Perhatian untuk Disabilitas Karena Kita Semua Setara

Oleh : Nia Anggri Noveni

Potret tarian “pintu” menuju kesetaraan sosial penyandang disabilitas Universitas Brawijaya, Malang

Penyandang disabilitas kini mulai mendapat ruang untuk dilirik oleh masyarakat, teruatama mereka yang memiliki bakat dan superioritas. Tidak hanya itu, keinginan dan tekad para penyandang disabilitas untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi juga melimpah ruah, keterbatasan dalam diri mereka seolah tak menjadi pembatas semangat mereka dalam menuntut ilmu. Salah satu kampus yang siap menampung adalah Universitas Brawijaya, dengan fasilitas  PSLD (Pusat Studi Layanan Disabilitas) lembaga ini merupakan lembaga yang berfungsi sebagai pusat penelitian tentang isu-isu disabilitas dan pemberian layanan bagi penyandang disabilitas di Universitas Brawijaya. PSLD UB didirikan pada 19 Maret 2012, pendirian PSLD ini dilatar belakangi oleh keadaaan dimana tidak ada adanya akses perguruan tinggi untuk penyandang disabilitas, padahal hak pendidikan non-diskriminatif bagi penyandang disabilitas dilindungi oleh Undang-undang dan konvensi Internasional. Akses menuju perguruan tinggi untuk penyandang disabilitas sulit ditembus, serta kurangnya berbagai sarana prasarana. Itulah mengapa PSLD menyediakan akomodasi bagi penyandang disabilitas, gebrakan lain berupa penelitian tentang isu-isu disabilitas, meningkatkan sensitivitas civitas akademika Universitas Brawijaya terhadap isu-isu deskriminasi, ketidakadilan serta ketidakpedulian kita pada disabilitas.  
            Selain mendapat perhatian melalui kebijakan rektor tentang keputusan pendirian PSLD, perhatian tentang disabilitas disampaikan juga melalui bentuk karya seni, pada perlombaan Gebyar Festival Tari (GFT) tanggal 12 Desember 2015 yang diselenggarakan oleh Unitantri sebuah unit kegiatan tari dan karawitan mahasiswa di Universitas Brawijaya, pada acara tersebut, perwakilan dari FISIP UB membawakan tarian yang berjudul “PINTU” tarian ini menceritakan bagaimana terdapat pembatas semacam pintu orang normal dengan orang berkebutuhan khusus, kaum normal ingin mengajak kaum difabel (sebutan untuk kaum disabilitas) agar dapat melewati pintu untuk menuju kesetaraan. Pada awal tarian diberikan gambaran bagaimana kehidupan kaum disabilitas, dengan sebuah ilustrasi tentang pintu sebuah penggambaran dimana kaum disabilitas merasa mendapat tatapan aneh, melalui sebuah pintu, sebuah tatapan yang menjadikan mereka enggan keluar dari pintu kesetaraan. Tarian yang dikoreograferi oleh Wanodya Hastungkara, dan  sentuhan komposer musik Muhammad Akbar Pribadi, berhasil mendapat juara umum pada perlombaan GFT yang diikuti oleh seluruh Fakultas di Universitas Brawijaya, Dalam tarian tersebut diperlihatkan pada akhir adegan, satu orang yang normal saja tak mampu untuk membawa mereka ke dalam kesetaraan, mereka kaum difabel membutuhkan dukungan dari masyarakat lain untuk menuju kesetaraan “ Karena Kita Semua Setara”
            Pembatas pintu antara orang normal dan kaum disabilitas dalam tarian yang berjudul “Pintu” bukanlah sebuah karya seni tanpa makna, baru-baru ini salah seorang dosen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya, Cleoputri Al Yusainy, Phd menjadi pembicara di seminar bidang kesehatan, tema yang dibawakan dalam seminar tersebut adalah “ No Health Without Mental Health” yang isinya mengenai stigma masyarakat pada disabilitas mental dan fisik, seminar yang diselenggarakan pada hari jumat 12 Februari 2016 ini menyebutkan bahwa beliau bersama tim riset telah melakukan penelitian selama empat bulan tentang stigma pada penyandang disabilitas, hasilnya dari 100 mahasiswa FISIP UB ditemukan bahwa masih terdapat stigma negatif pada penyandang yang mengalami gangguan mental dibandingkan gangguan fisik, pengakuan 100 responden didapatkan melalui kuesioner teks, terdapat pengakuan yang menerima mereka tetapi masih sebatas pengakuan, untuk kepentingan pencitraan, kata dosen yang merupakan alumnus University of Nottingham, Inggris ini.
Sumber :
Penulis ; Alumnus Psikologi Universitas Brawijaya dan Mahasiswa Magister Psikologi UGM.

Lihat aksi tarian " Pintu disini.
Referensi




Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar