Waspada Propaganda ISIS


Oleh: Agung Iranda
foto: theguardian.com

Terkuaknya propaganda ISIS tak terlepas dari sebuah pernyataan yang mengemuka secara massif oleh Abu Jandal Al-Indonesi, yang mengeluarkan ancaman pembunuhan tehadap panglima TNI jenderal Moeldoko, kepolisian, Densus 88 serta Banser NU dua tahun silam. Adegan yang menyebarluas di media sosial ini adalah celah bagi ISIS untuk dilirik, dengan begitu propaganda siap dilancarkan secara bertubi-tubi dan konsisten. Tujuannya tak lain adalah agar masyarakat Indonesia direkruit menjadi anggota ISIS. Kasus ini semakin terlihat jelas keberadaannya ketika ledakan bom di Sarinah  Kamis (14/01). Kita dikejutkan dengan aksi terror bom ISIS yang mulai mendekat dan menebar ketakutan  di ruang publik.

Micheal Sproule, seorang pakar Komunikasi berpandangan bahwa propaganda merupakan strategi mempengaruhi orang lain. Pengaruh tersebut bersifat rahasia dan terselubung. Objek yang ingin dituju seakan tak sadar diri kalau mereka sedang di tipu dan dijadikan korban, itulah mengapa kita perlu waspada. Parameter kesuksesan propaganda dilihat dari kemampuan mereka mengorganisir media dan komunikasi publik. Propaganda dimunculkan dengan bahasa yang mudah dipahami, dan secara signifikan mempengaruhi cara berfikir masyarakat.

Paparan lebih rinci dan konkret dikemukakan oleh Jowet & O’Donnell, dua pakar Psikologi Komunikasi ini menyebut propaganda sebagai kegiatan yang disengaja dan sangat sistematis. Karena itu pelakunya mengusahakan persepsi dan nalar dari korban yang dituju,  untuk dimanipulasi dan diobrak-abrik.  Lazimnya ajakan tersebut dilakukan melalui audio, video, tulisan hingga interaksi langsung “face to face” yang penuh kehangatan dan menunjukkan kedekatan yang intim dengan kemampuan menggoda yang tinggi. Ini juga yang tampaknya dilakukan oleh Gerakan ISIS di media kita akhir-akhir ini.

Propaganda yang tersebar di media sangat beragam, diantaranya; video kumpulan anak kecil berumur sepuluh tahun yang dilatih untuk jihad. Foto puluhan militer ISIS yang pamer senjata AK-47, serta mengibarkan bendera class of 2015 dengan tulisan Lailahaillallah. Yang diyakini sebagai artefak perjuangan mereka. Foto lain yang tak kalah menarik adalah gerembolan pemuda yang menumpangi sebuah bus, dengan seragam hitam, bertopeng khas ISIS. Dan tentunya memegang senjata. Serta ekspresi gembira sekumpulan remaja, yang telah tuntas menyelesaikan pendidikan dan kaderisasi ISIS, dengan senyum  sumringah memasang sebuah tulisan di dada, “kami adalah pejuang suci”.

Gambar dan video diatas, seakan menukik keasadaran dan ketentraman hidup kita. Dalam interpetasi saya, ini adalah upaya yang sangat mahir demi pembentukan opini dan persetujuan kita tentang radikalisme, yang mereka gadang-gadangkan akan beranak pinak. ISIS setia sekali menunggu kesediaan kita menjadi pejihad tangguh. Bila tidak mendapat korban, mereka akan mengalami frustasi identitas. Karena itu dalam paham mereka, radikalisme menjadi satu-satunya jalan untuk mendapatkan legalitas dan pengakuan lebih luas. Bagi siapa yang sudah terjerat dalam perangkap tersebut, akan dikirim rapatkan barisan di Raqqaq, salah satu kota di Syuriah, yang menjadi titik sentrum pengkaderan ISIS di belahan dunia.

Propaganda yang dilayangkan secara terbuka maupun diam-diam, menuai hasil yang menggembirakan bagi pihak ISIS. Diantaranya terdapat tiga warga Malang dan bertambah menjadi 18 orang yang kini berada di Syuriah. Serta warga Simpang pematang Mesuji Lampung 20 orang menghilang pasca mengikuti umroh di Mekkah. Kini akankah kita membiarkan propaganda tersebut berlarut, menjadi ancaman serius bagi keutuhan NKRI.

Untuk mengantisipasi Propaganda ISIS bagi masyarakat Indonesia maupun dunia, langkah preventif yang harus intens kita lakukan. Pertama, pemerintah harus melakukan penyelidikan lebih dini dan membentuk tim intelejen khusus melacak propaganda ISIS di media,  mencabut seluruh akses video, situs dan berbagai media komunikasi yang mendukung sekaligus sepaham dengan daulah islamiyah yang radikal. Baik yang diunggah pada waktu yang telah sudah, sekarang dan yang akan datang.

Kedua, Penekanan pada setiap individu sebagai warga negara. Perilaku dan aksi individu selalu muncul karena respon terhadap perilaku pihak lain yang menebarkan stimulus. Karena itu siapa saja yang diduga melakukan propaganda dan menyetujui gerakan ISIS, penegak hukum harus segera menangkapnya. Memutus hubungan mata rantai kaderisasi sangat perlu. Disamping upaya pendidikan anti kekerasan di sekolah, perguruan tinggi, maupun sosialisasi di perkumpulan warga. Untuk menanamkan sikap, nilai, dan karakter yang pro perdamaian sekaligus anti kekerasan. David Johnson seorang pakar Psikologi perdamaian menyebutkan bahwa langkah yang penulis tawarkan diatas, harus di lakukan secara kooperatif dan terus menerus.


Penulis adalah Salah Seorang Perintis Forum Psikologi Progresif
Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa

0 komentar:

Posting Komentar