Gus Mus Dan Prof. Syafik Ajarkan Prinsip Rahmatan Lil Alamin Ke Generasi Muda



Hari Ini 6 Februari 2016, di kampus Universitas Islam Indonesia di Sleman, Yogyakarta. Berlangsung seminar nasional dengan menghadirkan dua tokoh terkemuka di dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Yaitu KH. MUsthofa Bisri dari Nahdlatul Ulama, dan Prof. Syafik dari Muhammadiyah. Seminar yang digagas dengan maksud menemukan kembali spirit sinergitas dua ormas Ini, yang memiliki relevansi dengan perkembangan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ingar Bingar acara tersebut terbukti dari banyaknya peserta yang datang, lebih seribu mahasiswa datang memadati aula Kahar Mudzakkar. Belum termasuk dosen dari berbagai kampus di Yogyakarta. Kader NU dan Muhammadiyah yang datang dari Jawa tengah maupun Jawa Timur. Seperti Magelang, Rembang dan Lamongan yang juga ikut bersuara. Menanyakan ikhwal persoalan prinsip Rahmatan Lil 'Alamin tersebut.

Gus Mus seperti biasa mengenakan batik dengan peci hitam, disambut heboh oleh mahasiswa dengan teriakan, rasanya memang kehadiran Gus Mus lah yang betul-betul ditunggu. Tentu yang paling dirindukan dari ulama kharismatik Ini adalah syair nya yang menggoda intuisi.  Selepas sambutan dari dekan Fakultas Studi Islam, dilanjutkan dengan sambutan Rektor. Ketika moderator menyebut nama Gus Mus, terjadi kehebohan yang luar biasa. Gus Mus tampil dengan senyuman yang menyejukkan. Dengan riuh tepu tangan.

Sekitar setengah jam waktu yang disediakan, Gus Mus dalam sajiannya; kali ini mengurai tentang pentingnya kita mendalami Ilmu agama terlebih dahulu, semangat mendalami ini yang dirasa berkurang dari ustadz dan ormas-ormas kita, terutama ormas Islam yang “kagetan” seperti sekarang Ini. Banyak orang-orang agama yang baru tahu hadist, berani mengkafirkan orang lain. Padahal belum sempat mengkaji Ulumul hadist dan tarikh yang jelas.  Semangat Ulama kita dulu seperti Hasyim Asyari dan Ahmad Dahlan tidak begitu. Ia adalah seorang pengkaji hadist yang luar biasa. Makanya semakin dalam ilmu seseorang, ia akan semakin jernih melihat segala persoalan, spirit Rahmatan Lil Alamin tentu mudah untuk diraih. Tidak seperti sekarang.

Gus Mus juga menyebut hal yang paling penting untuk digarisbawahi, bahwa NU dan Muhammadiyah yang membuat Indonesia Ini ada, maka ormas ini jangan sampai terlena karena sudah mapan. Mapan terkadang sering membuat orang tertidur. Kalau sudah tertidur kan bahaya, akan ada ormas radikal yang tidak tahu persoalan  dan tidak mengerti historis bangsa akan memecah belah Indonesia. Seperti terorisme dan kekerasan membawa nama tuhan.

Terkahir untuk menerapkan prinsip Rahmatan Lil alamin, Gus Mus juga mengajak untuk meniru keteladanan nabi, Nabi itu semangat “mengajak” bukan semangat mendepak. Semangat itu yang dulu ditiru oleh Wali Songo kita. Bahkan para wali itu belajar seni dan budaya dulu, agar diterima ajakannya oleh masyarakat. Yang kala itu masyarakat Indonesia belum sama sekali mengenal Islam. Gambaran Islam yang dibawa para wali jelas Islam yang ramah, toleran dan menyayangi semua. Itulah Rahmatan Lil Alamin. Seperti di Kudus umat Islam disana dilarang memakan daging sapi, untuk menghormati agama Hindu.
Prof, Syafik yang merupakan Ketua Muhammadiyah yang menggantikan ketua umum Haidar Nasir yang berhalangan datang. Menambahkan; Untuk prinsip Rahmatan Lil Alamin kita perlu terjun ke masyarakat akar rumput. Dengan strategi dan sikap peduli. Karena kekerasan sering muncul karena ketidakpahaman. Nahdatul Ulama sudah sangat berpengalaman berhadapan dengan masyarakat pedesaan. Sekalipun Muhammadiyah juga melakukan hal tersebut. Jangan ada anggapan bahwa Muhammadiyah dan NU berkompetensi. Justru semangat antara Muhammadiyah Dan NU bersifat kooperatif dengan kerjasama dan meleburkan pengaruh baik pada masyarakat desa dan kota.

Terakhir setelah selesai sesi Tanya jawab dari peserta. Seminar yang berlangsung selama tiga jam lebih diakhiri dengan pembacaan puisi oleh Gus Mus. Semua penonton termasuk rektor berdiri dan tepuk tangan yang luar biasa. Gus Mus mengajarkan kita bahwa kita harus menjadi muslim yang menjunjung tinggi rahmatan Lil Alamin. Itu warisan yang luar biasa dari Nabi Muhammad SAW.

*Elg 
Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar