Jejak Cinta dalam Dunia Rumi


 
Judul               : Belajar Hidup dari Rumi: Serpihan-Serpihan Puisi Penerang Jiwa
Penulis           : Dr. Haidar Bagir
Penerbit        : Mizan
Cetakan         : IV, 2016
Tebal               : 293 Halaman
ISBN                : 978-602-0989-81-5
Peresensi      : Pungki Ariawan S.

Bicara tentang Rumi, bicara tentang puisi. Penyair sufi yang dijuluki ‘raja metafor’ ini memiliki kecerdasan puitik yang darinya realitas-realitas paling dalam dan luas dapat tersibak. Itulah yang membuat puisi Sang Maulana selalu relevan bagi kehidupan. Namun, sebagian pembaca tentu hanya bisa menerka-nerka realitas apa yang tampil dalam benak Rumi. Tak heran bila kemudian banyak orang Barat, terutama orang Amerika Serikat, yang menyempitkan makna-makna sufistiknya menjadi sekadar self-help atau semacam psikologi populer.
Barangkali tak ada yang salah dengan itu. Karena, sajak-sajak Rumi memang mengandung hikmah-hikmah yang sanggup menyentuh setiap lapis jiwa manusia. Begitu pula dengan Belajar Hidup dari Rumi: Serpihan-Serpihan Puisi Penerang Jiwa. Buku yang kini berjumlah 293 halaman ini mulanya merupakan kicauan Haidar Bagir, si penulis, di media Twitter. Karena keterbatasan karakter, ada kutipan-kutipan yang dipotong. Ada yang disingkat. Ada yang disambung dengan tweet berikutnya. Hingga akhirnya ia berniat untuk mengumpulkan dan menyusunnya jadi sebentuk buku panduan self-help bagi para pembaca (hal xiii).
Apa yang dilakukan tokoh penggerak Islam Cinta ini, melalui sepilihan sajak Rumi, bukanlah hal baru di dalam sastra Indonesia. Salah satu pendahulunya ialah buku berjudul Rumi’s Daily Secrets: Renungan Harian untuk Mencapai Kebahagiaan terjemahan H.B. Jassin yang pernah muncul pada tahun 2008. Agar bisa dibaca oleh lebih banyak orang tampaknya menjadi pertimbangan penting bagi penulisan dengan format seperti kedua buku tersebut
Tapi yang menarik, disengaja atau tidak, isi buku Bagir membentuk alur yang terlihat sistematis. Dibuka dengan sajak Aku Mati sebagai Mineral (hal 2), buku menunjuk kepada proses transformasi diri dari lower-self (diri rendah) ke high-self (diri luhur), dari raga yang membumi menuju jiwa yang melangit. Proses ini mencirikan manusia sebagai makhluk yang mampu naik ke tingkat lebih tinggi, serupa juga dengan penggalan bait: Kau dilahirkan dengan sayap/ Kenapa mesti merayap dalam hidup? (hal 50)
Sementara pada halaman 280 dipungkasi dengan:
Pada hari kumati
jangan bilang: “ia telah pergi.”
Tiada kaitan mati dengan pergi
Di sini mulutmu terkatup
di sana segera terbuka
dengan jerit suka cita
jika ingin tersingkap tirai
pilihlah kematian
Bukanlah kematian itu
kau masuk kuburan
Kematian adalah kau masuk
ke dalam Cahaya
Meskipun sajak tentang “Kematian” itu diletakkan di bagian akhir buku, Bagir secara tak langsung hendak memberi gambaran yang sebaliknya bahwa kematian bukanlah akhir, bukanlah kepergian. ‘Kematian’ adalah sejenis momentum atau pengalaman yang dalam kata-kata mistik Rumi, “Awal kehidupan dan awal pencerahan.”
Lantas, bagaimana kita bisa sampai ke Cahaya itu? Jawaban atas pertanyaan telah terbentang pada hampir keseluruhan teks (bagian tengah). Jawaban-jawaban itu meninggalkan sebuah jejak yang sama. Dalam dunia Rumi, jejak itu tak lain berupa cinta. Sebab, Cinta memanggil, di mana saja, kapan saja/ Kami segera berangkat ke langit/ Akan ikutkah? (hal 19). Tak ada jalan/ menuju Kehadiran/ kecuali lewat/ pertukaran cinta (hal 210). Dan Cinta adalah jalan/ yang melaluinya/ pesuruh dari kegaiban/ mengajari kita/ segala sesuatu (hal 277). Akan tetapi, apa yang dimaksud bukan sama sekali cinta picisan ala muda-mudi era kekinian. Ia justru mensyaratkan luruhnya selubung ego manusia seperti halnya tertuang dalam:
Wahai sobat,
matilah sebelum mati,
jika yang paling kau kehendaki
adalah hidup
Dengan mati seperti itu,
Idris menghuni surga
lebih dulu dari kita semua
(hal 254)
Demikianlah cinta ala Rumi, cinta yang melupakan diri sendiri demi cintanya kepada Yang Tercinta. Semoga buku berwarna merah marun ini menambah energi baru bagi kehidupan para pembaca, lebih-lebih bagi mereka yang tengah melakoni puasa Ramadlan. Selamat menjejaki ke dalam diri!

Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar