Love is Disorder

Cerpen Dwi Jananda
foto: sitoresmiumeus
                                                            
Selembar cerita dari buku diary penderita personality disorder yang tidak teridentifikasi.

Aku tidak suka tinggal di kota yang menyengat ini. Aku tidak suka makanan kenyal aneh bersaus merah dengan pilihan kuah kental atau tambahan telur. Aku benci lingkungan baru. Aku benci meninggalkan zona nyamanku hanya karena harus membeli pasta gigi di mini market seberang kosan, namun semua kejadian menakjubkan datang dari luar zona nyaman.
Kejadian itu dimulai dari habisnya pasta gigi setelah sebulan berada di kota mahasiswa ini. Aku membulatkan tekat keluar dari kamarku yang sudah lama tidak dibersihkan, intinya aku belum sempat membeli sapu, kain lap, kemoceng dan kawan- kawannya. Mini market dekat kosanku mungkin sudah mempersiapkan kedatanganku dengan salam hangat yang selalu mereka ucapkan kepada setiap pengunjung yang datang. “Mengapa mereka selalu terlihat aneh,” ucapku sendiri tidak sadar,  namun ada suara lain di belakang kepalaku “Mereka memang selalu terlihat aneh,” katanya. Suaranya lembut sehingga aku langsung menoleh ke belakang, seorang gadis berhijab merah muda dengan senyum yang menawan ada di belakangku, aku tak tahu akan ada orang yang memperhatikanku, tak wajar jika dia tidak mengenalku, wanita yang memiliki “warna” berbeda dengan wanita kebanyakan. Perkenalkan, namanya Tri, dia adalah kenalan baruku, kami dijerat oleh fakultas psikologi di salah satu universitas di Tembalang, kota dengan ratusan penjual Bubur kacang ijo “Burjo”, walau sejatinya aku belum pernah makan bubur kacang ijo di kota ini. Aku rindu bubur kacang ijo rumahan buatan mama, sajian yang kerap kali menjadi sarapan seluruh nusantara ini sukses membuatku home sick. Pembicaran kami berlanjut di sebuah warteg, anehnya kami memiliki ideologi yang sama, hal tersebut sudah ku sadari sejak pertama kali mengenalnya. Mukaku masih kusam pagi ini, namun aku tak peduli, seorang eksistensialis selalu seperi itu. Tri sibuk dengan ceritanya sementara aku sibuk mendengarkanya, ceritanya selalu menarik, tentang teman kosannya yang mandi sambil nyinden jam sebelas malam atau ibu kosnya yang menawarkan paket laundry seharga tiga gorengan per kilonya. Tak mungkin gelak tawa bisa terbendung dengan lawakan seperti itu, berpasang-pasang mata melirik kami dengan senyum tipis, entah apa yang mereka pikirkan, mungkin mereka iri, merasa aneh, atau mungkin saja mereka mengenal temannya Tri yang sedang kami ceritakan, atau satu dari kemungkinan lain adalah dia mungkin saja anak kandung ibu kos Tri.
Sore ini Tri mengajak ku jogging ke stadion, bukan hal yang biasa kulakukan berlari dengan orang lain, tetapi aku tak merasa terganggu kalu bersama Tri, aku tak mengerti dengan perasaan ku sendiri, semangatku begitu membara, ada sesuatu dalam diriku yang meledak, namun aku hancur ketika kutahu dia mengajak temannya yang lain. “Tak apalah,” kataku dalam hati, “aku dan Tri hanya teman,” itu yang selalu ku ucapkan, namun ada harapan besar di dalam hatiku, harapan yang entah bagaimana menjelaskannya, sesuatu diantara ingin melindungi dan menjaganya, entahlah, lupakan saja.
Jogging hari ini sangat melelahkan, enam putaran stadion bukan hal yang seharusnya bisa kulakukan, namun aku memaksakan diri di depan Tri. Faktanya, dua teman yang diajak Tri sangat membuatku tidak nyaman, Dimas dan Anisa. Mereka berasal dari SMA yang sama, otomatis mereka sangat dekat. Anisa sendiri berada di fakultas yang sama dengan kami sementara Dimas adalah anak teknik sipil. Aku tidak perlu membicarakan tentang Anisa. Dia terlihat seperti gadis pada umumnya, namun Dimas adalah anak laki-laki yang berbeda, tampangnya yang sering menatap Tri dengan senyuman aneh membuatku kesal. Ingin rasanya aku berlari lebih kencang agar emosi ini terpendam, aku benci sifat kompulsif seperti itu, akan sangat aneh jika aku tiba-tiba menonjok Dimas tepat di pipi kanannya dengan akhir kata, “maaf, aku kira kamu bantalan pasir yang tak tahu malu !” ketika itu juga aku sadar bahwa Anisa selalu memperhatikan Dimas dari belakang dengan tatapan jengkel, “Oh God, for real,” ucapku dalam hati. Remaja memang selalu seperi itu, kuberanikan diriku untuk bertanya kepada Anisa, namun hal tersebut tak kulakukan, aku takut dianggap aneh, sudah cukup paradigma yang kuterima sebelumnya. Akhirnya, acara berlari ria tadi dinikmati dan dimenangkan oleh Tri dan Dimas sementara Aku dan Anisa terjebak dalam kondisi canggung  antara ada dan tiada yang sangat horor, bahkan lebih horor daripada objek wisata seribu pintu di kota Semarang. Aku bener-benar benci jika harus mengatakan bahwa aku menyukai Tri, di sisi lain hatiku berkata bahwa Tri adalah teman yang baik dan tidak lebih dari itu. Aku sudah pernah mengalami situasi yang seperti ini setahun sebelumnya, akhir yang buruk membuatku tak berani mendekati Tri lebih jauh. Ada perasaan di mana aku berharap menjalin hubungan lebih jauh dengan Tri. Perasan ini benar-benar membuatku bingung.
Sepulang jogging tadi sore, Tri mengajakku pergi minum segelas bubble tea di dekat stadion, Dimas dan Anisa mendahului kami karena Anisa merasa tidak enak badan, “Mungkin saja jiwanya merasa tidak kuat melihat laki-laki yang disukai dan teman baiknya berlari bersama dengan semangat diselingi dengan percakapan yang kelihatanya sangat menarik untuk dibahas,” pikirku otomatis berbicara, “Pemikiran macam apa ini !” ucapku dalam hati menyadari bahwa aku berpikir terlalu jauh dan menarik kesimpulan yang tak wajar. Tawaran Tri tak mungkinku tolak, akhirnya kesempatan untuk berdua bersamanya muncul, tak sabar diriku mendengarkan cerita-cerita menarik darinya, perasaan gembira apa yang kurasakan ini, bukan seperti kiriman bulanan yang datang berlebihan, atau karena ada diskon 50% untuk paket makan siang di mini market seberang jalan besar menuju kampus, ini lebih kepada jantung yang berdetak, darah yang mengalir cepat, otot-otot yang meradiasikan energi berlebihan dan pemikiran yang melayang menuju pelangi seribu warna tanpa adanya transmisi gelombang lain yang membiaskan efek foton sehingga menghasikan benih-benih cinta tumbuh dengan subur tanpa adanya patogen oportunistik, “aishh!” aku berharap tidak akan ada orang yang membaca buku diary-ku ini atau aku akan mendapatkan lagi  julukan “Mr. Freak” yang sudah kusandang sebelumnya dan jika julukan itu terus bertahan selama 4 tahun ke depan maka aku akan benar-benar masuk Guinness World Records sebagai “pria paling aneh sejagat”
Aku memilih milk tea bubble sementara Tri memesan hot chocolate. Aku ingin selalu seperti ini, walau hanya dianggap teman, namun dia selalu membuatku merasa lebih. Aku memang laki-laki yang selalu menganggap bahwa hanyalah orang aneh yang mengerti perasaan orang aneh lainnya. Aku berharap Tri mengerti perasaanku tanpa aku harus jujur padanya “such a coward boy,” mengejek diriku sendiri, aku benar-benar tak kuat untuk sakit hati setelah kejadian tahun lalu, tidak untuk kali ini, culture shock yang kualami saja belum reda, belum lagi berkas-berkas yang harus disiapkan untuk registrasi mahasiswa baru minggu depan.
“Je, aku diterima di STIS,” kata Tri singkat mencoba membuka pembicaraan seraya meminum bubblenya, otakku mencerna kalimatnya dengan cepat.
“Wah, selamat ya, kapan berangkat ?” kataku dengan senyum yang menipu diriku sendiri bak pemain teater yang berpura-pura terlihat seperti orang lain di dalam dirinya sendiri namun  dia sendiri bukan dirinya sendiri, ironi, rasa lemas menyelimuti diriku, hanya senyum palsu inilah yang bisa kupertahankan, tidak mungkin juga dia batal pergi karena aku yang bukan siapa-siapa.
“Lusa,” jawabnya “Mamaku datang besok pagi,” sambungnya lagi sambil menatap mataku, aku langsung tertunduk spontan, kakiku mulai menggigil, mataku seakan basah, atau memang benar-benar basah, aku menarik napas dan meminum bubble-ku. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan berikutnya, otakku tak bisa bekerja lagi, tiba-tiba lagu yang diputar toko bubble berganti menjadi One Last Time by Ariana Grande, sepertinya dunia ini sedang mempermainkanku.
Tri sibuk mencari sesuatu dalam tasnya, kemudian ia menyodorkan sebuah kartu ucapan ke depanku, aku mengambil kartu berwarna biru itu, membuka, dan membacanya, “9-8.1.20.5-19.11.9.14.14.25-12.15.22.5,” aku tersenyum “Kode aneh apa ini Tri ?” tanyaku menatap matanya yang selalu terlihat bercahaya, berkilau seperti lentera kaca.
“Bukan apa-apa,tanganku hanya gatal ingin menulis angka-angka keberuntungan ” katanya sambil tersenyum kembali. Setelah itu keheningan datang menutup mulut kami hingga memutuskan untuk pulang.
Malam ini berakhir dengan tenang, dia tak banyak bercerita, sangat bertolak belakang dengan yang sebelum-sebelumnya. Aku juga tak tahu bagaimana cara membuka pembicaraan, akhirnya kami sampai ke kosan masing-masing. Aku membuka kartu pemberian Tri sebelum memasuki gerbang yang tetap tegak di tempatnya, aku mencoba memecahkan kodenya, itu pasti kode, tidak mungkin tangan Tri mengawur menulis angka secara acak. Hanya satu yang ada di benakku, menghubungkan angka dan abjad, aku sudah terbiasa dengan permainan seperti ini, tidak butuh lima menit untuk memecahkannya, namun masalahnya datang setelah kode itu terpecahkan. Tri memang gadis yang menakjubkan. At last, aku hanya tersenyum dan menertawakan diriku sendiri. Love is disorder.


                                                                                                                 Semarang, 3 Agustus 2015


Penulis adalah Mahasiswa Psikologi UNDIP '15
Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar