Mengintip Ruang Kerja Bos Pustaka Pelajar


Tak seperti biasa direktur satu ruang dengan pegawainya, dipenuhi dengan tumpukan-tumpukan buku, lembaran kertas dan berbagai peralatan percetakan lainnya. Seperti komputer, mesin foto copy di ruang berukuran 7x8 tersebut. Mas’ud tak pernah menampakkan dirinya sebagai juragan penerbit sekaligus toko buku terbesar di Jogja, atau malahan di Indonesia.
       Meski dilahirkan dalam keluarga sederhana di Lamongan, lahir di pedesaan. Hidupnya tidak semulus yang kita bayangkan, pernah melewati fase kehidupan yang serba kekurangan. Mas'ud tidak menyalahi nasib. Barangkali beliau paham apa itu takdir. Takdir adalah batasan Ikhtiar Individu. Berangkat dari pemahman tersebut, tak ada yang namanya jeritan dalam hidupnya. Sukses tidak mesti dilahirkan dari keluarga sukses pula. Satu yang pasti beliau telah menanamkan modal besar dalam hidupnya, yaitu "Kerja keras" dan "kerja cerdas". Yang selalu diucapkannya.
      Dalam perjalanan karirinya tentunya ada lika-liku kehidupan yang beliau rasakan betul "maknanya". Sehingga meresap dalam laku kesehariannya. Pertama kalinya, beliau mengikuti kakaknya penjual buku bekas di pelataran shopping, salah satu pusat pebelanjaan buku di Kota Yogyakarta. Tentunya lama-kelamaan membuatnya berfikir ulang untuk kemudian survive ke arah yang lebih baik, terutama kian hari Mas’ud menyadari bahwa tuntunan hidup kian menebal. Kisah perjuangannya tentu tidak sejalan semulus seperti yang ada dibenak kita saat ini. Diantaranya tidak hanya jual buku di kios, namun juga aktif disukusi dengan orang-orang yang menjadi sukses dan hebat sebagai role modelnya dalam bertindak.
      Mas’ud akhirnya benar-benar melewati fase terjang hidup sebagai penjual buku kecil-kecilan. Tentu dalam merintis usaha itu, ada beberapa hal yang kita catat sebagai cikal bakal dari kesuksesan beliau yang kemudian mengantarkan beliau menjadi juragan buku paling laris di Yogyakarta dengan menjadi pemilik Pustaka Pelajar dan Social agenci book. Prinsip cuma satu, menjual buku murah, agar mampu dijangkau semua kalangan, terutama kalangan bawah. Titik point dari kesuksesan beliau adalah ketika terjadi revolusi buku tahun 80an, Mas’ud tentunya tidak mau ketinggalan memanfaatkan moment langka tersebut. Itu membuka mata saya tentang struktur sosial dan aturan main, kira-kira 80an itu ada kira-kira macam revolusi buku, munculmya mesin cetak murah, asalnya itu dari Jepang.itu yang membuat munculnya penerbit-penerbit baru. Dan saya memanfaatkan kesempatan besar tersebut. Salah satu kunci kesuksesan adalah membaca peluang, dan bertarung dalam kesempatan.
     Dalam menjalankan putaran roda bisnisnya, banyak sekali hambatan dan rintangan baik yang berasal dalam diri internal, maupun yang berasal dari eksternal. Terutama ucapan-ucapan verbal dengan maksud menurunkan motivasi Pak Mas’ud. Dalam banyak kesempatan Mas’ud sering sekali disudutkan, dianggap berhayal, bermimpi, atau barangkali seperti “pundak merindukan rembulan”. Rintangan dan "omongan" orang lain yang justru berusaha untuk menurunkan motivasi Pak Mas’ud. Banyak sekali yang menertawakannya ketika mengungkapkan ingin memiliki penerbit buku. Tentu dengan nada yang seolah meremehkannya. Sekali lagi, Mas'ud tetap berfikir positif, "Cibiran" orang lain adalah titik balik untuk maju.
      Dalam berbagai keterpurukan yang dialaminya, dia selalu mencari berbagai insiatif yang brilian untuk kemudian mencari solusi dari berbagai problem yang muncul. Suatu ketika pernah beliau tidak sanggup membeli naskah, dan waktu itu tidak ada satu ilmuwan, intelektual maupun penulis yang mau mengirim naskah padanya, yang notabene baru merintis Pustaka pelajar. Beliau tidak kehilangan inisiataif, akhirnya Mas’ud kemudian menulis sendiri naskah publikasi, dengan mengambil tema kumpulan doa-doa, terutama doa-doa yang makbul. yang menurut insting pasarnya akan laku. Faktanya memang laku keras. Inilah perjalanan dimana selangkah lagi akan menemukan sukses. dan memang begitu adanya.
      Niatan mulia Mas’ud untuk terus mendedikasikan dirinya pada dunia buku, sebagai usaha keterlibatannya dalam mencerdaskan bangsa, dengan mempertajam dan memperbesar dunia literasi, Banyak catatan menarik yang kami temukan, terutama menurunnya daya baca para pelajar baik di sekolah maupun perguruan tinggi. Justru baginya itu merupakan jalan menuju pengikisan pola pikir akademis. Untuk itu pengembangan penerbit menjadi penting untuk bangun rasa. Pikir, dan karsa, yang tempo dulu sudah digagas oleh Ki Hajar Dewantara.itulah menjadi ruh yang yang secara de jure dimuatkan sebagai visi dan misi Pustaka Pelajar.
      Maka ada beberapa hal yang harus kita teladani dalam laku dan pikir kita sehari dari Pak Mas'ud.
Diantaranya; Pertama, Mas’ud sebagai CEO dan pendiri adalah pribadi yang rendah hati, terlihat dari cara menyapa kami semua, hingga bertemu dengan beliau secara langsung tanpa rekomendasi sebelumnya. Yang membuat kami menaruh minat terhadapnya adalah letak ruangan yang sama dengan para karyawan, terlebih di posisi belakang pintu. Ini tentunya tidak lazim untuk pribadi dengan level direktur di penerbit ternama di Indonesia. Gaya bahasanya yang santai, polos, hingga sangat terbuka pada kami, menyediakan waktunya sepenuhnya, meski di posisi orang yang sangat sibuk.
      Kedua, beliau adalah pribadi yang kerja keras. Dalam beberapa kesempatan wawancara kami bersama beliau, terlihat sekali gerak-gerik beliau, tidak hanya sebagai orang pemimpin, dia ikut bekerja, menghitung pemasokan buku, menulis daftar buku yang dibeli, hingga terlibat dalam proses penjilidan buku, dia ikut berpartisipasi dalam kondisi dan waktu apapun bersama anak buahnya. Tentu ini tidak lepas dari sejarah dan rekam jejak sebelumnya, berasal dari keluarga sederhana dari Lamongan, bahkan ketika sekolah pernah tidak dikirimkan belanja bulanan oleh orang tuanya, akhirnya bersusah payah menjual buku bersama kakaknya, bukannya tanpa rintangan, pernah bergonta-ganti kios agar buku yang dia jual laris manis. Tidak hanya itu metamorfosa Mas’ud muda dari menjual buku bekas, kemudian beranjak menjual buku baru, dengan melakukan kerjasama dengan beberapa penerbit, yang pada akhirnya mengantarkan beliau menjadi penerbit buku, serta memiliki toko buku social agency book, telah berdiri 17 kios di Yogyakarta. Menjadi pengusaha buku adalah mimpi, target, sekaligus kehidupan beliau sesungguhnya, seperti ucapan beliau yang begitu berkesan bagi kami, “ Universitas sejati adalah kumpulan buku-buku”.
      Ketiga, terkait dedikasi beliau untuk membawa pustaka pelajar sebagai corong dari budaya literasi Indonesia, sehingga layak disebut sebagai pemimpin sekaligus manajer yang handal lagi professional. Gagasan mulya ini tentu tidak hadir secara langsung, terlebih dari refleksi mendalam beliau mengenai substansi undang-undang dasar, dengan lafadz utama ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Penghayatan yang mendalam ini membawa beliau berfikir lebih keras lagi untuk mengembangan perusahaannya, dengan mengadopsi pemikiran Ki Hajar Dewantara terkait misi pribadi sekaligus menjadi misi penerbit pustaka pelajar secara resmi dan utuh.
*elg
Share on Google Plus

About kampusnusantara

Media yang menyajikan berita dan informasi seputar pendidikan Indonesia. Sebuah kancah pencerahan yang mencerdaskan bangsa