Perpustakaan Sekolah Dasar Dihapus Saja

Oleh : Teuku Mulkan Safri

Hampir semua orang mengetahui apa itu perpustakaan. Ketika ditanya mereka yang notabenen sebagai masyarakat umum, yang tidak menimba ilmu perpustakaan akan memberi jawaban sederhana, seperti perpustakaan sebuah gedung atau ruangan yang di dalamnya terdapat banyak buku. Penjelasan tersebut tidaklah salah, karna memang begitu adanya, meski saat ini perpustakaan telah bermetamorfosa menjadi multi fungsi, tidak hanya sebatas ruang baca saja. Perpustakaan mengalami perubahan makna, dari ruang baca menjadi wadah yang menampung dan mengelola informasi, baik dalam wujud yang terstruktur maupun semi terstruktur”. Saya menyebutnya sebagai wadah karena perpustakaan saat ini tidak hanya berpatokan pada tempat (gedung atau ruangan). Sebagai contoh, saya memiliki sebuah PC yang terkoneksi dengan jaringan internet, kemudian buat website melalui media. tatanan media dengan limpahan tawaran,  seperti literatur berbentuk e-book dan database jurnal, Intinya perpustakaan bukan terbatas pada sebuah gedung yang berisi buku dan rak-rak. Ia menjelma menjadi ratu virtual yang bisa kita akses dimana saja dan kapan saja.
Beberapa bulan yang lalu, saya memiliki kesempatan berdiskusi bersama salah seorang pakar di ilmu perpustakaan yang nama beliau sudah tenar di lingkungan akademisi. Singkat kata beliau menwarkan pemikiran beliau untuk menggagas keberadaan “Guru Pustakawan” sebagai profesi baru di Indonesia, bukan untuk menggantikan guru dan juga bukan untuk menghilangkan pustakawan, tapi mengkolaborasikan Guru versus Pustakawan menjadi Guru Pustakawan. Konon Guru Pustakawan sudah diterapkan di beberapa negara maju, dan kita sebagai negara berkembang tidak ada salahnya untuk maju. 
Keberadaan perpustakaan sekolah memang sudah diatur dalam Undang-undang Tentang Perpustakaan No 43. Tahun 2007 Pasal 23 ayat 1 sampai ayat 6. Namun pada prakteknya masih bersifat kontradiktif dengan undang-undang tersebut. Hal tersebut dikarenakan kurang sinerginya antara siswa di sekolah tersebut dengan perpustakaan yang ada. Terutama pada sekolah dasar (SD)
Pada dasarnya keberadaan perpustakaan sekolah dasar sifatnya wajar saja, namun keberadaannya dianggap menyerap dana miliaryan rupiah. Sedangkan pada dimensi kemanfaatan masih terasa sangat minim. Anggap saja di seluruh Indonesia terdapat 100.000 jumlah sekolah, dan masing-masing sekolah (baik TK, SD dan SMP sederajat) diharuskan untuk memiliki perpustakaan, itu artinya ada 100.000 perpustakaan sekolah di negeri ini. Dan setiap sekolah mendapatkan alokasi dana dari pemerintah (meski setiap sekolah mendapatkan dana berbeda-beda jumlahnya). Dalam Undang-undang Tentang Perpustakaan No 43. Tahun 2007 Pasal 23 ayat 6 (enam) yang bunyinya: Sekolah/madrasah mengalokasikan dana paling sedikit 5% dari anggaran belanja operasional sekolah/madrasah atau belanja barang di luar belanja pegawai dan belanja modal untuk pengembangan perpustakaan.
Dalam rumusan tersebut,  misalnya sekolah X memiliki anggaran 200 juta (setiap sekolah menerima alokasi dana dari pemerintah berbeda-beda, tergantung peringkat atau rangking dari sekolah tersebut) Dan 5% dari 100 juta = 10.000.000 rupiah. Maka kepala sekolah harus menyisihkan 10 juta  rupiah untuk perpustakaan sekolah. Bila 10 Juta terbukti kemanfaatannya barangkali dana akan tersalur dnegan baik, tapi apalah daya  selama ini pengembangan perpustakaan sekolah tidak menunjukkan kemajuan yang baik.
Indikator lain dari wacana yang penulis salurkan diatas juga berkaitan dengan minat baca para siswa. Sekolah dan pendidikan pada umumnya tidak mengakomodasi kultur membaca yang baik. Pada konteks ini, kita bisa lihat negara besar, seperti Belanda, Inggris dan Amerika yang mewajibkan siswanya membaca buku diluar mata kuliah.
Maka dari itu, Strategi berupa adanya guru Pustakawan menjadi solusi. mereka yang masuk dalam kategori Guru Pustakawan harus memiliki jenjang pendidikan ilmu perpustakaan dan juga ilmu pedagogik. Mereka telah ditempa dengan basik keilmuwan yang matang.. Misal sarjana perpustakaan, atau magister perpustakaan, Sehingga kehadiran mereka mampu mengkolaborasikan perpustakaan dengan pendidikan, perpustakaan sekolah selama ini dihuni oleh mereka yang tidak mengerti pengelolaan perpustakaan.

Lantas apa bedanya pustakawan sekolah dan guru pustakawan?
Pustakawan Sekolah dalam realitas sehari-hari hanya nunggu bola. Duduk diruangan sembari menunggu inisiatif dari guru disekolahnya untuk membawa siswanya ke perpustakaan sekolah. Sementara formulasi guru Pustakawan bersifat mengayomi, melayani hingga menginspirasi para siswa untuk membaca. tugas tersebut dengan sasaran bahwa fokus pustakawan adalah menumbuh minat baca pada siswa SD.
Bagaimana caranya? Apa perlu perpustakaan dihapus?        
Caranya, setiap sekolah (wajib) bekerja sama dengan perpustakaan daerah setempat, sebut saja Perpustakaan X didaerah  X. Dan perpustakaan di daerah X menyediakan ruangan khusus untuk pengenalan perpustakaan yang dimentoring oleh pihak perpustakaan setempat dan guru pustakawan dari sekolah X.        
Contoh:
DAFTAR KUNJUNGAN SEKOLAH DI PERPUSTAKAAN KOTA/KABUPATEN XXXX
No
Nama Sekolah
Guru Pustakawan
(yg bertanggung jawab)
Pukul
Hari
Ket
1
SD 1 XXXX
XXXXX

Senin

2
SD 2 XXXX
XXXXX

Xxxx

3
SD 3 XXXX
XXXXX

Xxxxxx

4
SD 4 XXXX
XXXXX

Xxxxxx

5
SD 5 XXXX
XXXXX

Xxxxxx

6 Dan seterusnyaaaa...

Persoalan dana menjadi pemicu kenapa saya menulis ini. penghapusan perpustakaan sekolah hanya efek dari kausalitas yang terjadi pada praktek di lapangan. Pada konteks ini, sebaiknya para siswa harus didorong untuk memanfaatkan perpustakaan daerah setempat. Mungkin bisa fokus pada Perpustakaan Daerah/wilayah. Kita bisa mengukur bagaimana animo khalayak ramai. Misal, Perpustakaan Daerah Sleman, menfasilitasi setiap sekolah dasar  yang berada di daerah Sleman, sehingga sekolah yang memiliki jarak dekat dengan Sleman atau berada di Sleman bisa memiliki jadwal rutin untuk mengunjungi perpustakaan Sleman, atau perpustakaan kampung. Di sisi lain, guru pustakawan juga bisa mengisi mata pelajaran bimbingan baca, disitu guru pustakawan bisa lebih berperan dalam menumbuhkan minat baca siswa.
Dengan begitu ikhtiar ini adalah upaya untuk mengurangi jumlah perpustakaan yang terbengkalai? Liat saja berapa banyak jumlah perpustakaan sekolah dasar yang terbengkalai? Kadang buka, kadang tutup. Siswa hanya datang ke perpustakaan untuk pinjam buku, itupun karena perintah guru untuk keperluan tertentu. Kalau fungsi pada jam istrahat, siswa kita malah lebih asik bermain. Anak-anak itu dunianya main, kepekaan membaca sangat jarang ditanam. Sehingga dari tulisan ini kita sebetulnya hanya butuh guru pustakawan, yang mampu menumbuhkan minat baca. Seperti dalam Film Denias; Senandung diatas awan, membaca itu bisa dimana-mana, yang penting siapa yang mengajarkan kita untuk gemar membaca. Itulah esensi perpustakaan.
            Kebermanfaatan dengan adanya guru pustakawan dibandingan perpustakaan  adalah sebagai berikut. Pertama, Menghemat anggaran hingga milyaran rupiah dari seluruh sekolah Dasar yang ada di Indonesia, menghemat pembangunan gedung dan ruang sekolah. Kehadiran guru pustakawan justru efektif dalam meningkatkan minat baca siswa karena lebih bersifat jemput bola, Pustakawan bisa lebih kreatif dan inovatif karena tidak hanya “stay” dibelakang meja
Solusi agar tawaran ini menjadi nyata dalam pendidikan Indonesia, sebagai berikut; Penerapan ini tepat dilakukan pada sekolah dasar, SMP kita masih harus mengamati dinamikanya. Untuk jenjang SMA tentu kita sangat peru perpustakaan, baik dalam arti gedung yang diisi buku-buku. Karena sekolah SMA adalah fase pembentukan, sedangkan SMP adalah fase pencarian jati diri dan SD adalah fase bermain. Dan perguruan tinggi, wajib memiliki perpustakaan karena ini adalah fase perencanaan masa depan.
Penulis; perintis Pustakawan Pioneer dan Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta


Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

18 komentar:

  1. Yang menulis sudah pernah survei belum, apa iya setiap sekolah punya perpustakaan. Saat ini sebagian besar sekolah yang ada hanya ruangan yang berisi tumpukan buku pelajaran alias gudang buku, bukan perpustakaan. Yang disebut perpustakaan salah satunya ya ada pengelola yang memiliki pendidikan ilmu perpustakaan setidaknya kursus pengelolaan perpustakaan. Jadi, sekali lagi tolong disurvei betul terhadap pendapatnya ini. Apalagi penulis mengaku mahasiswa pasca sarjana ilmu perpustakaan dan informasi.

    Salam,

    Farli

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Salam Farly.

      Setiap orang memiliki asumsi tersendiri perihal sebuah fenomena dilapangan. Saya memang belum melakukan survey apapun terkait keberadaan perpustakaan sekolah. Itu hanya meratakan paradigma perpustakaan sekolah yang terbengkalai. Tujuan dari tulisan tersebut hanya memberikan solusi agar pemberdayaan minat baca siswa sekolah dasar bisa lebih mumpuni, dengan penerapan konsep Guru Pustakawan diharapkan pustakawan bisa "jemput bola" dalam meningkatkan minat baca siswanya. Sehingga alokasi dana bisa lebih difokuskan dalam pembinaan minat baca dan pengenalan perpustakaan melalui kerjasama yang dibangun melalui perpustakaan daerah/perpustakaan kota.
      Pemikiran penghapusan keberadaan perpustakaan sekolah dapat diganti dengan kunjungan dari suatu sekolah ke perpustakaan yang dibimbing oleh guru pustakawan.

      Hapus
    3. ini yg nulis orange ngawur...
      harusnya sejak dini ditanamkan gemar membaca kok malah suruh bermain. situ ga pernah jadi guru dan pustakawan. betapa repotnya tugas pustakawan SD. harusnya situ kerja dulu jd guru atau pustakawan baru buat tulisan ini. ilmu yg km dapatkan d pascasarjana ga mutu.

      Hapus
  2. saya setuju dengan pendapat Bung Farly, seharusnya penulis survei terdahulu. Kami dulu semasa kuliah berusaha menjadi sahabat perpustakaan dengan memberikan pelatihan dasar pengelolaan perpustakaan Sekolah Dasar. Dan itu sangat bermanfaat. Saya sangat menyayangkan kenapa penulis menulis artikel di atas,seharus kita mendukung untuk membuat Perpustakaan Sekolah Dasar lebih baik. Dan perlu di ketahui, Perpustakaan Sekolah dengan Perpustakaan Umum /Daerah itu sangat beda yah.

    BalasHapus
  3. Pemikiran penulis yg adalah mhsw pascasarjana ilmu perpustakaan ibarat usulan seorang mhsw ISI utk menghapuskan/meniadakan gedung2 kesenian karena para seniman tidak mampu memanfaatkan fasilitas yg ada itu, dan juga karena masyarakat tidak berminat melihat pertunjukan kesenian yg itu2 saja... tidakkah menjadi kewajiban para seniman utk berinovasi dan mempromosikan produk serta layanan mereka? Ada semacam pepatah: "kalau tidak pandai menari, jangan panggung disalahkan" ...
    FYI, thn 70-an tatkala saya ikut Pendidikan Pustakawan Sekolah telah dipromosikan "Jam Perpustakaan" mulai dari SEKOLAH DASAR yg diajarkan oleh seorang pustakawan guru, atau pustakawan sekolah dalam jerjasana dgn guru kelas. Tujuan utama: agar sejak dini siswa sudah berkenalan dan biasa memanfaatkan perpustakaan demi pendidikan mereka selanjutnya. Jelas,itu suatu investasi jangka panjang...maka pasti perlu biaya... Maaf, itu saja komentar saya, sudah panjang. Semoga bermanfaat. (Sungkana Hadi, pensiunan pustakawan)

    BalasHapus
  4. wah wah... begitulah tulisan khas mahasiswa, opininya agitatif, kritis dan meledak2.. mari kita perjuangkan terus dunia perpustakaan. semoga asumsi dan pendapat penulis semakin meningkatkan semangat kita untuk memajukan perpustakaan,.. semangat..

    BalasHapus
  5. guru pustakawan... konsep ini pernah kami dengar pada tahun 2012 melalui bapak Dr. Zulfikar Zen, beliau dosen saya. permasalahan dari berbagai sekolah yang memiliki perpustakaan adalah tidak dberdayakannya perpustakaan karena perpustakaan di sekolah cenderung tidak membuat program yang akan memberdayakan dirinya sendiri mengapa? 1. guru tidak mampu double job (sebagai pustakawan dan guru) kemudian maaf menurut saya kata-kata mas yang mengatakan berlatar ilmu perpustakaan dan ilmu pedagogi itu tidak reliable. mau double degree? atau mau menempuh pendidika selama 8 tahun? d3 perpustakaan dan S1 kependidikan. solusi yang mungkin ditawarkan adalah menegaskan dan memberi sanksi terhadap SNI mengenai perpustakaan sekolah yaitu sekolah dasar wajib memiliki pustakawan minimal d2. SMP dan SMA minimal D3. merekalah yang mejadi pustakawan dan mendidik rancangan program yang mereka buat dengan memanfaatkan perpustakaan sekolah tentunya juga mendukung kurikulum saat ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnua S1 ilmu perpustakaan, S2 ilmu pedagogik, atau sebaliknya.
      jd tidak perlu menempuh pendidikan selama 8 tahun, 6 tahun saja cukup mengkolaborasikan ilmu perpustakaan dgn ilmu pedagogik.
      Pemikiran saya dalam tulisan diatas hasil diskusi saya bersama bareng pak Putu Laxman Pendit.

      Hapus
    2. Maksudnua S1 ilmu perpustakaan, S2 ilmu pedagogik, atau sebaliknya.
      jd tidak perlu menempuh pendidikan selama 8 tahun, 6 tahun saja cukup mengkolaborasikan ilmu perpustakaan dgn ilmu pedagogik.
      Pemikiran saya dalam tulisan diatas hasil diskusi saya bersama bareng pak Putu Laxman Pendit.

      Hapus
  6. Kui mas e penulis kurang ngopi, kene mas ngopi karo aku,hha
    #saveperpustakaansekolah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh mam. Kapan kita ngopi sekalian diskusi ttg perpustakaan sekolah? Biar aku gak kurang ngopi ya

      Hapus
  7. Tulisan ini memang diwacanakan untuk memancing gagasan-gagasan untuk menemukan solusi bagaimana Perpustakaan SD dapat terwujud baik dngan tidak menjadikan "dana" sebagai alasan klasik penghambat. Tapi, jika tulisan ini dimaksudkan sebagaimana tertulis eksplisit, perpustakaan SD dihapus saja, harusnya penulis merasa malu dengan kawan2 K8 yang berjibaku di gerakan #Bebukuan (digawangi Endrita Agung dkk), dan malu pada kami (Sanggar Kepenulisan PENA Ananda CLUB​) yang bukan pustakawan tapi mengupayakan kehidupan perpustakaan di sekolah, termasuk SD.

    BalasHapus
  8. kondisi perpustakaan sekolah memang cukup memprihatinkan, dalam artian pemberdayaan koleksi. hanya saja saya kurang setuju dengan pernyataan bahwa pustakawan hanya menunggu bola dan stay di belakang meja. dalam pemikiran saya justru pustakawan yang harus memiliki inovasi dan berinisiasi dalam perencanaan kegiatan, termasuk bekerjasama dengan pihak sekolah dalam usaha meningkatkan minat baca. persoalan lain, ya memang masa SD adalah masa bermain, tapi pada masa ini justru fondasi dalam menentukan minat baca seseorang, rasanya tidak tepat jika kita baru mulai di usia SMP atau SMA. adapun terkait anggaran 5% untuk perpustakaan, hanya sedikit dari sekolah yang "rela" menyalurkan dana tersebut ke perpustakaan. hemat saya, semua bersumber pada peran guru yang merupakan aktor utama dalam setting sekolah, keberadaan pengelola perpustakaan (apaun namanya) yang memang fokus dalam mengelola dan mengembangkan perpustakaan sekolah.

    BalasHapus
  9. Saya seorang pustakawan Sekolah Dasar yang sedang mati-matian mengupayakan minat baca siswa. Alhamdulillah sudah mulai terlihat hasilnya. Pada dasarnya justru siswa di SD sedang semangat-semangatnya untuk belajar, terutama belajar membaca, memahami. Siswa SD yang serba ingin tahu. Jadi jika ada wacana untuk menghapuskan Perpustakaan SD, Aduhh...coba di telaah lagi deh. Kalau perduli terhadap perpustakaan, lebih baik langsung beraksi bukan beropini.

    BalasHapus
  10. perpustakaan sekolah dasar menurut saya sangatlah penting untuk siswa siswi, karena selain apa yang diajarkan sama guru siswa juga bisa menambah pengetahuan dengan memanfaatkan sumber-sumber yang ada diperpustakaan. selain siswa guru pun bisa memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber referensi untuk bahan ajar.

    BalasHapus
  11. Terlepas masalah pro & kontra, saya apresiasi dengan penulis. Tanpa disadari oleh kita, ternyata ide penulis telah membangunkan para penggiat perpustakaan (apapun sebutannya). Harapannya ini menjadi momentum kebangkitan dunia perpustakaan di sekolah dasar. Sekali lagi apresiasi untuk penulis & salam literasi.

    BalasHapus