LGBT, Opini, hingga Bukti Penelitian

Oleh: Nur Afiah
http://kabarnesia.com/wp-content/uploads/2012/09/otak.jpg
gambar: http://kabarnesia.com
 

Maraknya pemberitaan tentang LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) di beberapa media sosial akhir-akhir ini membuat masyarakat Indonesia resah dan cemas. Saya kemudian berusaha untuk lebih memahami secara detail sebenarnya seperti apa sih LGBT itu. Mengapa sampai menjadi perdebatan yang begitu hebat. Pro dan kontra serta informasi yang diperoleh begitu gencarnya membahas LGBT yang menurut saya tidak secara transparan membahas hal ini. Sebelum melangkah lebih jauh, terdapat beberapa uraian sederhana terkait hal tersebut.
LGBT merupakan bentuk orientasi seksual. Mengapa dinamakan orientasi seksual? Tidak dengan istilah lain? Berikut penjelasannya. Orientasi seksual merupakan pilihan atau ketertarikan dengan tujuan ingin menjalin hubungan secara fisik, seksual, emosional, serta bersifat romantis terhadap orang lain. Orientasi seksual berbeda dengan istilah gender. Identitas gender merupakan peran sosial, seperti apa posisi individu di masyarakat yang berdasarkan identitas seksual. Gender expression merupakan ekspresi atau perilaku berdasarkan gender. Seperti, laki-laki yang tangguh, mandiri, kuat, dan sebagai pencari nafkah dalam keluarga. Sedangkan perempuan adalah penuh cinta dan kasih sayang, lemah, lembut, dan sebagai pengasuh dalam keluarga.
Identitas seksual atau jenis kelamin merupakan penanda baik secara fisik maupun psikologis, apakah seseorang merupakan laki-laki, perempuan, ataupun transeksual. Selain itu, terkadang kita keliru dalam memahami antara transeksual dengan transgender. Transgender merupakan ketidaksesuaian antara identitas fisik dengan psikis. Misalnya, secara fisik laki-laki akan tetapi secara psikologis merasa senang dan nyaman menjadi feminin layaknya perempuan. Begitupun sebaliknya, transeksual merupakan transgender yang telah ganti kelamin melalui proses operasi agar terjadi kesesuaian antara identitas fisik dengan psikis.
Berdasarkan penjelasan singkat di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa LGBT merupakan bentuk orientasi seksual yang terbentuk dari aspek biologis, psikologis, sosial, dan budaya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa manusia terdiri dari unsur biologis, kemudian tumbuh dan berkembang. Perilaku pun tentunya akan berubah-ubah karena adanya perubahan hormonal dan plastisitas otak dan juga pengaruh lingkungan.
Banyak perdebatan terkait faktor penyebab munculnya perilaku tersebut. Sempat saya membaca di media sosial “LGBT menular, makanya jangan pernah bergaul dengan mereka”. Pertanyaan saya selanjutnya, apakah LGBT terbentuk karena virus atau bakteri sehingga dikatakan menular?
Sejauh ini, perilaku tersebut merupakan bentuk gangguan perilaku pada orientasi seksual (disorientasi seksual). Meskipun dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM-V) dan The International Statistical Classification of Diseases and Related  Health Problems (ICD 10) yang menjadi acuan dalam mengklasifikasikan bentuk-bentuk gangguan perilaku telah mengeluarkan homoseksual sebagai gangguan perilaku. Akan tetapi, hal tersebut masih dianggap sebagai gangguan atau perilaku abnormal karena dikaitkan dengan norma statistik, yaitu seberapa sering atau jarang munculnya perilaku tersebut dalam populasi secara umum. Kemudian, apa yang menyebabkan menular? Mungkin seperti ini penjelasannya, bahwa perilaku LGBT akan berdampak terhadap perubahan perilaku seseorang ketika berada pada komunitas tersebut. Artinya, terjadi imitasi ataupun modelling pada perilaku yang telah dilihat. Tapi apakah dengan kita bergaul atau berada pada komunitas LGBT lantas dengan mudah orientasi seksual kita akan berubah? Apakah secepat itu atau sesederhana itu perilaku akan terbentuk?
Hal yang harus dipahami adalah terdapat aspek-aspek yang mengontrol dan membentuk perilaku termasuk orientasi seksual pada manusia. Beberapa bukti penelitian akan saya paparkan sebagai tambahan informasi terkait LGBT.
Otak pada gay dan manusia normal atau heteroseksual memiliki struktur yang berbeda. Savic dan Lindstrom (2008) mengamati dan mempelajari asimetris belahan otak dan fungsi konektivitas. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa otak laki-laki gay dan perempuan normal memiliki kemiripan volume dan struktur. Perbedaan pada struktur otak tentunya akan memberikan pengaruh terhadap perbedaan psikologis dan kognisi.
Selanjutnya, sebuah tinjauan ilmiah terkait homoseksual, yaitu pada tahun 1959 yang dilakukan oleh Charles (Eden, 2015) dengan studi hewan dan saraf menunjukkan bahwa INAH, yaitu bagian dari hipotalamus adalah dimorfik dengan orientasi seksual. Para peneliti fokus pada organ di otak, yaitu hipotalamus karena diketahui bertanggung jawab terhadap orientasi seksual. Hasilnya menunjukkan bahwa volume SDN (inti seksual dimorfik) pada laki-laki jauh lebih besar 3-8 kali dibandingkan perempuan. Hal lain menunjukkan bahwa laki-laki yang heteroseksual memiliki volume INAH-3 dua kali lebih besar dibandingkan dengan subjek perempuan.
Selain itu, terdapat kesamaan dalam sirkuit otak yang berhubungan dengan bahasa dan emosi. Hal tersebut memungkinkan bahwa pria homoseksual lebih unggul dibandingkan dengan laki-laki heteroseksual secara lisan yang juga serupa dengan keunggulan keterampilan lisan pada perempuan heteroseksual. Pola yang sama juga terjadi pada pemrosesan emosi. Selain itu, kedua kelompok tersebut juga memiliki tingkat depresi yang tinggi. Neurobiology Simon LeVay mengatakan bahwa area dari hipotalamus, pada laki-laki gay memiliki volume yang lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki heteroseksual. Penelitian terbaru Savic dan Lindstrom (2008) dari Karolinska Institute di Stockholm juga mendukung adanya hubungan antara daerah otak tertentu dengan perilaku seksual.
Terlepas dari aspek biologis, tentunya perilaku LGBT akan diperkuat dengan adanya konstruksi sosial. Foucault (2008) menjelaskan bahwa orientasi seksual akan berubah tergantung pengalaman, seperti pola pengasuhan dan pengaruh teman sebaya.
Sehingga, ketika berbicara tentang struktur otak dan perilaku kita tidak bisa mengesampingkan faktor lingkungan. Pembahasan tentang otak dan perkembangannya, terjadi perubahan struktur dan fungsi yang disebabkan karena proses pembelajaran, pengalaman, persepsi, emosi, perasaan, dan aktivitas fisik. Neuroplasticity (Kalat, 2010) menjelaskan bahwa otak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Fungsi otak akan fleksibel berdasarkan sistem tubuh dan lingkungan. Neuron di otak akan membelah kemudian menghasilkan neuron baru. Akan tetapi juga terdapat neuron yang sama sekali tidak berkembang di otak, yang disebut stem cell.
Pembentukan neuron baru yang berbeda di otak, terkait orientasi seksual tergantikan secara teratur. Kalat (2010) menambahkan bahwa neuron baru pada daerah hipotalamus yang berperan penting untuk seksual melewati sebuah periode aktif dalam pembentukan dan perubahan sinapsis dari adanya proses pembelajaran baru. Perbedaan volume dan fungsi otak antara homoseksual dan heteroseksual tidak serta merta terbentuk secara otomatis.
Itulah sebabnya mengapa LGBT merupakan perilaku yang sangat kompleks, karena melibatkan aspek biologis, psikologis, sosial, proses pembelajaran, dan budaya.

Penulis adalah Alumnus Magister Psikologi Klinis Universitas Gadjah Mada
(Email: nurafiahspsi@yahoo.co.id)


Daftar Pustaka

Eden. (2015). “Homosexual is not a choice”. www.viewzone.com. Diakses tanggal 20 Februari 2016.
Foucault, Michel. (2008). Ingin Tahu Sejarah Seksualitas. (Hidayat. Rahayu S, Trans). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Kalat, J.W. (2010). Biopsikologi edisi sembilan (diterjemahkan oleh Dhamar Pramudito). Jakarta: Salemba Humanika.
Savic & Lindstrom. (2008). Sexual differentiation of the human brain in relation to gender identity and sexual orientation. Prog Brain Press, 186, 41-62.

Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar