Dari Cerita Fiksi sampai Ruang Konflik: Bincang-Bincang Bersama Dwicipta

Oleh: Pungki AS 

Dwicipta dan para srikandi
Sabtu, 5 Maret 2016, saya dan para srikandi magister psikologi mengunjungi Dwicipta, inisiator Gerakan Literasi Indonesia (GLI, sebuah gerakan sosial-politik berbasis kemandirian dan kooperasi), di markas barunya yang terletak di Kotagede, Yogyakarta. Markas ini cukup unik, berbentuk rumah seluas 6x9 meter dengan ragam fungsi: tempat tinggal, tempat diskusi, sekretariat, omah klangenan aktivis mahasiswa, dan penerbitan buku (Literasi Press).
Sebagai bentuk perkenalan, Mas Cip, sapaan akrab Dwicipta, mengetengahkan salah satu program unggulan GLI, yakni Bengkel Menulis. Bengkel Menulis, yang merupakan wadah bagi mahasiswa yang ingin belajar menulis, baik esai, cerpen, puisi, maupun novel, memiliki kurikulum sendiri. Wadah ini terdiri dari empat kali pertemuan dalam sebulan. Sepanjang pertemuan itu terliput satu agenda utama pada tiap-tiap minggunya.
Minggu pertama, mendiskusikan tema peserta atau yang dinamai “metode pulau buru”. Metode ini diadopsi dari metode menulis Pramoedya Ananta Toer ketika menjalani masa pembuangan di Pulau Buru, dengan tujuan untuk memperkaya ide peserta. Minggu kedua, menguraikan anak-tema dari tema yang telah dipilih oleh peserta (mind mapping). Minggu ketiga, fasilitator mengundang penulis atau pakar untuk berbagi pengalamannya (proses kreatif). Dan minggu terakhir, peserta mempresentasikan ulasan tentang karya tokoh yang telah dibaca selama pertemuan-pertemuan sebelumnya (belajar dari maestro) serta mempertahankan karyanya yang sudah jadi. Tanpa mengabaikan tujuan pribadi dari masing-masing peserta, satu tujuan penting yang ditekankan oleh Bengkel Menulis adalah menganalisis kondisi sosial. Jadi, tema yang peserta pillih sebisa mungkin dicari benang merahnya dengan isu-isu sosial yang sedang mengemuka.  
Setelah perbincangan mulai menghangat, di tengah hawa mendungnya pagi, Mas Cip bertutur pengalamannya tentang menulis cerpen.

Pergulatan dalam Menulis Cerpen
Pria yang lahir di sebuah kota kecil pesisir Jawa, Pemalang, ini, sedari usia tujuh tahun telah bersentuhan dengan buku-buku yang tak lazim untuk anak seusianya. “Yesus dan Sahabat-sahabatnya”, katanya, adalah buku pertama yang ia baca dari perpustakaan desa milik pamannya. Yang sungguh menggelitik adalah saat kelas 4 SD ia telah mengambil pilihan untuk lebih membeli buku bacaan ketimbang baju Lebaran.
Sejak saat itu ia kerap berkelana ke berbagai toko buku bekas di sepanjang alun-alun kota Pemalang. Cerita silat Kho Ping Hoo, sejarah ’65, berita internasional, novel-novel Nh. Dini, Kuntowijoyo, dan Pramoedya Ananta Toer ialah sederet bahan bacaan yang dulu pernah jadi buruannya. Kegemaran untuk melahap berbagai buku ini membawa Dwicipta belia berkenalan dengan banyak tokoh sejarah, politik, dan sastra pada zamannya. Hingga akhirnya, kini membawa ia menjadi seorang penulis cerpen.
Dwicipta, barangkali, bukan sosok yang asing di lingkaran penulis muda Indonesia. Tulisan-tulisannya dalam bentuk cerpen cukup banyak menghiasi dinding Koran Kompas dalam sepuluh tahun terakhir. Ada beberapa cerpen yang layak disebut, antara lain Pao An Tui (2005), Pengukir Nisan (2006), Tambo Raden Sukmakarto (2006), Tanah Merah (2008), dan Renjana (2012).[1]
Dari sepenggal kisah dan karya tersebut kami dapat melihat pergulatan Mas Cip dalam laku-menulis. Karena semakin tertarik, para srikandi lalu menyoal bagaimana kiat-kiatnya dalam menulis cerpen. Penulis yang juga jago memasak ini pun memberikan resep: “Cerita fiksi yang baik selalu didahului dengan riset”. Riset ini, paparnya, bisa secara empiris maupun literatur. Melalui riset, penulis dapat menjaring dan mencerap fenomena-fenomena di lapangan. Akan tetapi, pekerjaan terberatnya justru ketika menuliskannya, yaitu bagaimana meramu data-data faktual agar menjadi rangkaian cerita yang bisa menghadirkan imajinasi ke dalam ruang pembaca. Maka dari itu, penulis cerita fiksi pun dianjurkan untuk membaca cerita-cerita nonfiksi. Dan yang tak kalah penting, ia perlu merawat dialektika antara apa yang dialami dan apa yang diketahui.
Sambil menghela nafas sejenak, Mas Cip mempersilahkan para srikandi untuk bermain-main dengan lintingan tembakau. Tak lama kemudian, tercium bau tanah basah—penanda hujan telah tiba.


Reinterpretasi Karya
Agaknya derasnya hujan membuat perbincangan kami semakin asyik. Kali ini Mas Cip bercerita tentang, yang saya sebut, reinterpretasi karya. Dalam esainya Eros Djarot dan Badai yang Pasti Berlalu, Mas Cip dengan piawai menulis bahwa metafora-metafora yang terkandung di dalam album “Badai Pasti Berlalu” memiliki muatan politik yang kuat sehingga menjauhkannya dari kesan dan pesan romantis à la kawula muda. Berangkat dari penyelidikan atas kehidupan Eros Djarot dan lingkaran teman-temannya, ia menunjukkan bahwa album “Badai Pasti Berlalu” merupakan simbol dari kerinduan akan sosok Soekarno, masa-masa revolusi Indonesia, dan harapan untuk merejang ‘badai’ Orde Baru.[2]
Upaya interpretatif semacam ini tentu sah-sah saja, sebab—meminjam konsep Jacques Lacan—kebudayaan dan kehidupan adalah perpindahan dari satu metafor ke metafor lain. Watak alam semesta, misalnya, ada yang mengimajinasikan serupa mesin jam; ada pula yang mengimajinasikan serupa makhluk yang bisa mencari keseimbangan.
Pendongeng ulung ini, seperti tanpa jeda, langsung menyambung dengan cerita tentang Lani—vokalis Frau. Konon, setelah bertemu dengan Mas Cip, Lani sempat menghilang beberapa hari dan tiba-tiba muncul bersama lirik lagu Tarian Sari yang baru. Ada apakah gerangan di antara mereka? Ternyata, selama pertemuan itu, Mas Cip menceritakan nasib sang kakek dalam novel Jean Paul Sartre, Kata-Kata. Di usia senjanya, Charles Schweitzer, kakek Sartre, melihat Sartre kecil sebagai bibit kehidupan yang musti terus tumbuh. Karenanya, sang kakek menghabiskan sisa hidupnya untuk merawat dan menyemai cucunya ini dengan penuh cinta. Hanya dengan cara itulah, menurut Mas Cip, sang kakek baru bisa menerima kematian.
Tak berhenti di situ, Mas Cip rupanya melangkah lebih jauh dengan mengangkat cerita tentang novel Pasar Kuntowijoyo dan Tetralogi Pulau Buru Pram. Dalam interpretasinya, secara tak langsung Pasar merupakan kelanjutan dari Tetralogi Pulau Buru. Sebab, pada era pascakolonial, gelombang modernitas memang benar-benar menguasai wilayah perkotaan. Kemudian, lambat-laun gelombang itu menjamah wilayah pedesaan dan memukul mundur nilai-nilai budaya lokal yang menafasi orang-orang desa hingga satu-satunya yang tersisa hanya wilayah batinnya sendiri. Dengan kata lain, apa yang dituliskan oleh Kuntowijoyo dalam Pasar adalah melampaui zamannya.

Orientasi ke Ruang Konflik
Selepas GLI lahir, pada 17 juni 2013, Mas Cip tak lagi tampil sebagai cerpenis di koran. Ia mencurahkan energinya pada organisasi ini, sesuai misinya, sebagai respons atas perubahan-perubahan di berbagai ranah kehidupan yang menyimpang dari cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia.[3]
Selain itu, rencananya ia akan turut merintis Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumberdaya Alam (FNKSD) cabang Semarang—pertama kali lahir di Probolinggo. FNKSD itu sendiri merupakan wadah koordinasi dari jamaah muda Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki kepedulian terhadap ruang-ruang konflik, khususnya terkait sumber daya alam.
Apa yang dilakukan Mas Cip selama ini mengingatkan saya kepada paradigma Psikologi Kritis. Dibawa oleh Ignacio Martin-Baro, salah satunya, psikologi kritis mulai mengorientasikan diri pada pelayanan komunitas dan hak-hak kaum buruh yang hidup dalam sistem kapitalis. Konon sebelum terbunuh, Ignacio sempat mendokumentasikan penelitian tentang pengaruh penindasan dan penganiayaan politik di Amerika Tengah. Penolakannya atas kekuasan yang tiranis ia artikulasikan melalui semangat pembebasan yang, tampaknya, berakar dari teologi pembebasan Katolik dan Marxisme. Nama tokoh baru yang muncul di dunia psikologi itu kemudian menjadi terkenal karena melancarkan kritik terhadap kuliah-kuliah psikologi arus utama (mainstream) yang jarang meneliti implikasi sosial, moral, dan politik dari suatu penelitian, teori, maupun praktiknya. Secara garis besar, yang menjadi tema pokok ‘psikologi yang membebaskan’ ini adalah mencapai suatu keadilan sosial, memajukan kesejahteraan masyarakat secara umum dan kelompok tertindas khususnya, serta mengubah status quo masyarakat dan status quo psikologi. [4]
Tanpa terasa lima jam berlalu. Waktu pun telah merangkak sore. Gelas-gelas berisi teh nasgitel buatan Mas Cip yang tak lagi bersisa menandai akhir dari perbincangan kami.



Penulis adalah peserta Bengkel Menulis angkatan ke-12

[1] Lihat Kumpulan Cerpen Kompas di https://cerpenkompas.wordpress.com/tag/dwicipta/.
[2] Untuk penjelasan lengkapnya, silakan lihat http://literasi.co/eros-djarot-dan-badai-yang-pasti-berlalu/.
[3] Informasi ini diambil dari brosur Gerakan Literasi Indonesia, hlm. 1.
[4] Lihat Isaac Prilleltensky dan Dennis Fox, Psikologi Kritis: Metaanalisis Psikologi Modern (Jakarta, 2005), hlm. 5 dan 147.

Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar