MASYARAKAT KRAMADANGSA: Perspektif Suryomentaraman

Oleh: Pungki AS
foto: rosodaras.wordpress.com

Berbicara tentang sosialitas manusia, atau relasi sosial, merupakan sebuah diskursus yang menyegala zaman. Sebab manusia, seperti diungkapkan Alfred N. Whitehead dalam Process and Reality: An Essay in Cosmology, adalah makhluk yang memasyarakat—ia hidup dari dan untuk yang lain. Terkait keadaan zaman itu sendiri, dalam buku The Third Wave, Alvin Toffler membaginya secara periodik, yakni gelombang zaman agraris (sebelum masehi-1750), gelombang zaman industri (tahun 1750-1955), dan gelombang zaman informasi (tahun 1955-sekarang). 

Tak pelak lagi bahwa setiap zaman dicirikan oleh suatu zeitgeist tertentu yang termanifestasi pada kepribadian manusianya: manusia sosialis tipikal dalam masyarakat agraris, manusia pekerja tipikal dalam masyarakat industri, dan manusia pragmatis tipikal dalam masyarakat informasi. Dalam arti ini, kiranya menarik apabila kita membaca kondisi Indonesia kekinian yang, di satu sisi, tidak henti melangsungkan proyek pembangunan dan; di sisi lain, larut dalam pusaran informasi. Realitas ini menunjukkan bahwa negeri kita ternyata masih tinggal di dalam zaman industri dan secara simultan telah memasuki zaman informasi, sehingga kepribadian manusianya seakan mengalami turbulensi.

Berdasarkan latar belakang temporal dan fakta tipologis tersebut, kita dapat mengetahui bagaimana potret relasi yang terjalin dalam berbagai masyarakat. Kita akan membatasi diri pada masyarakat Indonesia kekinian dengan meninjaunya melalui perspektif Suryomentaraman, Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram, yang kerap mengemuka sebagai sesuatu nan ideal dalam kebudayaan Jawa.[1] Dalam artikel yang relatif pendek ini, tentunya penulis hanya sanggup mewedar pokok-pokok dari Kawruh Jiwa. Konsep itu sendiri tersimpul di dalam komunitas Pelajar Kawruh Jiwa yang notabene masih eksis sejak akhir abad ke-19 hingga sekarang.[2] Namun, sebelumnya, kita perlu menelisik terlebih dulu relasi sosial di Indonesia.

Gagasan tentang masyarakat Indonesia kekinian tidak dapat dilepaskan dari titik vitalnya pada globalisasi, suatu kondisi di mana sekat-sekat antarnegara kian menipis. Kemajuan teknologi—khususnya komunikasi dan transportasi, dan sarana informasi dari luar negeri bisa dengan mudah diakses ke dalam negeri. Alhasil, manusia di seluruh dunia dapat bersentuhan, bergaul, serta mempengaruhi satu sama lain. Proses globalisasi ini lantas menggiring masyarakat Indonesia untuk menjadi manusia dengan dua tipe kepribadian utama. Pertama, manusia pekerja yang produktif, efisien, efektif, kompetitif, dan memiliki motif berprestasi tinggi. Kedua, manusia pragmatis yang kreatif, responsif, imajinatif, dan berpengetahuan informatif. Namun sayangnya, di sisi lain, membawa implikasi langsung: pribadi yang serakah, egoistis, individualistis, materialistis, dan konsumtif.

Hal ini makin kentara kita temukan pada beberapa kasus akhir-akhir ini terkait konflik ekologis dan media sosial. Misalnya: Samin Versus Semen, di mana hak-hak warga Samin dan warga di sekitar Kendeng Utara, Rembang, dihisap pihak pabrik dan penguasa melalui rencana pendirian pabrik semen; dan pemagaran ilegal oleh TNI di Urut Sewu, Kebumen, yang merampas lahan pekerjaan para petani. Orientasi keduanya sama, yakni mengeruk sumber daya alam tanpa memikirkan efek samping, memperkosa kebebasan manusia, dan penaklukan penduduk yang dianggap ‘kurang maju’. Sementara di media sosial, pengguna internet merasa bebas berlaku manasuka dan tidak mesti bertanggung jawab atas perilaku tersebut, mulai dari akun palsu, berita hoax, artikel anonimitas, penipuan bisnis online, komentar nyinyir di facebook, hingga penghinaan berbentuk internet memes.

Melalui gambaran di muka, dapat kita amati bahwa relasi yang terjalin dalam masyarakat Indonesia kekinian diliputi oleh apa yang disebut Kawruh Jiwa sebagai Kramadangsa. Kramadangsa adalah bagian diri manusia yang ilusif. Ia lahir dari keinginan pribadi—sebagai daya penggerak dalam diri manusia, yang selalu mengejar kenyamanan sendiri tanpa peduli terhadap kenyamanan orang lain, sehingga mengarahkan manusia untuk bertindak secara arbitrer. Rasa kramadangsa pun bersifat mulur dan mungkret (mengembang dan menyusut): senang ketika kebutuhan terpenuhi dan susah ketika kebutuhan tidak terpenuhi. Ada tiga kebutuhan dasar yang tipikal dalam kramadangsa, yakni semat (jabatan), drajat (kehormatan), dan kramat (kekuasaan). Apabila kita telah dikuasai kramadangsa dalam konteks relasi sosial, maka ia akan memprovokasi kita untuk memanfaatkan orang lain sebagai sarana demi terwujudnya kepentingan diri sendiri.

Dengan demikian, potret ini semakin menjauh dari relasi ideal à la Suryomentaram yang bermula dari raos sami (rasa sama)—kesadaran bahwa setiap manusia memiliki “rasa yang sama”, senang ketika dienakkan dan susah ketika dirugikan, kemudian “rasa kerakyatan”—tanggung jawab atas kepemilikan dan hak kebebasan yang sama untuk mencukupi kebutuhan hidup hingga “rasa persatuan”—semangat hidup yang melandasi pemenuhan hidup bersama dengan jalan pengorbanan, cinta, dan kepercayaan. Pada akhirnya, jika perspektif yang dipakai oleh penulis ini benar, maka masyarakat Indonesia kekinian tak ubahnya seperti judul pada artikel ini: Masyarakat Kramadangsa.

Penulis adalah Salah Seorang Penghuni di Rumah Progresif



[1] Perlu diketahui bahwa sebagai putra mahkota, kehidupan Ki Ageng Suryomentaram hanya berkisar sekitar perintah, sembah, dan pelayanan; ia yang selalu diliputi kegelisahan untuk bertemu dengan manusia. Ringkas cerita, Sang Pangeran akhirnya memilih hidup di luar tembok istana.
[2] Untuk memahami pemikiran Ki Ageng Suryomentaram secara komprehensif, lihat Afthonul Afif, Matahari dari Mataram: Menyelami Spiritualitas Jawa Rasional Ki Ageng Suryomentaram (Depok, 2012), hlm. 66-133.

Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa