SETAHUN PSIKOLOGI PROGRESIF: Sebuah Ruang tentang Kita (Manusia)

Dalam pertemuannya pada 20 November 2014, sehimpun mahasiswa magister psikologi UGM ‘14-ganjil yang berkumpul di kontrakan (atau yang di kemudian hari dikenal dengan nama Rumah Progresif) menelurkan ide tentang “Psikologi Progresif”.[1] Kata progresif itu sendiri terinspirasi dari hukum progresif Satjipto Rahardjo, suatu paradigma yang memandang bahwa hukum adalah untuk manusia; berbeda dengan ilmu hukum praktis yang menggunakan paradigma peraturan (rule), bahwa manusia lebih untuk hukum dan logika hukum. Dengan kata lain, di atas hukum masih ada moral. Sebagai contoh, ketika di tengah jalan kita bertemu dengan seorang tua yang hampir mati kelaparan dan kita pun membiarkannya, sikap itu tidak bisa dianggap bersalah secara hukum, tetapi secara moral kita terhitung telah melakukan kesalahan fatal. Maka dari itu, aspek moralitas musti diletakkan pada tataran tertinggi dalam diri manusia.
          Tulisan ini sengaja di-posting satu minggu setelah setahun yang lalu Psikologi Progresif tetas—yang pada diskusi perdananya, 27 November 2014, menggelar diskursus tentang Merajut Makna Cinta—sebagai pengingat bahwa cinta lah yang menjadi titik keberangkatan.
          Kami menyadari, ide itu tidak datang dari egosentrisme atau narsisisme tertentu. Tidak sama sekali. Sedari awal (jauh sebelum mempelajari teorinya), agaknya kami telah ngeh bahwa identitas sosial, seperti dikatakan Henry Tajfel, yang mengantongi sejumlah atribut dan kategori sosial, misalnya: aku orang Jawa, aku orang Makassar, aku orang Cina, aku lulusan UGM, aku lulusan non-UGM, IPK-ku sekian koma sekian, aku di bidang psikologi klinis, aku di bidang psikologi pendidikan, aku angkatan baru, aku angkatan lama, dosen pembimbingku Prof. Anu dan seluruh ke-aku-an lainnya, tendensius melahirkan apa yang disebut ingroup favoritism dan outgroup derogation. Kedua konsep ini merupakan sumber bias dalam relasi sosial, khususnya relasi antarkelompok. Pada gilirannya, ingroup favoritism akan membuat individu mengunggul-unggulkan kelompoknya sendiri, sedangkan outgroup derogation akan membuat individu merendahkan kelompok lain.
           Di tangan angkatan ‘14-ganjil, Psikologi Progresif justru menjelma kembang setaman yang wanginya merebak ke sejumlah angkatan. Inilah lambang kemanunggalan, sebuah misi kehidupan (dharma). Hal ini bisa terlihat pada berbagai penyusunnya seperti bunga kanthil, melati, kenanga, mawar merah dan mawar putih. Setiap kuntum menampilkan unik dan indahnya sendiri yang tak terhapus oleh keterpaduan bersama, keterpaduan warna yang justru makin memperkaya. Sebab, warna-warni di dalamnya berujud rindu yang ditebar oleh seluruh bunga. Dari diskusi demi diskusi, wajah-wajah baru pun bermekaran. Friska, Anita, Yeni, Mira, Eka, Pia adalah sederet nama yang meretas jalan bagi angkatan ‘14-genap untuk memasuki Rumah Progresif. Di angkatan ‘13, tercantum pula nama Bang Dhani yang masih bertahan hingga sekarang.
          Kereta waktu akhirnya mengantarkan pada perjumpaan dengan Owi, Vony, Nurul, dan Ipul—segelintir mahasiswa angkatan ‘15. Betapa kehadiran mereka, kuat dirasakan, memberi energi baru bagi Psikologi Progresif yang sempat sekarat untuk beberapa lama karena para pengurusnya dihibukkan oleh beraneka ragam kegiatan. Kelak, andai Psikologi Progresif berlanjut kepada angkatan ‘15 atau angkatan ‘14-genap, tak mengapa bila mereka ingin mengubah nama atau orientasi sesuai dengan kebutuhan—karena bagaimanapun setiap angkatan memiliki Zeitgeist dan nilai-nilai dasarnya sendiri, yang tentu berlainan. Tokh, yang paling utama, spirit progresivitas tetap selalu menyala.
Sedikit gambaran yang terdokumentasikan (à la kadarnya): angkatan ‘14-ganjil pernah membuat serangkaian agenda mulai dari MAKRAB di Pantai Sadranan, Gunung Kidul[2], berkunjung ke rumah salah seorang budayawan Jogja—Nashruddin Anshory[3], menulis tentang Jurnal Zadok[4], Mozaik Nusantara[5], dan #JRKM 7[6] hingga agenda individual—yang terdiri dari orang-orang aneh bin ajaib, yakni Arman dan Bima—untuk membidani sebuah album perdana, yang hampir saja menduakan tesis, yakni “Kemarin-Jalan Ke Rumah”[7].       
  
Barangkali hanya menyediakan ruang yang sementara ini bisa kami lakukan, sembari menggetarkan hati bagi siapapun yang belum punya atensi terhadap tradisi nongkrong maupun diskusi. Karena dari sini, aku dan kamu hadir bersama dalam dunia yang sama. Aku membentuk kamu dan kamu membentuk aku. Sungguh tak ada yang lain, kecuali mengada bersamamu. Inilah ruang tentang kita, manusia.


(Re-posting dari tanggal 27 November 2015 oleh Pungki AS)

---------------------------------------------------
[1] Coba deh lihat mading yang ada di Rumah Progresif.
[2] Cuplikan kisahnya dapat disimak di sini: https://www.facebook.com/notes/pungki-ariawan-s/in-loving-memory/10152363722192161 
[3] Reportasenya bisa ditengok di sini: https://www.facebook.com/notes/pungki-ariawan-s/beautiful-saturday-secuplik-avontur-psikologi-progresif/10152422044467161 
[4] Antologi tulisan tentang Zadok Elia, salah seorang perintis Psikologi Progresif, yang memperoleh beasiswa untuk kuliah di Selandia Baru.
[5] Proyek tulisan tentang Mozaik Nusantara, antara lain Siri’ na Pesse, Nilai Hidup Masyarakat Bugis-Makassar (Muhammad Rhesa), Lombok: Dari Wajah yang Lain (Lalu Arman Roziqa), Kerinci, Bumi Sakti dan Entitas Kebudayaan (Agung Iranda), Dinamika Rentang Hidup Manusia dalam Adat Melayu (Siti Rahmayani Emka), Kehidupan Pantura: Akulturasi Agama Islam dan Budaya Jawa pada Masyarakat Gresik (Ida Fitri Shobihah), Sebuah Risalah Kejawen (Pungki Ariawan S.), dan Corak Budaya dan Nasionalisme Manusia Indonesia (Muhammad Zulfa Alfaruqy).
[6] Kumpulan tulisan untuk Bu Dian Marissa dari mahasiswa-i yang mengikuti mata kuliah Psikologi Pembelajaran.
[7] Albumnya bisa dinikmati secara gratis di sini: https://soundcloud.com/kemarin 
Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa