Apa itu CICP? Sekilas tentang School of Researcher di UGM

Oleh: Pungki AS
foto: cicp.psikologi.ugm.ac.id



Prolog
Dalam kalender akademik Fakultas Psikologi UGM, “26 Januari 2016” menandai enam tahun berdirinya sebuah lembaga riset yang bergerak di bidang psikologi lintas-budaya, psikologi budaya, dan psikologi indijenus[1]—CICP (Center for Indigenous and Cultural Psychology).[2] Berdirinya CICP tidak dapat dilepaskan dari peran Prof. Uicol Kim yang ketika itu (merujuk kepada seminar internasional “Half Day International Seminar on Indigenous & Cross Cultural Psychology” tanggal 5–6 Maret 2008 di Fakultas Psikologi UGM) mengusulkan agar tim psikologi mendirikan pusat penelitian di Fakultas Psikologi UGM.[3] Secara ideologis, lembaga ini bertumpu pada pandangan—sebagaimana Shweder—bahwa manusia berpikir, merasakan, berperilaku, dan mengelola realitas melalui kebudayaan, serta menggunakan nilai-nilai budaya terkait guna memahami dunianya. Maka dari itu, pemahaman atas tiap kelompok kebudayaan menjadi penting dalam sebuah penelitian psikologi agar tidak terjadi bias.

Sekadar catatan, semangat “local genius” di Indonesia telah dirintis sejak 1956 oleh Soemantri Hardjoprakoso ketika menulis disertasi “Candra Jiwa sebagai Dasar Suatu Psikoterapi” (Indonesisch Mensbeeld als basis enjer psycho-therapie) untuk promosi doktoral di Leiden.[4] Di UGM sendiri, semangat yang sama mulai terejawantah pada tahun-tahun berikutnya, terutama pada 1985. Adalah  Darmanto Jatman, salah seorang pembuka jalan bagi fakultas psikologi untuk mengakrabi nilai-nilai budaya. Apa yang ia upayakan seperti mrojol soko sela-selaning garu, berani dan berhasil menentang arus besar zaman yang ketika itu gerakan positivisme sedang gencar-gencarnya. Dengan tesisnya Ilmu Jiwa Kramadangsa, ia bertujuan membuat konstruk teori psikologi berdasarkan ajaran-ajaran Ki Ageng Suryomentaram[5] melalui metode eksplisitasi dan kajian banding dengan Psychology of Being Abraham Maslow. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh nilai-nilai budaya terhadap pengembangan teori psikologi. Teori Psychological of Being yang dikembangkan di negara maju, padat teknologi, dan bersaing menghasilkan identitas manusia yang kreatif. Sementara Ilmu Jiwa Kramadangsa yang dikembangkan di negara berkembang, rural, dan menekankan kerukunan menghasilkan identitas manusia yang adaptif.[6]

Kepengurusan CICP[7]
Sebagai Kepala CICP pertama, Prof. Kwartarini Wahyu Yuniarti, M.Med.Sc., Ph.D. telah berhasil menarik minat para mahasiswa, yang mayoritas adalah mahasiswa S1, untuk bergabung ke dalam CICP. Pada tahun 2011, CICP berpartisipasi dalam dua konferensi internasional: AASP (Asian Association of Social Psychology) ke-9 di Kunming, Cina, dan ICIP (Indigenous and Cultural Psychology) ke-2 di Universitas Udayana, Denpasar, Bali. Ia pun berhasil memberangkatkan kurang lebih 30 penelitinya ke Cina untuk mempresentasikan sekitar 50 penelitian, yang kemudian membuat UGM dipercaya sebagai tuan rumah untuk konferensi AASP selanjutnya, tahun 2013.
 
Tampuk kepemimpinan CICP beralih ke Prof. Faturochman, M.A. pada awal 2013. Ia membawa CICP ke arah pengembangan psikologi indijenus di Indonesia dengan melibatkan universitas lain seperti UNUD, UNDIP, UNS, UMS, UNTAR, dan UIN Syarif Kasim Riau. Awal tahun 2014 menandai terbentuknya 6 center lain, yaitu “Center for Indigenous and Health Psychology” di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, “Center for Islamic and Indigenous Psychology” di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, “Center for Applied Indigenous Psychology” di Universitas Sebelas Maret, “Pusat Pemberdayaan Keluarga” di Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro, “Unit Riset Indigenous Psychology” di UIN Sultan Syarif Kasim, Riau dan “Laboratorium Pengembangan Psikologi Indonesia” di Universitas Paramadina.

Menginjak pertengahan tahun 2014, Dr. Wenty Marina Minza, M.A. menggantikan posisi Prof. Faturochman. Orientasi CICP pun mengalami pergeseran dari yang sebelumnya berfokus pada eksplorasi konsep-konsep dasar bergeser ke riset-riset praktis. Adanya pergeseran ini memang disengaja agar hasil penelitian CICP bisa secara langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat—kendati tetap tidak meninggalkan upaya pengembangan psikologi indijenus.





Cuplikan dari hasil penelitian[8]
Kebetulan penulis bersama tim[9] tengah terlibat dalam proyek CICP terkait perkembangan dan dinamika penelitian—khususnya yang menjadi bidang kajian CICP—yang telah berlangsung selama ini. Karenanya, penulis akan menyuguhkan cuplikan dari hasil penelitiannya.

Studi yang dilakukan tim penulis merupakan studi literatur yang bersifat retrospektif—artinya, melihat perkembangan dan dinamika penelitian dalam rentang waktu tertentu. Mula-mula tim penulis mengumpulkan data, baik berupa digital file maupun laporan cetak, dari 167 penelitian yang termuat dalam kurun 1979-2015. Setelah terhimpun, penelitian lalu ditabulasikan sesuai tahunnya. Dan terakhir, penelitian dianalisis berdasarkan kategori (psikologi lintas-budaya, psikologi budaya, psikologi indijenus), metode, konteks kebudayaan, arah dan isu penelitian. Melalui serangkaian proses tersebut, tim penulis menemukan tiga poin utama.

Poin pertama, psikologi lintas-budaya di UGM memiliki dua karakteristik, yakni inside-comparison dan outside-comparison. Karakteristik pertama menunjuk pada perbandingan antarkelompok kebudayaan di Indonesia, misalnya: penelitian Martaniah, Walgito, Azwar, Nuryoto, dan Irfan pada tahun 1979 tentang motif sosial pada mahasiswa suku Sunda, Jawa, Madura, dan Bali. Dengan kata lain, karakteristik ini menonjolkan variasi kebudayaan di Indonesia. Sementara karakteristik kedua menunjuk pada perbandingan kelompok kebudayaan antarnegara. Karakteristik ini cenderung menganggap kebudayaan di Indonesia sebagai entitas tunggal atau homogen, yang kemudian dibandingkan dengan kebudayaan dari negara lain. Misalnya, penelitian Adrianson dan Ramdhani, tahun 2014, yang membandingkan konsep envy pada orang Indonesia dengan orang Swedia.

Poin kedua, psikologi budaya di UGM dicirikan oleh adanya semacam kerinduan primordial, yakni kerinduan para peneliti, baik dari pihak dosen maupun mahasiswa, akan kebudayaan asal atau tempat dibesarkannya. Misalnya, penelitian terbaru yang dilakukan Subandi—yang notabene lama mengemban ilmu di Yogyakarta—dengan judul Bangkit: The Processes of Recovery from First Episode Psychosis in Java. Penelitian tahun 2015 ini bertujuan mengeksplorasi proses pemulihan pada penderita psikotik dalam konteks kebudayaan Jawa. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat tiga fase proses pemulihan, yaitu bangkit (mendapatkan wawasan), usaha (berjuang agar dapat pulih), dan rukun (integrasi harmonis dengan keluarga dan masyarakat).

Poin ketiga, psikologi indijenus di UGM memiliki dua orientasi, yakni pengembangan konstruk teori dan pengembangan alat ukur yang besifat indijenus. Orientasi yang pertama telah diprakasai oleh Darmanto Jatman. Kemudian, pada tahun 2011 kembali dilakukan oleh Casmini. Dalam disertasinya, Casmini berupaya  mencari konsep kecerdasan emosi dan kepribadian sehat pada masyarakat Jawa. Sementara orientasi kedua dapat dilihat pada penyusunan Skala Kepribadian UGM yang dimulai sejak 1987 oleh anggota Badan Psikologi Klinis. Skala yang melewati tiga tahapan ini diciptakan untuk mengisi kebutuhan akan skala kepribadian yang baku, yang sesuai dengan orang Indonesia. Tahapannya adalah sebagai berikut.

Subyek yang mengalami gangguan psikologis diambil dari masyarakat Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan (Palembang) (tahap 1), serta Sumatera Selatan dan sebagian masyarakat Yogyakarta (tahap 2). Sedangkan subjek yang sehat mental (tahap 3) diambil dari masyarakat Yogyakarta, Sumatera Selatan (Palembang), Jawa Barat (Bandung), Bali (Denpasar), dan Kalimantan Selatan (Banjarmasin).

Selain itu, penelitian Prawitasari dan Widhiarso berjudul “Struktur Semantik Kata Emosi dalam Bahasa Indonesia” juga memiliki orientasi serupa. Asumsi dasarnya, sebagaimana dinyatakan Izutsu, bahasa yang diwujudkan dalam kata-kata adalah representasi realitas. Dan tiap kelompok kebudayaan memiliki cara yang berbeda dalam menyimbolkan realitas ke dalam kata-kata. Dengan demikian, tujuan penelitian tahun 2010 ini adalah mencari pemahaman dimensi emosi dalam struktur semantik kata Bahasa Indonesia agar dapat digunakan secara valid pada penelitian lain maupun pengembangan alat ukur.

Singkatnya, bagaimana perkembangan dan dinamika penelitian yang termuat dalam kurun 1979-2015 dapat ditilik pada grafik di bawah ini.

gambar: tim penulis

Epilog
Agaknya tidak berlebihan jika menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh lembaga CICP selama enam tahun ini selaras dengan ketetapan Komite Riset Senat Akademik UGM pada awal April 2016. Setidaknya, CICP telah memenuhi dua dari empat hal yang menjadi prioritas Komite Riset, yakni penanganan terhadap masyarakat rentan serta penguatan dan pendayagunaan nilai-nilai budaya lokal.[10]


NB: untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi Gedung D lt. 6 Fakultas Psikologi UGM Jl. Humaniora 1 Bulaksumur Sleman, Yogyakarta | Telp: 0274-550435 (ext. 142) | Fax: 0274-550436 | Email: cicp@ugm.ac.id | website: http://cicp.psikologi.ugm.ac.id   


Penulis adalah Peneliti (additional researcher) di Lembaga CICP





Kepustakaan
Jatman, D. 1997. Psikologi Jawa. Yogyakarta: Bentang Budaya.
Kresna, A.A. 2013. Perspektif Filosofis Psikologi Pribumi: Sebuah Paradigma Baru Bagi Psikologi Jawa. Jurnal Humanika. XVII, 63-71.
Liputan Berita UGM. 2016. “Info Penelitian Terbaru”. https://www.ugm.ac.id/id/p2m/3529-info.penelitian. Diakses tanggal 05 Februari 2016.
Wicaksono, B. 2015. Kaleidoskop CICP: Perjalanan Pengembangan Psikologi Indigenous di Fakultas Psikologi UGM, Refleksi 5 Tahun CICP. Makalah belum dipublikasikan.







[1] Sebelumnya, penerjemahan istilah indigenous ke dalam bahasa Indonesia telah dilakukan oleh beberapa ilmuwan psikologi di Indonesia: Darmanto Jatman melontarkan istilah “Psikologi Pribumi”, Sarlito Wirawan Sarwono pada tahun 1996 mengajukan istilah “Psikologi Ulayat”, Johana E. Prawitasari pada tahun 2005 mengusulkan istilah “Psikologi Nusantara”. Namun secara umum, civitas akademika Psikologi UGM saat ini memilih untuk menggunakan istilah “indijenus” sebagai terjemahan kata indigenous. Kendati demikian, penggunaan istilah ini masih perlu dikaji ulang untuk menghindari adanya kerancuan makna, lebih-lebih munculnya konflik dari istilah tersebut.
[2] Lihat Kaleidoskop CICP (Wicaksono 2015: 11).
[3] Ibid., hlm. 10.
[4] Candra Jiwa diturunkan dari kitab Sasangka Jati, sebuah kitab pedoman yang berisi tentang ajaran kebatinan bagi pengikut Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu). Hardjoprakoso memetakan hasil penelitian bahwa manusia hidup dalam tiga domain: alam sejati, badan halus, dan badan jasmani. Alam sejatilah yang menghadirkan suksma kawekas, suksma sejati, dan roh suci. Suksma kawekas adalah “ada” yang tidak berubah, suksma sejati adalah “ada” yang berubah, sedangkan roh suci adalah “ada” manusia dalam badan halus. Ketiganya disebut “Tri Purusa”, dan “Aku” adalah cerminan dari Tri Purusa. Manusia melalui Rahsa Jatinya berkomunikasi dengan Roh Suci, Suksma Sejati, dan Suksma Kawekas, apabila senantiasa sadar, percaya, dan taat pada Tuhan (Kresna 2013: 69).
[5] Ki Ageng Suryomentaram adalah anak ke-55 dari 79 anak Sultan Hamengku Buwono VII.
[6] Metode eksplisitasi merupakan seperangkat metode identifikasi, seleksi dan kategorisasi atas unsur-unsur guna membangun suatu tubuh pengetahuan yang semula merupakan campuran antara kebatinan, kerohanian serta kejiwaan. Upaya konstruksi ini telah memenuhi persyaratan ilmiah, yakni koherensi, korespondensi, dan fungsional (Jatman 1997: 85-90).
[7] Lihat Kaleidoskop CICP (Wicaksono 2015: 12-17).
[8] Penelitian belum dipublikasikan.
[9] Dr. Wenty Marina Minza, M.A., Kurnia Rahmad Dhani (mahasiswa magister psikologi UGM angkatan ’13), dan dua mahasiswa S1 psikologi UGM.
[10] Berdasarkan informasi penelitian pada tanggal 01 April 2015, Komite Riset Senat Akademik UGM memprioritaskan empat hal: penanganan terhadap masyarakat rentan, penyelamatan lingkungan kritis, penguatan dan pendayagunaan nilai-nilai budaya lokal, serta penguatan kedaulatan bangsa. Lihat https://www.ugm.ac.id/id/p2m/3529-info.penelitian


 
Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar