Apa Kabar MahaSiswa? Berguru kepada Eko Prasetyo (Social Movement Institute)

Oleh: Maryama Nihayah
Kami bersama Mas Eko (kaos bergambar sampul majalah TIME)

Kemarin malam, kamis (25/02/15), kami kembali menjalani “laku-safari ilmiah” yang sempat rehat sejenak. Kali ini kami mengunjungi Eko Prasetyo, sosok yang terkenal dengan bukunya yang berjudul “Orang Miskin Dilarang Sekolah!”. Malam Jumat yang diidentikkan dengan malam yang horor tidak membuat kami takut untuk membelah jalanan kota Yogyakarta dari Sleman menuju Bantul. Semangat kami tak lain adalah untuk menunaikan salah satu sunah Nabi di malam Jumat: mencari ilmu! Dengan berbekal alamat yang kurang kami mengerti letak pastinya (karena masih sedikit buta dengan daerah Yogyakarta, ditambah tidak memanfaatkan GPS), kami tetap berangkat menuju daerah Sorogenen, Nitikan, Yogyakarta. Tepatnya dekat SMP Piri 2 Bantul. Berkat prinsip tidak malu bertanya supaya tidak sesat di jalan, akhirnya kami menemukan alamat yang dimaksud, yaitu sebuah rumah yang menjadi markas bagi Social Movement Institute (SMI).
SMI merupakan wadah pergerakan yang membela masyarakat tani, nelayan, buruh, atau religius yang termarjinalkan. SMI juga berupaya menyadarkan masyarakat, terutama para mahasiswa, untuk bersikap kritis dan tanggap terhadap isu-isu sosial di sekitarnya. Di SMI inilah Mas Eko membuktikan bahwa beliau tidak saja pandai menulis buku-buku yang berisi kritikan terhadap apa yang kurang mapan, namun sekaligus mengamini sebaris puisi Rendra yang berjudul Paman Doblang: “bahwa perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”. Maka, sungguh tak rugi dan tak salah jika kami berguru kepada beliau.
Sembari menunggu kedatangan beliau yang sedang pergi ke masjid, kami dipersilakan untuk melihat-lihat isi rumah pergerakan yang ramai dengan tempelan poster kegiatan-kegiatan SMI. Tak hanya itu, yang paling menyenangkan adalah kami juga diizinkan untuk menengok koleksi buku-buku apik di perpustakaan sederhana mereka (dengan anjuran hanya boleh dibaca di tempat). Alhasil, acara menunggu tidak terasa membosankan. Sekitar pukul 20.00 WIB, Mas Eko pun datang.
Sebagai bentuk kulo nuwun, salah seorang dari kami menyampaikan orasi dan promosi kecil tentang Psikologi Progresif (wadah diskusi yang kami rintis). Mas Eko terlihat menyimak dengan saksama. Menanggapi orasi tersebut, Mas Eko merasa senang dan sangat mengapresiasi bahwa ada mahasiswa-mahasiswa pascasarjana yang peduli dan sadar akan peran serta tanggung jawab keilmuannya. Latar belakang kami, yang terdiri dari dua kampus berbeda, UGM dan UNY, semakin membuat beliau senang (karena terjalin kerjasama yang apik antara kampus yang hanya dipisahkan oleh jalanan Karangmalang tersebut). Mungkin beliau juga bersyukur karena masih ada mahasiswa-mahasiswa yang sadar tentang persaingan keilmuan atas nama kampus bukanlah hal yang asyik untuk dipermasalahkan.
Tak hanya apresiatif, pria yang pernah belajar langsung kepada Dr. Mansour Fakih ini juga menyadarkan kami bahwa peran keilmuan psikologi, terutama psikologi sosial, sangat dinantikan untuk memasuki dan menjawab bencana sosial di masyarakat. Selama ini para penggiat sosial dan kebijakan masih terfokus kepada sistem atau isu penegakan HAM, demokrasi dan advokasi, tapi sering melupakan dampak psikologis atas bencana tersebut. Secara umum, para profesional dan ilmuwan psikologi masih nyaman dengan jualan-jualan psikoterapi-nya dan sibuk memprediksi diagnosis klinis, kepintaran serta bakat individu. Permasalahan seperti trauma, kemampuan coping, atau resiliensi para korban bencana sosial nampak jarang disentuh. Padahal, konflik dan aksi kekerasan yang kerap menjadi bumbu bencana itu terbukti berhasil melahirkan trauma dan kekerasan lain di pihak korban. Pada kasus-kasus seperti inilah psikologi musti turut mengatasinya. Ini mengingatkan penulis kepada kenyataan bahwa di Program Studi yang mengkaji tentang Kebencanaan (kampus pascasarjana YuJiEm), permasalahan bencana sosial pun nyaris tidak tersentuh. Oleh karena itu, sudah seharusnya para ilmuwan/intelektual/cendekiawan—tidak hanya—sosial humaniora, semakin memasuki ranah ini.
Keterlenaan para ilmuwan/intelektual/cendekiawan, tak hanya berhenti di situ. Secara umum yang menyedihkan adalah bagaimana komunitas/organisasi/pergerakan mahasiswa yang seharusnya melek dan kritis terhadap isu-isu sosial di sekitarnya justru semakin tertidur. Sebagai produk-produk kampus akademis nan kapitalis, para mahasiswa semacam kehilangan orientasi peran sosialnya. Mahasiswa hanya terkukung oleh budaya akademis eksklusif tanpa membuka mata terhadap dunia di luar keilmuannya. Sebut saja, misalnya, mahasiswa teknik yang lebih tertarik untuk memajukan penemuan-penemuan teknologinya namun tanpa didasari dan disadari kebermanfaatan dan hubungannya dengan permasalahan di masyarakat. Di sini penulis teringat kepada pernyataan Julian Benda, filsuf Prancis, tentang pengkhianatan kaum intelektual: bahwa kampus sudah kokoh menjadi menara gading yang mencetak mahasiswa dengan cita-cita praktis akademis dan malah mengalienasikan mahasiswa dari kehidupan sosial di sekitarnya. Dengan kata lain, kampus sudah menjadi pabrik tenaga kerja.
Keterlenaan lain yang diingatkan pula oleh Mas Eko adalah pendidikan yang semakin tinggi semakin membuat intoleransi. Para ilmuwan/intelektual/cendekiawan juga menjadi gampang terpengaruh oleh propaganda-propaganda yang disebarkan lewat media sosial. Disini, lagi-lagi budaya kritis semakin kehilangan eksistensinya. Oleh karena itu, sangat diperlukan komunitas/organisasi/pergerakan mahasiswa yang tak hanya pandai berwacana secara akademik, tetapi juga secara sosial. Minimal dengan menghidupkan budaya diskusi dan literasi, syukur-syukur kalau sampai ke aksi.
Atas keterlenaan-keterlenaan itulah Mas Eko dan SMI sangat memfasilitasi apabila ada mahasiswa yang ingin bergerak dan berjuang bersama. Pintu SMI selalu terbuka bagi para mahasiswa yang ingin mengasah nalar kritisnya lewat gerakan yang sudah dilakoni kawan-kawan SMI, yaitu diskusi rutinan mulai bedah buku, film, aksi kamisan, pendidikan alternatif, hingga pendampingan terhadap keluarga teroris dan masyarakat tani di Kebumen yang menjadi korban politik agraria. Tawaran sekaligus tantangan dari Mas Eko Prasetyo dan SMI tersebut semoga mampu menjadi penyulut api semangat kami dan orang-orang muda lainnya.
Sayang, malam semakin lingsir dan waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Acara berguru yang setara dengan waktu kuliah 4 sks itu harus diakhiri. Sungguh waktu yang singkat untuk mendulang ilmu dari orang-orang idealis, atau meminjam istilah Antonio Gramsci, intelektual-organik, seperti Mas Eko dan SMI-nya. (Gambaran lengkapnya silakan kunjungi http://suluhpergerakan.org/)
Jika banyak komunitas mahasiswa yang sedang sakit dan tertidur itu perlu diruwat agar mampu meneruskan perjuangan, maka kita, sebagai kaum muda yang sedang belajar berdiri kokoh, hanya perlu dirawat untuk meneruskan perjuangannya.
Akhir kata, “hanya dan oleh kaum muda perubahan bisa bergulir” (Pramoedya Ananta Toer). Lantas kaum muda seperti siapa? Ya seperti Kamu, iya Kamu!



Penulis adalah Mahasiswi Magister Psikologi Perkembangan di UGM

Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar