Prof. Kampu(s)ng itu Bernama Subandi

Oleh: Pungki AS
Robert Frager (berambut putih) bertamu ke kediaman Pak Subandi (berpeci hitam)

“Era ‘psikologi untuk Anda’ (bukan untuk saya) sudah berakhir,” demikian pungkas Pak Subandi, salah seorang dosen senior di lingkup kampus psikologi UGM, dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar pada 27 Oktober tahun lalu dengan judul Kesehatan Jiwa dalam Perspektif Budaya dan Agama. Kalimat pamungkas itu jelas ditujukan untuk mendekonstruksi paradigma klasik yang selama ini merekat pada tubuh kaum ilmuwan psikologi di Indonesia, yakni berorientasi ke orang lain.
Apa yang beliau tuturkan tentu jauh dari sikap mengesampingkan “semangat pelayanan” yang telah dibentangkan oleh para sejawatnya. Tidak sama sekali. Walaupun gelar Magister of Art dan Philosophie of Doctor tersematkan di belakang namanya—belum lagi tambahan di depan: gelar Professor yang kini menandai jabatan fungsionalnya, Pak Subandi adalah dosen yang justru terbiasa manjing ajur-ajer, meluluhkan diri, dengan subjek-subjek penelitiannya. Barangkali itu hanya merupakan konsekuensi logis bagi seorang penstudi etnografis—mengingat bahwa beliau telah bersentuhan dengan hal-ihwal mengenai kesehatan mental (yang kemudian diistilahkan “kesehatan jiwa”), kebudayaan, dan religiusitas sejak akhir ‘90-an—di mana ia disyaratkan untuk blusukan dan tinggal di lapangan.
Akan tetapi, Pak Subandi rupanya melakukan hal serupa kepada para mahasiswanya. Penulis masih ingat ketika baru pertama kali berkunjung ke kediaman beliau, dengan beberapa teman seangkatan, untuk mengikuti diskursus terkait psikologi tashawwuf—yang sebelumnya diberi tema “kajian psikologi Islam”. Selain kami, ternyata di rumah singgahnya itu telah hadir rekan beliau dan mahasiswa-mahasiswa lain, mayoritas dari S1 psikologi UGM dan segelintir alumni. Semenjak itulah penulis mulai kerap menyimaknya, apalagi setelah tahu kalau temu diskusi diadakan satu kali seminggu.
Dalam suatu diskusi, beliau pernah menjelaskan betapa urgensinya bagi ilmuwan psikologi untuk mencari harmoni antara psikologi dan tashawwuf. Sebab, menurutnya, perkembangan wacana psikologi Barat (psikologi mainstream) selama ini kering dari nilai-nilai religiusitas dan spiritualitas. Pun sebagian wacana psikologi Islam yang bergulir hari-hari ini belum menyentuh dimensi esoterik dalam Islam tersebut.
Fenomena ini seperti diungkap dalam booklet pidato pengukuhannya. Pak Subandi menuliskan bahwa sekalipun agama dibicarakan dalam kajian psikologi Barat, ia dilihat tidak lebih dari ‘variabel’ yang memberi pengaruh negatif pada kesehatan jiwa. Beliau pun mengetengahkan hal sebaliknya: tashawwuf, atau dimensi esoterik dalam Islam, justru dapat memberi kontribusi penting bagi pengembangan konsep dan aplikasi tentang kesehatan jiwa di era modern. Dengan pengalaman Pak Subandi yang selama puluhan tahun setia mengkaji relevansi antara gangguan jiwa, agama, dan kebudayaan, tentu beliau tidak menafikan adanya peran dan kontribusi positif dari psikologi Barat. Namun dengan catatan: bertolak dari perspektif transformasi jiwa Robert Frager mulai tingkat pertama tentang an-nafs al-amarah (jiwa yang dikuasai hawa nafsu) hingga tingkat ketujuh tentang an-nafs al-kamilah (jiwa yang suci, yang sempurna), beliau menempatkan psikologi Barat paling jauh hanya mempelajari mind and behavior dari orang-orang yang berada pada tingkat keempat, an-nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang). Karenanya, beliau menyarankan agar perspektif transformasi jiwa itu dijadikan langgam bagi ilmuwan psikologi, khususnya dalam praktik terapi.
Dari sini dapat dipahami bahwa tidak berlebihan ketika Pak Subandi menuturkan, “era ‘psikologi untuk Anda’ sudah berakhir”. Sebab, bagi penulis, memang sudah saatnya “psikologi untuk saya”, untuk terlebih dulu mengenali “saya”, untuk terlebih dulu memahami “saya”, dan kemudian menyembuhkan “saya”. Kalau “saya” saja masih mengalami gangguan, bagaimana mungkin “untuk Anda”?
Kami sungguh beruntung. Dosen yang juga menjabat sebagai ketua PP Asosiasi Psikologi Islami ini nyaris melipat jarak dengan para mahasiswa, dialog bersama, duduk bersama, dan menikmati hidangan bersama—semacam ritual sebelum kami pulang. Lebih lagi, jarang sekali ada dosen yang mau dan mampu merawat mahasiswa-mahasiwanya, baik yang tengah menempuh S1, S2, maupun alumni, dengan siraman ‘mata air’ agama Islam: tashawwuf.
Kiranya, dengan meminjam pena Gus Dur tentang “kiai kampung”, yaitu kiai yang peduli terhadap nasib wong cilik dan jauh dari politik kekuasaan, penulis sengaja memberanikan diri untuk menyebut Pak Subandi sebagai “Profesor Kampung”. Atau kalau pakai istilah lain, disingkat menjadi “Prof. Kampu(s)ng” (merujuk kepada sosok yang berperan atas kemanunggalan antara kampus dan kampung).
Salam takzim.


Penulis, tinggal di Rumah Progresif
Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

1 komentar:

  1. Salam
    .boleh saya minta nomor kontak prof.Subandi.? Kebetulan saya sdg menulis proposal disertasi ttg Psiko-spiritualitas seksual dalam al-Quran si UIN sunan kalijaga. Nomer HP saya 085249177678

    BalasHapus