Neuropsikologi dan Perkembangannya di Indonesia



Oleh: Vonny Syafira

gambar: mindbodycoach.org


Sebelum membicarakan neuropsikologi, ada baiknya kita mengetahui hubungan antara neuropsikologi dengan biopsikologi terlebih dahulu. Beberapa awam kerap menanyakan tentang kedudukan biopsikologi dan neuropsikologi. Ada beberapa hal yang perlu diketahui bahwa biopsikolog adalah pakar neurosains yang mengusung pengetahuannya mengenai perilaku dan metode penelitian perilaku pada penelitian-penelitian yang dilakukannya. Biopsikolog menyatukan pengetahuan dari disiplin-disiplin neurosains lainnya dan menerapkannya pada studi tentang perilaku. Biopsikologi merupakan pendekatan biologis pada studi tentang perilaku. Sebagian orang menyebut bidang ini dengan psikobiologi, biologi perilaku, atau neurosains perilaku. Sementara psikologi adalah ilmu ilmiah yang mempelajari semua perilaku yang nampak dan proses internal yang melatarbelakanginya. Misalnya, memori, motivasi, persepsi, dan emosi.
Ilmu biologi perilaku telah memiliki sejarah yang panjang, sedangkan biopsikologi belum masuk dalam perkembangan neurosains hingga abad 20. Biopsikologi lahir pada tahun 1949 saat D.O. Hebb meluncurkan  bukunya The Organization of Behavior. Hebb, dalam buku tersebut, mengembangkan teori komprehensif mengenai fenomena psikologis yang kompleks seperti persepsi, emosi, berpikir, hingga memori, yang mungkin dapat dihasilkan dari aktivitas otak. Terdapat enam bagian dari biopsikologi yaitu (1) psikofisiologi, (2) psikofarmakologi, (3) neuropsikologi, (4) fisiopsikologi, (5) neurokognitif, dan (6) psikologi komparatif. Keenam bagian tersebut nampak terpisah namun mereka saling overlap.
Dari penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa neuropsikologi merupakan salah satu bagian yang dikaji dalam biopsikologi.

Perkembangan Neuropsikologi di Indonesia
Neuropsikologi menjadi kajian ilmu yang berkembang pesat di Amerika. Ini terlihat dari jumlah anggota Asosiasi Neuropsikologi, program pelatihan, dan makalah-makalah yang dipublikasikan. Lain halnya di Indonesia, Konferensi Neurosains di Indonesia dilakukan pertama kali pada tahun 2013 oleh Indonesia Brain Research Center (IBRC)-Surya University yang bekerjasama dengan Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PP PERDOSSI), Masyarakat Neurosains Indonesia (MNI), dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJI). Konferensi ini menjadi sangat menarik karena diadakan satu tahun setelah ditetapkannya Dekade/Dasawarsa Otak Indonesia pada bulan Mei 2012 oleh Kemenristek RI dengan Masyarakat Neurosains Indonesia.
Neuropsikologi masih menjadi kajian yang terus diupayakan. Dalam upaya pengembangan pendekatan Biospikologi, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Konferensi Nasional Neuropsychology di akhir tahun 2014 dengan tema “Peran Neuropsychology untuk Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis (Psychologycal Well-Being)”. Pengembangan neuropsikologi dalam ranah proses mental dan perilaku manusia diharapkan dapat meningkatkan kualitas kehidupan manusia secara holistik, serta menginisiasi intervensi-intervensi psikologis untuk mengoptimalkan fungsi otak. Asosiasi neuropsikologi di Indonesia masih didiskusikan pertama kali pada Konferensi Nasional Neuropsikologi di UGM, tetapi hingga saat ini masih menjadi sebuah rencana dan belum diresmikan. Fakultas Psikologi UGM telah mulai mengembangkan matakuliah biopsikologi pada jenjang S1, S2, dan S3, serta mengembangkan penelitian di bidang biopsikologi dan neuropsikologi yang dapat menjadi dasar bagi perkembangan pendekatan biologi dalam mempelajari perilaku di Fakultas Psikologi UGM. Pengadaan laboratorium neuropsikologi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia masih sebatas wacana, karena dalam pembuatannya membutuhkan beberapa fasilitas klinis, neuroimaging state-of-the art (seperti EEG dan fMRI) yang cukup mahal. Kolaborasi dengan laboratorium biopsychological juga diperlukan (saat ini Fakultas Kedokteran UGM sudah memiliki laboratorium biopsikologi). Tidak hanya memerlukan dana yang cukup besar dalam pengadaan laboratorium neuropsikologi, namun juga memerlukan kerja sama tim multidisiplin psikolog, ahli biologi, dan psikiater dalam mengembangkan trek interdisipliner antara psikologi dengan neurosains ini.
Neuropsikologi merupakan bidang psikologi klinis dan eksperimental yang berupaya mempelajari hubungan antara struktur dan fungsi otak dengan proses dan perilaku psikologis. Neuropsikologi mengkaji mengenai dampak psikologis yang terjadi ketika terdapat kerusakan neural pada otak manusia. Neuropsikolog berasumsi bahwa perilaku manusia, kepribadiannya, proses psikopatologis dan strategi kognitifnya diperantarai (mediated) oleh otak. Secara etik orang normal tidak diperkenankan menjadi human subject. Peneliti neuropsikologi menggunakan metode penelitian studi kasus atau kuasi-eksperimental pada pasien yang mengalami kerusakan otak karena penyakit, kecelakaan, atau operasi syaraf.
Neuropsikologi merupakan sub-disiplin biopsikologi yang paling bersifat terapan. Tes-tes neuropsikologi memberikan diagnosis dan membantu fisiolog atau dokter dalam merancang terapi farmakologi yang efektif, yang kemudian menjadi dasar penting untuk konseling dan perawatan pasien. Intervensi pasien ini biasanya akan dilakukan oleh psikolog klinis.  Kerusakan otak dapat dideteksi melalui teknik pemeriksaan kedokteran neurologi, antara lain MRI (magnetic resonance imaging), EEG (electro encephalography), serta PET (pository emmision tomography). Sedangkan tes psikologi dapat menggunakan Wechsler Memory Scale (WMS) untuk mengukur ingatan, Wechsler Bellevue Subtes Hold dan Don’t Hold untuk mengukur ada tidaknya kemunduran inteligensi, Bender-Gestalt untuk dugaan kerusakan otak, dan tes psikologi untuk mengukur tingkatan defisit fungsi otak yang dinyatakan dalam angka NDS atau Neuropsychological Deficit Scale (Wolfson, 1993). Dalam hal interpretasi, dokter cenderung melakukan interpretasi kualitatif, sementara psikolog cenderung melakukan interpretasi kuantitatif. Bagian terpenting otak yang menjadi fokus neuropsikologi adalah cerebral cortex, yang sangat rentan mengalami lesi (luka otak) karena kecelakaan ataupun pembedahan, walaupun gangguan otak organik bisa saja disebabkan oleh 6 gangguan fungsi otak, yaitu:
1.   Penyakit degeneratif, yaitu penyakit yang menyebabkan kemunduran, misalnya, dimentia jenis Alzheimer, Hutington, Parkinson, dan lain-lain
2.   Trauma pada otak, seperti gegar otak (concussion), pendarahan otak (contusion), dan robek otak (laceration)
3.   Vascular accidents, terjadinya penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak, biasanya dialami oleh pasien stroke
4.   Defisiensi nutrisi (kekurangan gizi)
5.   Tumor, gejala terkadang terlihat ringan seperti sakit kepala dan gangguan penglihatan, namun tidak menutup kemungkinan untuk menjadi fatal
6.   Keracunan, beberapa paparan toxic seperti lead mercury dapat mengakibatkan delirium

Zillmer dalam bukunya yang berjudul Principles of Neuropsychology menerangkan bahwa terdapat dua pendekatan dalam menginterpretasi hubungan antara gejala gangguan perilaku dengan kerusakan otak, yaitu teori lokalisasi dan teori lateralisasi. Pendekatan lokalisasi menyatakan bahwa kerusakan pada bagian otak tertentu menimbulkan gangguan pada fungsi tertentu pula. Pendekatan lokalisasi ini tidak sejalan dengan prinsip equipotential, bahwa semua bagian otak ikut terlibat dalam suatu kerusakan, bukan hanya sebagian. Teori Lokalisasi dan frenologi  Franz Gall (1758-1828) menerangkan bahwa area otak seperti peta yang memiliki bagian-bagian, kepribadian dan kognisi manusia berbeda-beda sesuai dengan ukuran dan letak bagian otak, Gall meletakkan dasar dari teori lokalisasi otak dan teori frenologi. Teori lokalisasi korteks menurut Paul Broca (1824-1880) dan Carl Wernicke (1848-1904) menggambarkan bahwa motor speech terletak di posterior dan inferior lobus frontalis kiri. Sedangkan pemahaman bicara terletak di superior, posterior, dan lobus temporalis. Namun teori lokalisasi korteks ini ditentang oleh Pierre Flourens (1794-1867) dengan ablation experiment-nya (pengambilan bagian manapun dari otak burung akan menyebabkan perubahan perilaku secara menyeluruh). Sedangkan pendekatan laterisasi menyatakan bahwa ada perbedaan yang mendasar antara fungsi otak kiri dan fungsi otak kanan. Pandangan ini menimbulkan pertanyaan tentang orang – orang left-handed dan right-handed.

Kesimpulan
Demikianlah gambaran umum tentang neuropsikologi dan perkembangannya di Indonesia. Penjelasan di atas memperlihatkan bahwa neuropsikologi, sebagai sub-disiplin biopsikologi, masih memerlukan waktu yang lama untuk dapat berkembang layaknya psikologi atau disiplin ilmu lainnya di Indonesia. Ditambah dengan fasilitas dan peralatan yang serba mahal, upaya pengembangan ini seolah maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Kendati demikian, andaikata berhasil, kelak neuropsikologi akan dilihat sebagai pendekatan alternatif dan komplementer untuk meningkatkan kualitas hidup manusia melalui optimalisasi fungsi otak.

Penulis adalah Mahasiswi Magister Psikologi Klinis di UGM




Referensi
Zillmer, E. A., Spiers M. N., & Culbertson. (2008). Principles of Neuropsychology 2nd ed.
USA : Thomson Wadswort.
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Konferensi Nasional Neuropsychology. (2014). Diakses tanggal 16 Februari, 2016, dari http://psikoneurologi.psikologi.ugm.ac.id/
Universitas Airlangga, Fakultas Kedokteran. (2016). Diakses tanggal 16 Februari, 2016, dari http://www.fk.unair.ac.id/tag/Masyarakat-Neurosains-Indonesia



Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar