanin
Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar